Karina
"Karina? Lagi ngapain?"
Ia sontak menoleh ke arah suara. Dan langsung tersenyum senang begitu mendapati Salma. Tengah berdiri dengan kening mengernyit. Melihat ke arahnya dan Erzal secara bergantian.
"Bisa sampai di sini?" Salma masih mengernyit seraya mengambil duduk di sebelahnya.
"Lagi ngerjain tugas interview buat OKKJ," jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Nginterview Erzal?" Salma balas tersenyum.
Ia mengangguk.
"Kalian berdua... udah saling kenal?" Erzal balik memandanginya dan Salma dengan kening berkerut. Seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kenal dong," seloroh Salma sembari setengah merangkul bahunya. "Siapa sih yang nggak kenal sama Karina."
"Ish," ia mendecak tak setuju. "Berlebihan ah."
"Iya... aku tahu," sahut Erzal cepat. "She caught my eye too."
"Tapi... kita kayak pernah ketemu di suatu tempat nggak sih?" lanjut Erzal lagi.
"Mas Erzal kan udah bilang waktu regis kemarin?" ia justru balik bertanya. Meski benar-benar tak ingat, sebelumnya pernah bertemu dengan Erzal di mana.
"Bukan... bukan...," Erzal menggeleng. "Sebelum itu."
"Hmm...," Salma tertawa sumbang. "Kita kan emang udah pernah ketemu sebelumnya."
"Di?" cecar Erzal penasaran.
"Pasar kaget hari Minggu pagi," Salma mengangkat alis. "Waktu kamu lagi kegiatan pengmas (pengabdian masyarakat)."
"Oh...," Erzal menganggukkan kepala berkali-kali sambil tertawa. "I see... I see...."
"Kalian berdua udah aku kenalin kok waktu itu," terang Salma sambil memandang Erzal yang terus tertawa.
"Iya... iya... aku ingat sekarang," Erzal masih tertawa. "Kamu yang jualan nasi gurih bukan?"
"Bukan Karina yang jualan," sergah Salma tak setuju.
"Kak Fatma yang punya lapak. Karina cuma ikut bantuin doang."
"Whatever... whatever...," Erzal tersenyum. "Yang pasti nasi gurihnya enak banget. Masih kebayang rasanya sampai sekarang. Top markotop."
"Iya lah," Salma mencibir. "Udah terkenal di seantero Kecamatan kalau nasi gurih Mak Nana tuh rasanya paling endes."
Sementara ia masih terus mengernyit. Sembari saling berpandangan dengan Dipa. Yang hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala tak mengerti.
"Aku ganggu dong," kini Salma memasang wajah menyesal.
"Enggak," ia buru-buru menggeleng. "Enggak ganggu kok, Sal."
"Ini masih nyusun script. Take nya nanti kalau script udah beres. Dan di acc sama Mas Erzal," selorohnya.
"Langsung aku acc semuanyaaa," jawab Erzal tersenyum simpul.
Namun ia hanya tertawa bingung melihat keantusiasan Erzal.
Sementara Salma tersenyum mengangguk. Lalu menepuk bahunya pelan, "Lancar interviewnya, Karina."
"Aku ke sekre dulu."
"Lho," keningnya mengernyit. "Nggak makan dulu?"
"Udahan," Salma tertawa. "Barusan lagi jalan mau ke sekre... eh, lihat kamu ada di sini. Jadi nyamperin dulu."

KAMU SEDANG MEMBACA
Senja dan Pagi | Na Jaemin
RomantizmSometimes someone comes into your life so unexpectedly, takes your heart by surprise.