Minoritas

0 0 0
                                    


Semua menjadi pertanyaan selepas perang dunia ketiga. Mereka yang selamat mati-matian bertahan hidup, mencari tahu, mencari jawaban atas pertanyaan yang berkeliaran di pikiran. Satu per satu orang mati, seperti sudah masuk waiting list, hanya menunggu waktu dan giliran. Hanya orang-orang berlabel The Gift yang mampu bertahan hidup tanpa siksaan, orang-orang seperti Anggara menjadi manusia yang beruntung karena berada di dekat kaum The Gift. Mereka yang berhasil bertahan hidup tidak punya tujuan yang jelas, tidak terkecuali kaum The Gift. Mereka pun belum mengerti kenapa mereka diciptakan, ada yang berhasil berkumpul seperti Popy, Mara dan Saka. Ada yang memilih sendiri bahkan ada yang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari kaum The Gift.

Keanehan yang terjadi menjadi bola liar yang bergemuruh di langit-langit, negara ini sudah sangat terpecah-belah, mulai dari tingkat pemerintahan hingga rakyat. Kaum-kaum minoritas menjadi tampak ciut dan kecil dihadapan kaum mayoritas yang sembrono merasa berkuasa atas tanah negeri. Emosi yang memuncak terus mengendap di dalam diri siapapun. Baru merasa dibohongi dan dipermainkan setelah semuanya terjadi, menjadi cuek dan acuh tak acuh sebelumnya. Kaum The Gift pun terus mencari kenapa mereka harus hidup berbeda, dengan kemampuan yang ada atas pemberian Sang Pencipta. Mereka seperti orang yang bingung, seperti menjadi boneka yang bisa seenaknya dimainkan.

Perjalanan menjadi satu-satunya yang bisa dilakukan, menghargai setiap lika-liku kehidupan yang ada. Tidak lagi mempertanyakan kenapa. Seperti seorang yang tidak tahu arah mau kemana, kehilangan tempat untuk pulang. Popy, Mara dan Saka hanya bagian kecil dari kaum yang tersebar di seluruh penjuru bumi. Mereka korban dari ketidakadilan yang mengakar keras tanpa suara, mengendap-endap, mengetuk tanpa permisi—mengambil yang bukan miliknya. Setiap langah kaki menjadi bentuk dari suara hati, tidak ada yang mengerti dan memahami kemana dia akan pergi. Pada akhirnya orang-orang memang tidak bisa menolak sikap penerimaan yang ditawarkan oleh tuhan. Menerima apapun yang ada, menerimanya menjadi refleksi untuk intropeksi diri. Menerima pencerahan yang datang tanpa permisi, tiba-tiba mengetuk pintu hati, membuatnya menjadi sesuatu yang dipilihkan sendiri.

Perjalanan berlanjut, menyusuri jalanan lengang, sesekali melewati deretan mobil yang berhenti tidak beraturan. Orang-orang yang panik menghadapi perang dunia ketiga, mengira bahwa itu kiamat. Semuanya tumpah-ruah di jalanan. Kemacetan terjadi dimana-mana, semuanya saling serobot menyelamatkan nyawa masing-masing. Kemanusiaan hilang, berubah jadi kebrutalan. Orang-orang saling pukul, saling jarah, saling mempunyai kepentingan masing-masing. Keegoisan muncul, ketakutan tampak di setiap muka. Manusia tanpa dosa. Nuklir membunuh mereka sekejap, tanpa ampun, tanpa basa-basi. Yang selamat dan mengalami luka-luka tetap menderita karena radiasi, kulit yang melepuh, merasakan panas yang tidak terkira. Orang-orang baru menyebut nama tuhan ketika bahaya menimpa, tiba-tiba mengingat, seolah tidak ada yang salah, seolah tidak pernah lupa.

Sesekali Anggara meminta waktu untuk istirahat. Anggara menjadi yang paling beda diantara mereka, masih bisa merasakan lelah dan kehausan. Meskipun Popy, Mara dan Saka juga masih sering berpura-pura berhenti untuk istirahat, hanya karena melihat Anggara yang tampak kelelahan akibat perjalanan jauh. Mereka terus berjalan hingga matahari tepat di atas kepala. Siang yang sangat terik. Suhu mencapai 42oC. Keringat mengucur di kening Anggara, dia terus membasuhnya dengan telapak tangan.

"Kasihan Anggara," bisik Popy.

"Mau gimana lagi, Pop," Mara menoleh, melihat Anggara yang kelelahan.

"Aku ada ide!"

"Apa?" tanya Mara.

"Kita perlu cek mobil-mobil. Barangkali ada yang masih bisa jalan."

"Good Idea!" ucap Mara.

"Yuk!" Popy bergegas mencari.

"Mau kemana?" tanya Saka.

"Cari mobil," Mara menyusul Popy.

DhanurvedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang