BAB 28 | Itu Hak Kamu!

74 5 0
                                    

Selamat datang kembali di "Kamu Milik 'Ku"
Sebelum membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian 🐾

~<<>>~

Ini adalah hari pertama saat Aza kembali ke sekolah setelah liburan yang penuh dengan berbagai hal. Gadis itu berjalan melalui lorong dan masuk ke dalam kelasnya. Seseorang juga masuk ke dalam kelas, sebuah wajah yang baru Aza lihat lagi, Rayen.

Sejak malam itu Aza memutuskan untuk tidak menghubungi Rayen atau bahkan berkabar sedikitpun. Keduanya seolah-olah saling bisu, enggan sekadar bertanya kabar. Seperti dua orang asing yang tak mepedulikan satu sama lain, namun dalam hati mereka enggan demikian.

"Aza!" Seru Aulia yang baru tiba di dalam kelas berlari menghampiri Aza.

Aza yang malas dengan pagi itu melirik Aulia yang tengah menaruh tasnya, gadis itu sekilas melihat Rayen yang pergi keluar kelas.

"Lo, masih belum ngobrol sama Rayen?" Aulia menatap sahabatnya yang berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Rayen.

Gadis dengan rambut yang kini di gerai itu mengangkat kedua bahunya. "Dianya aja gak ada usahanya."

"Ya, lo pancing lah, Za." Aulia mengeluarkan ponselnya. "Orang tipikal kayak cowok lo itu, orangnya gengsian. Jadi, setidaknya lo mulai buat bicara duluan." Lanjut Aulia.

"Harusnya dia, gak sih? Dia 'kan laki-laki, Lia. Gak ada usahanya, percuma nanti kalau gue yang mulai dianya gak berusaha buat yang terbaik." Balas Aza yang mulai kesal.

Aulia hanya menggeleng samar. "Gengsi lo sama cowok lo, sama-sama gede. Susah buat saling ngerti kalau kaliannya aja pada gengsi, salah satunya gak ada yang mau berusaha ngalah."

"Terus?" Tantang Aza.

"Se-tahu gue, dalam sebuah hubungan itu perlu komunikasi yang baik buat berjalannya hubungan langgeng. Tapi, kalau konsepnya kayak kalian berdua, dengan ke-gengsian kalian yang engga ada salah satunya mau ngalah, mana bisa ada komunikasi? Sampai kapanpun gak akan ada ujungnya." Jelas Aulia yang kali ini sedikit memberi petuah bagi Aza.

"Gue, harus ngalah? Dengan kesalahan yang dia perbuat? Come on, Lia. Dia yang mulai banyak kebohongan." Aza menggertak giginya dan menggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan.

"Terserah lo, Za. Kita udah kelas 12, lo harus udah bisa bersikap dewasa buat menanggapi hal-hal kayak gini. Kita juga harus fokus buat ujian nanti, persiapan cari kuliah, belajar yang utama, eaa ...." Aulia menutup wajahnya malu-malu. "Hari ini gue dewasa banget gak sih, Za? Haha." Lanjutnya nyengir.

Aza yang tengah frustrasi mendongak lalu memukul pelan Aulia. "Sahabat frustrasi malah di jadiin kelinci percobaan."

"Ih, siapa sangka nona? Buktinya kata-kata gue barusan terdengar lumayan estetik."

* * *

Rayen berjalan menelusuri koridor dengan berharap mendapatkan ide untuk memperbaiki keretakan hubungannya dengan Aza. Malam itu adalah malam paling bimbang baginya, antara memilih kekasihnya atau harga dirinya dan teman-temannya.

Rayen menyibak rambutnya sekilas seraya menatap dirinya dari pantulan lemari kaca. Begitu egois dirinya, sekadar meminta maaf pun tak ada untuk dia katakan pada Aza. Entah karena gengsi yang begitu besar atau rasa takut yang berkecamuk. Helaan napasnya lolos begitu saja.

"Akhirnya kita udah kelas 12, Ray!" Vero datang dengan masih menggendong tasnya. "Gak sabar gue buat lulus dan merasakan dunia perkuliahan." Merangkul Rayen.

"Ciaelah, jauh bener angan lo, baru juga hari pertama masuk udah halu aja lo." Desta memukul lengan Vero.

Desta menatap Rayen. "Eh, Ray. Lo, masih—"

Kamu Milik 'Ku [On Going] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang