73. Kau Buatku Jatuh Hati

333 53 8
                                    

Jefan

Dengan setengah berlari ia segera menghampiri Karina yang sedang duduk di depan gerbang SD ketika melihat Salma menyerahkan sebuah bungkusan berwarna biru. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Bagaimanapun juga, Karina tipikal gadis yang tak mudah ditebak. Terkadang bersikap manis, namun sedetik kemudian bisa berubah menjadi macan.

Ia tentu tak ingin terjadi keributan di tempat umum antara Karina dan Salma. Berlebihan memang. Tapi lebih baik mencegah bukan?

"Sal," ia sempatkan berbasa-basi sambil menelan ludah.

Tapi Salma hanya menganggukkan kepala tanpa ekspresi. Kemudian beranjak pergi memasuki halaman sekolah dengan mulut terkunci rapat-rapat.

"Nih," Karina langsung menyerahkan bungkusan berpita biru padanya. "Kado dari Salma."

Ia terpaksa menerima bungkusan tersebut seraya tersenyum pahit, "Nggak dibuka?"

Tapi Karina hanya mengangkat bahu, "Buka aja sendiri sama kamu."

Membuatnya mendudukkan diri di sebelah Karina. Sembari memperatikan kepadatan di ruas jalan. Dimana pengunjung pasar kaget masih saja banyak yang berlalu lalang meski matahari telah lebih dari sepenggalah. Kian terik karena jelang tengah hari.

Mereka berdua tetap saling berdiam diri. Ia terus saja memandangi jalanan, sementara Karina memperhatikan layar ponsel. Tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Na, duluan ya!" teriak Cing Anwar yang melewati mereka sambil mendorong gerobak berisi perlengkapan lapak milik Kak Fatma.

"Iya, Cing. Makasih banyak udah dibantuin," jawabnya seraya menganggukkan kepala.

Begitu Cing Anwar berlalu, ia pun berkata sambil mengangkat bungkusan berpita biru, "Mau dibuka sekarang?"

Tapi Karina menggelengkan kepala.

"Nggak pingin tahu isinya?" ujarnya seraya berseloroh.

Namun Karina kembali menggelengkan kepala, "Dilihat dari bentuknya juga udah ketebak lah."

"Apa?" tantangnya ingin tahu.

Kali ini Karina mendelik sambil bersungut-sungut, "Pasti buku lah. Apalagi? Mau taruhan?!"

Ia tergelak sambil menimbang-nimbang bungkusan berpita biru tersebut. Kemudian berkata, "Nggak pingin tahu buku tentang apa? Siapa tahu buku tent..."

"Enggak!" potong Karina cepat sembari melotot. "Paling juga buku-buku membosankan. Seperti yang ada di rak buku kamu!"

Ia pun menggelengkan kepala sambil terus tertawa.

"Lagian nanti di dalam pasti ada tulisan from Salma with love," cibir Karina dengan mulut mengerucut.

"Males!"

***

Karina

Sebelum pulang ke rumah, Jefan terlebih dahulu mengajaknya untuk mengelilingi pasar kaget.

"Belum pernah lihat pasar kaget kampung kan?" seloroh Jefan setelah menitipkan sepeda di halaman SD.

"Pasti beda jauh sama pa....."

"Eh!" ia buru-buru menghentikan langkah dengan menyentakkan sebelah kaki.

"Udah deh," gerutunya sebal. "Nggak usah bahas hal-hal kayak gini bisa nggak sih?!?"

"Bikin mood orang hilang aja!" sungutnya kesal.

"Iya, Rin, sori... sori....," Jefan meringis menatapnya sambil berusaha merengkuh bahunya. "Bercanda."

"Bercanda hal-hal kayak gini tuh sama sekali nggak lucu tahu!" sungutnya masih kesal. Meski tak menolak bahunya direngkuh sedemikian rupa oleh Jefan.

Senja dan Pagi | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang