Tandai kalau typo!
Selamat membaca 📖
.
.
.
•••
Fazlan masuk kedalam kamarnya, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelahnya berdiri di depan cermin, tubuh barunya sedikit tinggi, terawat dengan baik.
Otot perutnya sudah berbentuk. Masih SMA, tapi sudah memiliki tubuh sebagus ini.
"Leher, sebelah kiri. "
Suara Arlan terdengar datar, Fazlan mengikuti arahan itu dengan penasaran. Tangannya lantas bergerak, menyentuh tattoo itu. "Dia masih terlalu kecil untuk memiliki tattoo seperti ini. " Fazlan memperhatikan gambar di lehernya itu dengan lekat.
"Tidak sadar? "
Sindiran dari Arlan disambut dengusan kecil dari Fazlan. "Sangat sadar. Tapi dia masih terlalu kecil! " ketus Fazlan. Hilang wibawanya sebagai 'tuan muda' jika bersama Arlan.
"Dia tidak kecil, kau saja yang terlalu obsesi pada tattoo diusia muda. Gambarnya pun masih waras, bukan seperti kau yang gila. "
Fazlan mendengus lagi. "Kenapa cerewet sekali sekarang? "
"Tidak tahu. "
"Kau-"
Hening, Fazlan kira Arlan akan membalasnya lagi, tapi ternyata tidak.
Fazlan mengedik acuh, dan memilih tiduran. Tubuhnya terasa remuk dan lelah. Padahal dia cuma duduk dan makan saja, tapi bagaimana bisa se-tersiksa ini?
•••
Lalu pagi harinya, Fazlan sudah rapi dengan seragam sekolah yang melekat apik di badannya. Ia akan hadir di sekolah, mengingat pemilik tubuh sebelumnya sudah absen beberapa bulan.
"Malas sekali, " Fazlan tidak bersemangat, ia benar-benar malas untuk bersekolah lagi.
Jika itu sebagai mahasiswa kampus, mungkin Fazlan akan bersemangat sedikit. Tapi ini SMA, rasa semangatnya hilang total.
Sejenak dirinya terdiam saat melihat lamat iris mata Fazlan di cermin. "Heterorchromia rupanya. " gumamnya.
Iris mata pemilik tubuh sebelumnya berwarna hijau murni, walaupun sangat tidak kentara. Namun Fazlan bisa melihatnya.
*Heterorchromia, adalah seseorang yang memiliki kelainan langka seperti warna mata yang satu berbeda dengan yang lain.
"Tapi selain anak ini, tidak ada diantara mereka yang memiliki kelainan sama persis. "
"Bisa saja buyutnya. " suara Arlan masih sama dengan tadi malam, datar.
Fazlan menjadi bingung karena suasana hati Arlan. "Kenapa marah sih? Jangan bilang hanya karena saya tidak mengizinkan untuk membunuh Antonio? " Fazlan menebak dengan tepat, dan mungkin benar, terbukti dari Arlan yang mendiami nya.
"Sabar sedikit Arlan, kita disini masih baru... Jika sudah tiba waktunya, kau akan kena bagian. "
Masih sama, nyatanya Arlan tidak terhasut atas bujukan Fazlan. Fazlan sekali lagi menghembuskan nafasnya namun sedikit kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]
Fiksi Remaja[ERA BROMANCE AND BROTHERSHIP! NOT BL/HOMO!!] Bagaimana jadinya jika pemuda Office Boy ber-transmigrasi kedalam novel dan menempati raga seorang remaja SMA yang berperan sebagai antagonis? ••• 📍Cerita hasil otak yang gabut mikir. 📍No plagiat! 📍...
![𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]](https://img.wattpad.com/cover/373851541-64-k493255.jpg)