33 - Promise

204 35 6
                                    

.

.

.

"Apa maksudmu Lim?" nyonya Han terduduk lemas di sofa panjang di ruang kerja puteranya. Sorot mata tuanya menampakkan ketakutan yang luar biasa ketika baru saja mendengar pengakuan dari puteranya.

Tuan Lim menghela napas panjang setelah menyesap teh herbal yang baru saja ibunya sajikan.

"Iya bu. Aku sangat yakin putera Jun Seo masih hidup."

Tuan Lim mengusap bulir keringat di pelipisnya yang keriput. Pria tua itu kembali mengingat kejadian beberapa belas tahun lalu.

"Saat kejadian itu tidak ada putera Jun Seo disana. Aku hanya berbohong pada Yuri." Tuan Lim menundukkan wajahnya. "Aku sendiri sudah memastikannya bu."

Keadaan ruang kerja tuan Lim mendadak terasa begitu pengap. Udara seolah semakin menipis karena tuan Lim maupun ibunya beberapa kali harus menarik napas panjang. Keduanya terlihat begitu frustasi ketika sebuah kekhawatiran muncul begitu saja. 

Seperti apa rupa anak itu sekarang. Apakah dia mengetahui kejadian mengerikan itu. Lalu apa yang akan di oleh seorang anak dari keluarga yang sudah dibantai habis-habisan.

Tuan Lim semakin pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.

"Apakah dia ada di kota ini juga bersama kita?" tanya nyonya Han dengan suara yang lirih. Tangan keriputnya saling meremas demi meredakan gugup dan ketakutan yang datang tiba-tiba.

"Bagaimana kalau dia menemukan kita Lim?" Nyonya Han sudah berdiri dari duduknya. Ia berjalan mondar-mandir di depan meja. "Aku seperti merasa balasan itu akan datang menghampiri kita. Lalu menghancurkan keluarga kita. Bagaimana ini!"

Sejak rahasia keluarga mereka terungkap satu per satu, tuan Lim hanya mengurung diri di dalam ruang kerjanya. Begitupun dengan sang ibu. Kenyataan jika Lya sudah mendapatkan ingatannya kembali membuat wanita tua itu terus menangis dan menyesali perbuatannya.

Harapan jika rahasia itu terkubur dalam-dalam rupanya hanya akan menjadi angan. Nyatanya selama bertahun-tahun mereka hidup bahagia, kesakitan itu justru datang perlahan menghampiri mereka.

Kenyataan jika Lya menyimpan rasa sakitnya sendiri sejak kecil sungguh melukai hati nyonya Han dan tuan Lim.

Bagaimana bisa ketika mereka menyimpan rahasia besar dari seorang puteri kecil, bersamaan itu pula puteri kecil mereka ikut menyimpan semua luka itu.

"Cari tau nama anak Jun Seo, Lim!" Pinta nyonya Han dengan gusar.

"Ibu kira apa yang aku lakukan saat aku tidak mendapati putera mereka disana? Semua data tentang keluarga Jun Seo sudah hilang tak berbekas. Tidak ada jejak satupun tentang riwayat keluarga mereka," kata tuan Lim dengan putus asa.

"Yang perlu kita lakukan adalah jangan sampai Yuri mengetahuinya. Aku tidak ingin memperpanjang daftar dosaku bu. Aku yakin jika wanita itu mengetahui bahwa ada keturunan Jun Seo yang masih hidup, dia akan memburu dan melenyap--kan--nya." Suara tuan Lim semakin mengecil pertanda hal itu adalah sesuatu yang penting.

"Jadi tolong ibu berhati-hati."

Nyonya Han mengangguk mengerti. Ia paham betul maksud dari puteranya.

Sepasang ibu dan anak itu kembali hanyut dalam pikirannya masing-masing. Pikiran yang begitu kusut seperti benang yang menggumpal.

Seharusnya setelah pernikahan Lya dan Jimin, tuan Lim kembali ke Singapura untuk melanjutkan hidupnya disana. Bersama dengan Yuri.

PARK & LEETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang