Halo, para pembaca yang budiman. Berjumpa lagi dengan aku Alex. Apa kabarnya? Kira-kira kalian ada yang tersinggung nggak habis aku maki-maki di chapter awal kemarin?
Jangan khawatir, karena ke depannya aku akan makin sering memaki-maki kalian kok. HAHAHA! Kalau kebanyakan ketawa gini aku jadi lebih mirip Joker daripada Deadpool yak. Tapi nggak apa, Joker juga keren.
Kalian tahu nggak setiap komen kalian di dibaca sama Mami aku walaupun dia nggak sempat membalas. Dia sering mikir gini. "Kenapa ya pembaca ini nggak mau beli ceritaku di Karyakarsa? Apa kemalahan ya? Aku kasih diskon voucher 10k deh."
NO! Mami cerita berkualitas Mama ini sama sekali nggak mahal. Cuman mereka aja yang KERE! Masak duit 2k aja nggak punya sih? Aku tahu mereka biasanya bayar parkir di Mie Gacoan dengan harga yang sama kok.
Sakit hati nggak kalian dikatain KERE? Wahai para pembaca budiman calon ahli surga, aku kasih tahu ya. Ibadah itu ada habluminallah dan habluminannas. Kalau kalian punya dosa sama Allah itu gampang. Kalian tinggal beristighfar aja. Allah itu maha pengasih dan penyayang. Kalian pasti diampuni kecuali dosa syirik ya.
Tapi habluminannas itu susah. Kalau kalian mengetik sesuai di komen wattpad ini lalu dibaca oleh penulisnya, kemudian dia menjadi sedih dan sakit hati bagaimana? Sudahkah kalian minta maaf? Buka surah Al Fatihah ayat empat. Apa kalian tahu artinya? Kebacut kalau nggak tahu karena tiap hari dibaca pas sholat. Allah pemilik hari pembalasan. Beranikah kalian mempertanggungjawabkan komen-komen kalian di akhirat kelak? Pikirkanlah baik-baik.
Kalau kalian nggak beli karena nggak punya uang, atau ada prioritas kebutuhan lain nggak apa kok. Tapi nggak usah komen jelek-jelek gitu biar Mamiku nggak over thinking. Oke?
Jadi kemarin sampai dari mana ya? Oh ya, aku lagi ngobrol sama Si Rendi Bar. Dia curhat bilangnya nggak punya waktu buat istri dan anaknya. Sampai nggak tahu kalau istrinya selingkuh sama adik ipar sendiri.
Aku senyum aja pas si Rendi bilang begitu. Kalau aku nilai si Rendi ini tipe pasienku yang ketiga, jadi aku cuman mau tanya aja.
"Kenapa kamu merasa nggak punya waktu? Waktu kan banyak 24 jam sehari buat semua orang. Emang kamu kira aku dikasih waktu 48 jam sehari?"
"Tapi kamu kan nggak ngerasain rasanya jadi aku. Aku harus operasi. Sekali operasi kadang bisa 4 jam. Pasienku banyak daftar tunggu operasi nggak berhenti-berhenti. Belum lagi penelitianku," kata si Rendi.
"Iya sih ya, kamu sibuk banget, apa mau pindah aja jadi dokter jiwa biar santuy kayak aku? Aku sehari cuman 10-15 pasien paling banyak. Sesi konsultasi juga nggak lama karena udah dianamnesa sama perawatku dulu," kataku sambil mengaduk-aduk es batu.
"Ya, nggak mungkinlah ganti profesi. Udah kadung nyemplung gini," desah Rendi Frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya yang kusut sama seperti pikirannya.
"Dari 24 jam itu, berapa jam waktumu untuk beribadah dan mengingat Allah?"
Rendi mendadak diam kayak orang kaku. Aku menyodorkan buku dzikir pagi dan petang dan menunjukkan halaman pertamanya yang berisi ayat Kursi.
"Baca nih," titahku.
Rendi melongo. "Nggak cocok sama penampilanmu dan situasinya begini di Bar. Kok malah kamu bawa beginian. Apa kamu pikir aku lagi kerasukan jin?"
"Iya," jawabku asal.
Rendi wajahnya jadi ngeri sendiri. Akhirnya dibacalah kalimat Allah itu dengan lancar. Aku santai saja sambil meminum whisky. Ketahuilah para pembaca yang budiman, Ayat Kursi ini surat yang dahsyat luar biasa. Kalau kalian membacanya efeknya lebih hebat ketimbang kalian beli Alprazolam. Banyak dari para pasienku yang tenang hanya karena membaca ayat ini.
"Apa yang kamu rasakan setelah membacanya?" tanyaku.
"Nggak ada apa-apa sih," jawab Rendi ragu-ragu.
"CK! Aku udah beneran baca apa belum sih!"
"Emang kamu nggak denger tadi? Aku merasa kayak orang aneh baca ayat kursi di tempat maksiat begini!"
CK! Kesel juga aku. Aku kira Rendi ini pasienku yang tipe 3. Ternyata dia tipe 1. BEGO! Ya udah deh, aku jelasin pelan-pelan.
"Baca artinya yang ini!" tunjukku.
"Allah tidak ada yang berhak disembah selain Dia yang Mahahidup lagi Mahakekal, dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi."
"STOP!" potongku.
Dahi Rendi masih berkerut. Tapi dia menurutku dan berhenti membaca.
"Semua yang ada di langit dan di bumi itu makhluk Allah. Waktu itu menurutmu makhluk Allah bukan? Mungkin saja dia marah karena kamu tidak jarang menggunakannya untuk mengingat Tuhanmu."
Rendi mengangguk dan mengiyakan. Kemudian dia menunduk dan menangis tiba-tiba. "Kamu benar," isaknya. "Aku terlalu lama melupakan Allah."
Aku menepuk-nepuk bahunya. "Allah masih sayang sama kamu karena kamu diingatkan. Masa kamu mau melakukan perbuatan halal yang paling dibenci Allah? Pikirkanlah baik-baik. Kamu itu cuman kurang piknik. Sana jalan-jalan ke tanah suci sama istrimu."
Rendi mengusap air matanya. "Makasih ya, Lex." senyumnya. Kelihatannya udah tampak lega.
"Makasih doang? Mana bayaran buat konsultasinya?" todongku.
Rendi berbicara pada si Bartender. "Dia mau pesen apa pun, tagihannya kirim ke aku ya."
Asyik! Bisa minum-minum sampai mabuk nih gue.
"Lex, makasih banyak. Aku pulang dulu," ucapnya.
"Oke! Seruku sambil melambaikan tangan. Setelah satu pasienku itu pergi. Aku memandang sekeliling untuk mencari mangsa. Bar ini memang tempat berbuat maksiat. Di sini sebenarnya banyak banget orang-orang yang stres dan ingin lari dari masalah dan butuh hiburan. Makanya aku suka nongkrong di sini. Banyak pasien-pasien yang potensial. HAHAHA!
Udah segitu aja dulu chapter hari ini. Bagaimana? Apa kalian sudah mulai jatuh cinta padaku? Jangan lupa beli chapter Mamiku di Karyakarsa mulai dari 2K aja ya...
Don't really want to make it tough
I just want to tell you that I've had enough
It might sound crazy but it ain't no lie
Bye bye...

KAMU SEDANG MEMBACA
Terpaksa Menikahi Dokter 2 (END)
RomanceKehidupan setelah pernikahan ternyata tidak mudah. Tidak seindah di novel-novel romance. Apakah happly ever after itu ada?