Blood School memiliki kisah yang menyeramkan namun sekolah itu tetap di bangun bahkan masih banyak murid yang bersekolah disana. Apakah kisah yang pernah terjadi di tahun sebelumnya akan terulang kembali?...
sebelum baca jangan lupa follow 😚
perin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gibran menepis tangan Noel dengan kasar "pergi jangan ikutin gue!" usirnya
"apasih gib, lo kalo ada masalah cerita jangan kayak gini" ucap Noel
"bacot!"
BUGH!!
Kesabaran Noel benar-benar sudah habis, ia menarik Gibran lalu memukul wajahnya.
"sadar woi!" teriak Noel
"Argh kepala gue sakit" Gibran berjongkok kesakitan, ia memukul kepalanya beberapa kali.
"gib maaf, gue mukulnya kekerasan ya" Noel jadi merasa bersalah.
"kepala gue sakit Noel arghh"
"tahan ya, gue cari bantuan dulu" panik Noel, dia bergegas lari untuk menjumpai buk Ningsih.
"jangan tinggalin gue.." lirih Gibran tapi Noel tak mendengarnya karena jarak antara Noel dan Gibran sudah cukup jauh.
Gibran terduduk lemas di lantai dengan kondisi kepalanya yang masih sakit, bahkan untuk berdiri saja dia tidak sanggup. Gibran melihat sekeliling sudut sekolah, ia sedikit merinding karena suasana begitu sepi dan gelap.
"ini masih jam 13:00 tapi kenapa sepi banget ya, gak mungkin murid lain udah pada pulang jam segini" batin Gibran
"Pergi atau mati"
"Pergi atau mati"
Gibran merinding sebadan-badan, dia barusan mendengar seperti ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telinganya, suara itu sangat dekat dan terdengar jelas.
"siapa lo?!" teriak Gibran mencoba membenamkan rasa ketakutannya.
"Pergi atau mati"
"apa maksudnya pergi atau mati?"
"kalian harus pergi atau kalian akan mati ditangannya seperti kami"
Gibran membelakkan matanya terkejut, dia mengucek ke-dua matanya berkali-kali, berharap apa yang di lihatnya saat ini hanyalah halusinasi. Tapi sial! saat ini dia tidak berhalusinasi, apa yang ada di hadapannya sungguh benar-benar ada.
"s-siapa k-kalian?" gugup Gibran, suhu badannya mendadak dingin.
"kami adalah korban dari kejahatannya"
"korban.." gumam Gibran
Tak berselang lama arwah-arwah yang berada dihadapan Gibran menghilang, arwah itu adalah murid yang bersekolah di Blood School, mereka korban dari kejahatan seseorang.
"woi kok pergi gue masih banyak pertanyaan" panggil Gibran tapi arwah itu sudah menghilang lebih dulu.
"siapa sebenarnya pelaku yang udah ngebunuh mereka" Gibran berpikir keras.
...
Bagas, Wain, Davin dan Leo istirahat sejenak. Mereka berempat benar-benar kelelahan mencari keberadaan teman-temannya.