Bullying

169 15 1
                                    

Ae Seol pergi ke kantin, ia mengambil nampan dan mengantri untuk mengambil makanan.

Setelah selesai, gadis itu mencari tempat kosong dan menemukannya di pojokan.

Saat berjalan, seseorang sengaja melempar susu kotak ke arahnya, membuat makanan di nampannya terkena susu begitu juga kepala dan seragamnya.

Ae Seol tahu siapa pelakunya. Ia meletakkan nampan miliknya di meja. Menatap datar pada tiga orang yang mendekatinya.

Semua orang yang ada di kantin melihat ke arah mereka berempat. Tidak ada bergerak.

"Lihat, akhirnya anak pelacur masih berani menampakkan wajahnya..."

Seperti biasa Kim Da Yeon dan dua temannya datang untuk merundungnya.

"Dimana Eomma pelacurmu ?"

"Kenapa kamu menanyakan Eomma-ku ? Oh... Jadi kamu mau datang ke makam Eomma-ku ?" Ae Seol menatap dengan dingin.

Deg ! Mereka semua yang ada di kantin terkejut.

"Gomawo, sudah menanyakan Eomma-ku. Sekarang giliranku untuk bertanya. Dimana Appa-mu ? Apa Appa-mu masih sering pergi ke Klub untuk menyewa wanita panggilan ?"

Semua orang yang ada di kantin lagi-lagi terkejut mendengarnya.

"Shibal !" Da Yeon marah.

"Wae ? Apa kamu tidak tahu Appa-mu berselingkuh dari Eomma-mu ?"

Da Yeon langsung melayangkan tinjunya dan berhasil dihindari oleh Ae Seol.

Tapi Ae Seol tidak bisa menghindari pukulan yang dilayangkan secara tiba-tiba oleh Seol Ha, hingga membuatnya mendapat pukulan di wajahnya.

"Shibal !" Ae Seol menatap. Sudut bibirnya berdarah.

Da Yeon tersenyum sinis. Memberi kode pada dua temannya. Ae Seol tahu apa yang akan terjadi. Ia langsung menyingkir, membuat Seol Ha yang menyerangnya jatuh ke lantai.

Ae Seol menangkap kepalan tangan yang siap memukulnya, lalu memelintirnya.

"Aaarrghh..." Woo Yi merintih kesakitan.

"Kamu dibayar berapa ? Hah ?" Ae Seol melepas tangannya dan mendorong Woo Yi jatuh ke lantai yang dingin.

"Shibal !" Woo Yi mengumpat, ia kesakitan.

Tiba-tiba Da Yeon menjambak rambut Ae Seol dan membenturkan kepalanya di meja. DUK ! Dibenturkan kepalanya dua kali.

Tidak hanya itu saja Da Yeon juga membanting tubuh Ae Seol ke lantai. Membuat gadis bermarga No, meringis kesakitan.

Semua orang panik kala melihat Da Yeon menendang punggung dan perut Ae Seol dengan kakinya yang mengenakan sepatu.

Beberapa teman sekelas Ae Seol yang juga berada di kantin segera menyelamatkan Ae Seol dari perundungan. Yoo Jung segera berlari untuk memanggil Bu Park.

Ae Seol terlihat babak belur, dibantu berdiri oleh Na Ra dan So Yeon. Sedangkan Da Yeon ditahan oleh teman-temannya yang lain.

Ae Seol menatap Da Yeon dengan tatapan dingin. "Tanyakan pada Appa-mu ! Atau kau bisa datang ke Klub itu dengan Eomma-mu !"

"Sialan kau !" Da Yeon marah.

"Mwo ! Shibal ! Aku sudah menahan diri saat kamu menghina Eomma-ku. Tapi kau marah aku menghina Appa-mu tukang selingkuh..."

"Apa uang saku dari Appa-mu masih kurang ! Hah ? Kau selalu mengambil uang sakuku !"

"Lepaskan aku !" Da Yeon berontak, tapi teman-temannya tidak melepasnya.

"Tidak bisakah kau membiarkan aku TENANG di sekolah !!!" Ae Seol berteriak keras.

Na Ra dan So Yeon saling berpandangan. Keduanya masih memegangi Ae Seol.

Da Yeon menatap Ae Seol dengan tatapan benci. "Kuharap kau mati ! Kuharap Bola Ungu jatuh mengenaimu, Shibal !"

"Oke ! Sepulang sekolah, kajja kita berantem lagi ! Ayo hina Eomma-ku sampai kamu puas !" Ae Seol menatap.

Da Yeon berontak tapi teman-temannya tidak melepasnya.

"Kau tidak merasa kasihan pada Nenekku ? Jika aku mati, siapa yang akan menjaganya ? Apa kamu mau ? Kamu sendiri tidak pernah menjenguk Nenekmu di Panti Jompo..." Ae Seol menatap.

Da Yeon mengepalkan tangannya.

"Asal kau tahu Nenekmu sama Nenekku berteman. Lucu sekali cucu mereka justru saling baku hantam. Oh... Benar juga... Aku lebih dekat dengan Nenekmu dan I know your secret. Mau aku bongkar rahasiamu di sini ?"

"Shibal ! Kau menggertak !" Da Yeon menatap dengan marah.

"When you were twelve years old—"

"SHUT UP !"

Ae Seol tersenyum sinis. "Wae ? Kamu takut ?"

"Jika kamu tidak ingin rahasiamu terbongkar. Just shut up and leave me alone..."

"Shibal !" Da Yeon geram.

"Apa yang terjadi di sini !"

Mereka melihat beberapa guru datang. Bu Park melihat keponakannya babak belur. Ia segera mendekatinya.

"Ae Seol-ah..." Bu Park menatap luka-luka Ae Seol. Lalu beralih pada Da Yeon.

"Kamu lagi. Selalu mencari masalah..." Ia memarahi Da Yeon. "Kamu dan dua temanmu pergi ke ruang guru..."

Bu Park menatap keponakannya. "Pergilah ke UKS. Obati lukamu. Yeon Joo, tolong..."

"Nde..." Yeon Joo menatap.

"Ini tidak adil ! No Ae Seol yang memulai—"

Ae Seol menatap Da Yeon. "Hey ! Are you stupid ? Ada CCTV yang merekam semuanya. Ditambah lagi banyak saksi mata yang melihatmu. Atau kamu mau menyuap mereka ? Hey Kim Da Yeon ! Kau dan aku tidak ada bedanya. Appa-mu brengsek... Appa-ku juga brengsek..."

"Eomma-ku meninggal karena ditabrak oleh pria bajingan. Aku bertanya-tanya dari mana kamu mendengar rumor palsu itu ? Kamu menghina Eomma-ku pelacur. Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik..."

"Bukankah begitu, Bu Park ?"

Bu Park menatap Ae Seol. "Ya, itu benar. Kamu bisa melakukannya..."

Da Yeon terdiam. Ia panik.

⋆D⋆U⋆T⋆Y ⋆A⋆F⋆T⋆E⋆R ⋆S⋆C⋆H⋆O⋆O⋆L

Duty After School : Save Friends [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang