Flashback
Setyo Yuwono
Sejak saat itu, setiap Maghrib tiba, ia akan datang ke surau yang terletak tak jauh dari kantor Polsek. Untuk mengikuti sholat Maghrib berjama'ah. Setelah itu, barulah ia mulai belajar membaca Al Qur'an.
"A I U BA!"
"UU AN ANI A' NA!"
"MINAL MUNI!"
"MAII AN ANIAA!"
Begitu ia harus mengikuti dan mengulang-ulang apa yang diucapkan oleh Hamzah dengan suara lantang.
"Apa memang begini cara belajar membaca Al Qur'an?" tanyanya masygul.
Selain merasa malu telah menjadi perhatian banyak orang yang berdiam di surau untuk menunggu waktu Isya tiba. Juga karena beberapa anak kecil yang melihat dirinya, akan saling berbisik sambil menahan tawa.
"Kita sedang belajar materi pertama. Yaitu makharijul huruf," jawab Hamzah dengan wajah serius.
"Bagaimana mengucapkan huruf alif, hamzah, fathah, kasroh, dhommah, dan dengung."
"Sengaja dibuat dengan ketukan agar tepat, mana panjang dan pendeknya."
Ia hanya menghela napas panjang, "Tapi bisa kah kau mengajariku di tempat yang lebih sunyi?"
"Bukan surau yang ramai dikunjungi orang," sungutnya sedikit kesal.
Lebih karena merasa malu. Sudah setua ini baru belajar membaca Al Qur'an. Kalah dengan sekumpulan anak-anak kecil yang bahkan sudah menghapal Al Qur'an.
"Minimal kau mengajariku tak sambil berteriak-teriak seperti orang sedang menjajakan dagangan!" pungkasnya dengan wajah memerah menahan malu.
Hamzah tersenyum mendengar kejengkelannya. Kemudian berucap pelan, "Jika kita merasa kesulitan saat belajar membaca Al Qur'an."
"Mungkin karena merasa lelah, salah terus dalam pengucapan, lalu kita menjadi putus asa."
"Maka Allah hibur dengan Qur'an surat Al Insyiqaq ayat 8."
"A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim."
"Fa saufa yuḥāsabu ḥisābay yasīrā."
"Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah."
Ia membuang napas panjang mendengar ceramah dadakan Hamzah yang terdengar semakin menyebalkan.
"Belajar ilmu agama itu tidak mudah dan sering membosankan."
"Tapi ingatlah, jangan-jangan saat kita merasa sedih dan putus asa, saat inilah yang akan meringankan kita di hari pertimbangan kelak."
"Seperti arti dari surat Al Insyiqaq ayat 8 tadi."
Kini hatinya mendadak tercekat mendengar penuturan Hamzah.
"Jangan pernah berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah."
Hamzah kembali tersenyum, "Usai menikah, biar aku saja yang datang ke asrama."
Ia mengangguk setuju.
"Tapi kau harus tetap ikut sholat berjama'ah di surau," sambung Hamzah memberikan syarat.
Dan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Yaitu hari pernikahan Hamzah.
Ia mendapat jatah duduk di barisan kedua. Setelah para tetua dan deretan pejabat yang juga turut diundang Hamzah untuk hadir di acara pernikahannya.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq."
Begitu Hamzah mengumandangkan lafal kabul menggunakan bahasa Arab dengan suara lantang dalam satu tarikan napas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Senja dan Pagi | Na Jaemin
Любовные романыSometimes someone comes into your life so unexpectedly, takes your heart by surprise.