(34) hessa dan zizan

2 2 0
                                    

Flashback off

"dan itulah yang sebenarnya terjadi, lo di tipu oleh hessa zi, bodoh banget sih lo bisa aja di tipu sama anak sma seperti dia, dan ikatan tali dari kaki dan tangan gue itu di buka oleh hessa loh zi waktu lo sibuk ngebunuh tiga orang itu, oh iya dan ramuan ungu itu," albi menunjuk ke ramuan itu lalu mengambil sebotol ramuan tersebut, "ini bukan ramuan agar hessa tidak sadar, tapi ini ramuan agar dia kuat dan bisa ngebunuh lo," albi tersenyum miring.

Zizan mengeleng-gelengkan kepala nya seolah olah tidak percaya akan cerita yang di ceritakan albi tadi, ia tak menyangka jika hessa adalah pelaku yang sebenarnya, dan dia lakukan itu benar benar menyadari nya.

Reno, raden, bima, dian, dan rendra juga terkejut karena hessa selama ini berbohong kepada mereka, keempat temannya hessa sejak smp itu tak kalah kaget karena hessa yang ceria, dan penyayang tega berbohong kepada mereka.

"hes... kami ga nyangka lo bisa berbohong sama kami," sendu raden.

"gue kira lo anak nya jujur loh hes," rendra juga sama sedih nya dengan teman-teman nya.

Hessa menatap teman nya seperti tidak peduli, ia masih terus mencekik leher zizan dan menyodorkan pisau di wajah zizan.

Zizan ingin melepaskan cekikan itu namun hessa menjadi kuat berkat ramuan yang di berikan oleh albi.

Reno mengisyaratkan kepada empat orang itu agar menbantu zizan, keempat teman nya mengangguk kemudian mereka bersepakat untuk mengikat hessa dan albi dengan berpencar lalu dengan cepat reno, dian, rendra, berlari ke arah zizan dan hessa lalu mendorong hessa sekuat tenaga mereka, dan bima raden berlari ke arah albi lalu memegang kedua lengan albi dan mulai mengikat nya dengan tali lagi.

"INI APA APAAN," albi memberontak, tetapi bima dan raden lebih dulu mengikat kaki dan tangan albi dengan cepat.

Reno, dian, rendra juga berbuat hal yang sama dengan raden bima. setelah hessa terjatuh di lantai, rendra dan dian menindih kaki hessa dan reno pergi mengikat tangan hessa mengunakan tali, lalu pergi mengikat kaki hessa.

"LEPASIN GUE ANJING," hessa berguling guling berusaha melepaskan ikatan itu di tangan dan kaki nya, ia seperti ulat yang kepanasan.

"dihh, kek ular kepanasan," ejek rendra.
Dian dan reno hanya tertawa tipis dengan candaan rendra yang kesal.

Azizan sedikit lega karena akhirnya cekikan itu terlepas, ia memegang leher nya yang sedikit memerah, lalu zizan menatap kearah albi dan hessa yang telah di ikat, lalu kembali menatap kelima temannya, "biarin gue sama hessa di sini, kalian pergi ke atas," titah zizan, zizan ingin berbicara dengan hessa empat mata tanpa ada yang menganggu nya.

Kelima pria itu mengangguk lalu menyeret albi agar bisa ke atas meninggalnya zizan dan hessa, saat di tangga mereka kesusahan untuk menyeret albi tidak mungkin mereka akan melepaskan tali di kaki nya.

"kaliam bertiga angkat tangan nya biar gue sama raden yang angkat kaki nya," keempat pria itu menurut dengan perintah nya bima.

Mereka berlima pun berhasil keluar dari basement dan menutup pintu tersebut agar tidak menganggu hessa dan zizan.

Hessa mengangkat tubuh nya agar bisa duduk, "LO MAU APA," bentak hessa saat menyadari keenam pria itu meninggalkan mereka.

Azizan jongkok di hadapan hessa dengan wajah yang datar, "lo kenapa begini?" tanya zizan sendu.

Hessa tak menjawab, zizan pun kebingungan karena hessa tidak menjawab pertanyaan nya, "huhh," zizan membuang nafas kasar dan duduk di lantai dan menyampingi hessa yang telah menatap nya dengan tatapan tajam.

"gue sudah maafin lo, tapi kenapa lo malah ngebuat diri lo agar bisa di benci sama gue," zizan melembutkan nada bicaranya.

"gue sengaja, biar lo bisa ngebenci gue," bentak hessa.

"kenapa? kenapa lo mau di benci sama gue," hessa tak menjawab ia hanya menatap zizan dengan tatapan yang sangat tajam.

"lo mau bunuh gue? silahkan tapi gue harus bunuh abang lo dulu," hessa terkejut dengan ucapan zizan.

"tapi karena lo pastinya gaada siapa siapa lagi, gue gabakal bunuh abang lo kok, lo boleh bunuh gue sekarang," zizan melepaskan ikatan tali dari kaki dan tangan hessa.

"ini lo mau pake pistol atau pisau," zizan menyodorkan dua senjata ke hessa, hessa mengambil pistol tersebut.

Zizan tersenyum, "ayo bunuh gue," zizan melebarkan kedua tangannya.

Hessa menyodorkan pistol tersebut ke hadapan zizan ia memegang pemicu pistol itu namun ia belum juga menembak zizan, tangan hessa bergetar hebat saat memegang pemicu pistol tersebut.

"ayo tembak, lo mau dapat perusahaan gue kan, tembak," zizan melebarkan tangan nya.

"TEMBAK GUE HES," zizan mengambil tangan hessa lalu ia tempelkan muzzle pistol itu di dada nya.

Entah apa yang terjadi, hessa tidak menarik pemicu pistol itu, tangan nya bergetar hebat sangat hebat.

"lo tau ga sih hes, gue pengen banget ketemu sama keluarga gue lagi, gue pengen berkumpul lagi sama mereka, misi gue juga sudah selesai kan, gue sudah balas dendam," sendu zizan.

"TEMBAK GUE HESSA."

Dorr!!

Spontan kelima pria itu langsung memasuki basement itu karena mendengar suara tembakan, dan melihat hessa yang mengangkat tangan nya ke atas sambil memegang pistol.

Azizan marah lalu memegang kuat kedua bahu hessa, "kenapa ga lo tembak gue aja hes, gue bilang tembak gue," mata zizan berkunang kunang, air mata nya mengalir membasahi pipi nya.

"LO BILANG MAU BUNUH GUE KAN, AYO BUNUH GUE," zizan berbicara dengan nada yang tinggi, namun hessa tak ada menjawab.

"hes lo jangan nembak ke zizan hes dia itu abang lo," reno panik, karena zizan terus menerus meminta nya untuk di bunuh.

"JANGAN DENGARKAN DIA, BUNUH AJA GUE HES, HESSA," zizan berusaha membujuk hessa.

"hessa lo tau dia itu abang lo, lo pernah bilang kalau lo sudah anggap bang zizan itu abang kandung lo sendiri," bima berusaha memberitahu hessa.

"KALAU DIA ANGGAP GUE ABANG KANDUNG NYA KENAPA DIA MALAH BERBOHONG," zizan berteriak, wajah nya kini memerah.

"gue bilang bunuh gue hes, bunuh gue," suara zizan sudah melemah, ia meringkuk berusaha menahan isak nya.

#DAY30 Salmasr13


Masa lalu seorang psychopath (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang