109. Love at The First Sight

414 59 4
                                    

Karina

Sejak awal ia bahkan tak mampu mengalihkan pandangan barang sedetik pun. Pada sosok mungil berkulit merah berambut lebat yang kini sedang telungkup di atas perutnya. Tengah di adzani dengan penuh kelembutan oleh Jefan.

Love at the first sight.

Tubuh mungil yang teramat halus namun rapuh itu terasa hangat tatkala menyentuh permukaan kulitnya. Menghantarkan panas yang menjalar hingga seluruh tubuhnya membuncah sebab rasa bahagia tak terperi.

Pun bobot tubuh mungil yang bertumpu di atas perutnya itu telah berhasil membuat mata kembali basah. Sekaligus mematik ribuan rasa tak terhingga yang menyesakkan dada.

"Pakai topi ya cakep, biar nggak dingin," seloroh Bidan Karunia seraya meletakkan topi rajut bayi berwarna putih untuk menutupi rambut lebat itu.

"Topinya keren banget lho," seloroh Bidan Karunia lagi. "Unik."

"Nenek yang buat," bisiknya sambil tersenyum.

Mamak yang kini telah berdiri di samping kirinya pun ikut tersenyum. Sambil sesekali membelai rambutnya.

"Dedenya bisa sambil dipegangi ya, biar nggak jatuh," ujar Bidan Karunia lagi.

Membuatnya memberanikan diri untuk mendekap sosok mungil yang masih saja menangis kencang hingga lengkingannya terdengar memekakkan telinga.

"Nggak apa-apa nangis, biar sehat," ujar Bidan Karunia lagi seolah mengerti isi hatinya.

"Nanti kalau sudah merasa nyaman, dedenya akan diam sendiri. Mulai mencari sumber kehidupan," pungkas Bidan Karunia.

Dengan tangan gemetaran ia terus mendekap sosok mungil itu. Sementara air mata tak berhenti meleleh membasahi pipi.

Ketika ia masih belum mampu menguasai diri, sebuah telapak tangan lain ikut membelai tubuh mungil nan rapuh di atas perutnya. Sontak membuatnya beralih memandang si pemilik tangan.

Tik! Tik! Tik!

Waktu seakan berhenti saat mata berlinangnya bersitatap dengan mata memerah Jefan. Saling bertautan seolah mereka tengah meluapkan kelegaan hati masing-masing.

Namun ketika masih saling menatap, Jefan perlahan mulai mendekatkan wajah. Kemudian mencium keningnya lembut. Lebih dalam dan lama dibanding yang Jefan lakukan beberapa saat lalu. Sembari berbisik lirih,

"Terima kasih, sayang."

Bisikan sederhana yang mampu merekahkan senyum penuh kebahagaiaan.

Tangannya bahkan refleks mengusap pipi Jefan yang masih menundukkan kepala. Karena kini sedang berusaha mencium pipinya.

"Mama terhebat."

Dan bisikan kedua berhasil memancingnya untuk meremas rambut Jefan dengan penuh cinta.

Kini sosok mungil berkulit merah berambut lebat yang telungkup di atas perutnya tak lagi menangis kencang. Mulai bergerak dengan menendang, menggerakkan kaki, bahu, juga lengan.

Sosok mungil itu terus bergerak membentur-benturkan kepala ke atas dadanya. Sambil membuka mulut kecilnya seolah sedang mencari sesuatu.

"Nah, kan... sudah mulai pintar," ujar Bidan Karunia sambil membereskan peralatan.

"Go get it, boy," bisik Jefan yang kini telah duduk di sebuah kursi yang tersimpan tepat di samping tempat tidurnya.

Sembari meletakkan dagu di atas bantal. Hingga hembusan hangat napas Jefan terasa meniup-niup pipinya lembut.

Senja dan Pagi | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang