Tandai kalau typo!
Selamat membaca 📖 🌻
.
.
.
••••
Ketika lonceng sekolah dibunyikan, materi pelajaran pun diakhiri dengan tugas dari guru, para siswa keluar kelas dan pulang bersama.
Sedang Fazlan sendiri, pemuda itu tidak langsung pulang ke mansion, tapi duduk sebentar di pinggiran jembatan-penghubung dua kota yang terpisah.
Jembatan itu masih dilalu-lalangi oleh kendaraan beroda. Ada yang hanya melihat, ada pula yang meminta Fazlan untuk tidak bertindak gegabah.
Selang satu jam berdiam tidak berguna disana, dimana langit sudah gelap dan jembatan pun sepi-Fazlan tetap duduk disana, menatap kedepan.
"Kau mau loncat? "
Fazlan mendecih pelan mendengarnya. "Tidak dulu, saya masih waras untuk mati di dunia sialan ini. " Fazlan menjawab dengan kesal, disambut kekehan kecil dari Arlan.
"Oh... Kukira kau mau meloncat dari jembatan ini, lalu bangkit lagi. "
Alis Fazlan menukik tajam, bingung tapi juga kesal dengan perkataan Arkan-yang mungkin wajahnya sedang menyeringai puas. "Bangkit apanya? Kau pikir ini alam kematian yang bisa bangkit lagi? " sungguh, Fazlan sangat kesal.
"Tidak ada yang tahu, bukan? " Arlan membalas santai. "Lagipula, tubuh ini tidak akan mati semudah itu. " lanjutnya, membuat Fazlan penasaran.
"Sebab apa tubuh ini tidak mudah mati? " Fazlan bertanya dengan alis tajamnya yang naik sebelah.
"Karena ada dua jiwa monster. "
Jawaban itu cukup menjengkelkan. Apa maksudnya? "Siapa yang kau maksud monster? " tanpa diduga tangan Fazlan mengepal, sungguh mengesalkan.
"Kau bertanya siapa monster yang aku maksud? Serius?! "
Arlan sangat berisik, kepala Fazlan sampai sakit karena suaranya. Heboh sekali, pikir Fazlan.
"Apa susahnya langsung memberi jawaban? "
"Okelah aku beritahu, dua jiwa monster itu adalah aku dan juga kau. " beritahu Arlan dengan bangganya.
"Kenapa seperti itu? "
"Eh, masa kau tidak sadar? Sikapmu itu sudah seperti monster ketika menangani musuh keluarga-"
"Beda sialan. " Fazlan menyangkal perkataan Arlan tentang kegilaan nya dulu, bagaimana dirinya sudah benar-benar menjadi monster-hanya ketika berhadapan dengan orang yang memusuhi Gyanendra.
"Hm, tidak beda Fals, itu sama. Kau sudah semirip itu dengan monster jahat di film, sedangkan aku adalah pengawal mu! " lagi Arlan membanggakan diri.
Fazlan menghela nafas. "Apa kau juga tidak sadar kalau kau itu monster? Bahkan lebih monster kau daripada aku. " sangkal Fazlan sambil membuang muka ke arah lain, seolah-olah Arlan ada di sebelahnya—menatap dengan ekspresi menjengkelkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]
Teen Fiction[ERA BROMANCE AND BROTHERSHIP! NOT BL/HOMO!!] Bagaimana jadinya jika pemuda Office Boy ber-transmigrasi kedalam novel dan menempati raga seorang remaja SMA yang berperan sebagai antagonis? ••• 📍Cerita hasil otak yang gabut mikir. 📍No plagiat! 📍...
![𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]](https://img.wattpad.com/cover/373851541-64-k493255.jpg)