177. Time After Time (2)

244 34 5
                                    

Karina

Petang ini Dipa datang ke rumah sambil membawa seloyang Apple pie yang masih menguapkan uap panas karena baru matang.

"Ceu Rita rajin baking lagi, Dip?" seloroh Mama saat menerima loyang berisi Apple pie yang menguarkan aroma kelezatan dari tangan Dipa.

"Iya, Tante," Dipa tertawa. "Daripada gabut di rumah."

Mama tersenyum lebar seraya menggelengkan kepala, "Makasih ya, Dipa."

"Sama-sama, Tante."

"Hai, cowok," kini Dipa beralih mendekatinya yang sedang bermain-main dengan Aran di atas sofa.

"Makin gede aja anak lo, Rin."

"Iyalah," ia mencibir. "Orang tiap hari dikasih makan."

Dipa tertawa.

Lalu jongkok di hadapannya. Berusaha mengajak bicara Aran yang sudah pintar mengoceh.

"Eh, bokap lo belum balik?" seloroh Dipa pada Aran namun sambil mengerling ke arahnya.

"Kaciaaaan," Dipa mencubit pipi tomat Aran.

"Lupa pulang dia," sambung Dipa lagi. "Keasyikan di Bandung."

"Banyak cewek cakep lagi di sana. Awas, hati-hati bokap lo meleng."

"Jangan sampai buka cabang."

"Ntar lupa jalan pulang lagi."

Ia menggeleng sekaligus tertawa, "Ih, dasar."

"Ngomong sama bayi tuh yang bener," cibirnya karena Dipa justru tertawa senang.

"Ma ma ma ma," celoteh Aran seolah sedang menjawab pertanyaan Dipa.

"Bu bu bu buuubbb," Aran masih berceloteh sambil menyembur-nyemburkan ludah.

"Lo harus banyak makan, biar jadi anak yang kuat. Mesti siap jadi pengawal bunda," kini Dipa mengarahkan tangan Aran agar bisa ber high five.

"Bunda lo banyak yang ngecengin soalnya," Dipa tersenyum puas karena Aran bisa diajak ber high five.

"Ish!" ia kembali mencibir karena Dipa semakin menjadi. "Racun banget ngomong sama bayi begini."

"Ya ya ya ya... ta ta ta tttaaaa...," namun Aran justru terus berceloteh. Seolah sedang menanggapi ucapan Dipa dengan serius.

Dan ini membuat Dipa tergelak.

Dipa kembali mengajak bicara Aran tentang hal tak penting lainnya. Yang disambut oleh Aran dengan celotehan penuh suka cita.

"Ma... mam... mam.... mammmm."

"Bu bu ta ta tttaaaa...."

Sementara ia iseng menggonta-ganti chanel televisi.

Lama kelamaan Dipa bosan disembur ludah terus menerus oleh Aran. Memilih bangkit seraya mengusap kepala Aran, "Anak pintar."

Ia masih menggonta-ganti chanel televisi. Ketika Dipa berkata,

"Eh... Rin. Bisa ngobrol sebentar nggak?"

"Ngobrol aja," jawabnya cuek. Sambil menjatuhkan pilihan pada chanel yang sedang menayangkan prime time news.

"Jadi gini....," Dipa mulai bercerita.

Namun sepanjang Dipa berbicara, ia benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Sorry, Dip.

"Tuh kan, lo malah ngetawain gue," Dipa memandangnya kesal.

"Sori... sori...," ia mengangkat tangan tanda meminta maaf, tapi sambil terus tertawa.

"Gimana menurut lo?"

"Lho, kok menurut gue sih?" ia masih tertawa. "Kan elo yang mau ngejalanin."

Dipa mendecak, "Have no idea."

"Usaha dong," ia mencibir.

"She's too hard to get," Dipa menggelengkan kepala.

"Cewek tuh bakalan luluh kalau tahu ada cowok yang berusaha keras untuk meraih hatinya."

Dipa nyengir, "Pengalaman pribadi nih?"

Ia hanya memutar bola mata.

"Dia nggak punya kakak cowok yang suka main hantam kan?"

Dipa menggeleng.

"Atau rival yang hobinya main pukul?"

Dipa tertawa sumbang, "Kayak jaman batu aja, Rin. Gaet cewek pakai adu fisik."

"Ih!" ia mencibir. "Traditional way masih berlaku tahu."

Dipa melemparkan punggung ke sandaran sofa dengan wajah malas. "So?"

Ia pun menjawab dengan sederet daftar do's and don'ts tentang bagaimana menaklukkan hati seorang gadis.

Tapi Dipa sama sekali tak memperhatikannya. Sebab sedang serius memperhatikan layar televisi. Dimana news anchor tengah membacakan prime time news.

"Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan, menangkap dua alumni dan satu mahasiswa aktif Kampus Jakun, yang menjadi pemakai sekaligus bandar narkoba jenis ganja pada hari Kamis lalu."

"Menurut Kasatserse narkoba Polda Metro, ketiganya ditangkap di sebuah apartemen yang terletak di bilangan Depok."

"Penggrebekan ini diwarnai kericuhan yang menarik perhatian. Karena para pelaku sempat melawan dan berusaha untuk melarikan diri."

"Menurut berita yang santer beredar di sosial media, satu dari tiga pelaku tersebut diduga anak dari mantan seorang pejabat tinggi."

"Tiga pelaku sudah berhasil kami amankan," begitu kata seorang berseragam lengkap yang diwawancarai oleh presenter televisi.

"Terdiri atas dua orang pria dan satu orang wanita."

"Apakah benar, berita yang sempat menjadi trending topic di sosial media. Jika salah satu dari ketiga pelaku adalah putra seorang mantan pejabat tinggi?" tanya presenter tanpa tedeng aling-aling.

"Pemeriksaan masih terus berlanjut. Nanti kita tunggu perkembangannya," jawab narasumber menutup sesi interview secara sepihak.

Kini layar kembali menayangkan news anchor. Yang menyebutkan identitas para tersangka, "Ketiga tersangka berinisial AHR, CR dan GGM."

"My God," gumam Dipa yang terlihat shock.

"Lo kenal sama mereka?" tanyanya curiga.

Tapi Dipa tak menghiraukan keingintahuannya. Tetap terpaku memperhatikan layar televisi. Yang kini telah beralih menayangkan gambar para tersangka.

*******

Senja dan Pagi | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang