4. Cerai

1.3K 48 9
                                    

Halo guys, bertemu lagi dengan aku Alex di sini! Kalian kangen nggak sama aku? Pasti mulai jatuh cinta sama aku kan? Ya kan? Ngaku! Kalau nggak nggak mungkin kalian lanjut sampai bab 3 ini. HAHAHA!

Kalian mungkin masih bingung dengan karakterku? Jadi akan aku beritahu lagi. Dari 7 dosa besar kalau di Al Kitab itu ada kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemarahan. Tapi kalau dari dosa besar yang ada di Qur'an aku cuman minum minuman keras aja (es batu), sama judi (kadangkala), dan riba (ambil kartu kredi di bank).

Kalian pasti mikir kan? Agamaku apa? Kok aku baca Alkitab segala. Aku Muslim. Soalnya dibikin begitu sama Mamiku. Aku menjalankan sholat walaupun nggak tepat waktu kadang udah jam 2.30 baru mau sholat dhuhur. Aku bayar zakat, puasa, dan aku juga sudah naik haji loh waktu umur 2 bulan diajak ibuku. HAHAHA!

Bedakan antara ibu dan Mami ya guys. Kalau aku panggil ibu, itu berarti dia adalah orang yang dapat peran ibu di cerita ini. Sementara Mami adalah R. Wahyu. Yang bikin cerita ini.

Aku nggak pernah zina. Karena takut sama infeksi menular seksual dan HIV. Aku juga nggak membunuh biarpun kadang-kadang dalam hati pengen yak. Aku selalu ingat bahwa Allah yang Maha memberi hidup dan mematikannya. Sebenarnya orang ngeselin itu endingnya pasti mati juga. Tapi aku doain aja yang jelek-jelek gitu. Katanya kan doa orang teraniaya pasti dikabulkan. HAHAHA!

Lalu ngapain baca Al Kitab segala? Ya buat referensi aja. Biar aku juga bisa relate kalau ngasih nasehat ke pasienku yang Kristen dan Katolik. Bahkan agama Budha, Hindu dan Konghucu aku juga belajar. Begitulah pasienku itu datang padaku ingin mendapatkan nasehat yang ingin mereka dengar. Bukan nasehat yang benar. Jadi, biasanya aku akan minta profil sejelas-jelasnya pada mereka agar aku bisa memberikan konsultasi yang tepat.

"Di, antrian pasiennya ada berapa?" tegurku pada Abdi yang kayaknya nyantai banget karena sempetnya main game soliter.

"Belum ada Dokter," jawabnya.

"Alhamdulillah, bisa santai dong!" seru gembira. Kuambil buku jus 1 Alquran dari laci mejaku. Ini bukan mushaf lho ya, karena cuman potongan jus aja ada terjemahannya juga jadi nggak apa dipegang biar kita belum wudhu. Soalnya berusan aku habis kentut tuh. Bau nggak? HAHAHA!

Si Abdi melirik begitu aku membaca Qur'an jus 1 itu. "Dokter itu aneh banget. Kadang judi, kadang ke club malem. Tapi tiap senggang yang dibaca Qur'an. Sholat nggak pernah bolong. Puasa Senin-Kamis lancar."

"Dosaku itu urusanku sendiri sama Tuhanku, Di. Kamu nggak usah komen!"

Kudengar decak lidah Abdi mendengar ucapanku. Dasar makhluk SOTOY dan KEPO! Ya udahlah akhirnya aku jawab lagi. "Aku belum pernah baca buku yang isinya lebih bagus dari Al Qur'an. Kalau aku ada masalah walaupun aku membukanya secara acak aja, ayat yang aku baca tiba-tiba berisi nasehat yang cocok dengan apa yang aku mau. Seperti Allah sedang berbicara padaku."

Kutoleh si Abdi yang tampak tercengang. "Kamu juga kalau ada waktu baca dong. Daripada main game. Ingat waktumu milik Allah. Dia akan kamu pertanggungjawaban nanti di akhirat kelak. Kamu mau jawab apa? Waktumu senggangmu kamu pake buat main soliter?"

Tahu-tahu bahu Abdi gemetar dan dia menangis. "Dok, omonganmu serem banget sih! Iya-iya aku nggak main soliter lagi."

Duh, dasar cengeng. Aku kan jadi ikut terharu jadinya nguap. Setanku selalu muncul kalau aku mau baca Qur'an.

"Dokter juga jangan suka judi dan mabok-mabok terus! Nanti dokter kalau ditanya diakhirat di tanya, mau jawab apa!"

Ealah! Ikut-ikutan aja nih bocah mengancam aing. "Ya aku jawablah. Aku sedang nyari klien. Karena di sana banyak orang stres yang butuh konsultasi. Kalau aku minum cuman sedikit aja nggak sampai mabok. Main judi juga taruhanku dikit aja 1-2jt aja nggak bikin aku miskin."

"CK! Dokter kok pinter bisa bikin alesan gitu di depan Allah! Kalau gitu aku juga, main game demi kesehatan mental biar otak fresh dan nggak stres!" seru Abdi.

Aku ketawa ngakak. "Ya udah, bagus kalau kamu punya alasan."

Oke, sekarang aku lagi baca Al Baqarah ayat 229 yang membahas tentang talak yang bisa rujuk itu dua kali. Aku tuh kalau baca Qur'an yang aku baca artinya, Guys. Soalnya aku nggak bisa baca tulisan arabnya. HAHAHA! Maklum ya aku masih belajar

Habis itu pintu tiba-tiba terbuka. Sepasang pria dan wanita masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Penampilan mereka agak kontras. Yang cewek cantik, rambutnya lurus kayak direbonding. Pakai hak tinggi dengan jas dokter dan dress batik cantik. Make up-nya agak luntur gitu terutama di bagian maskara bawah kayak habis nangis.

Sementara si cowok ini kataku nggak ganteng. Jelas aku lebih ganteng. Dia kayak cowok mokondo gitu lho pake jaket gejok (tak plesetin karena nggak diendors) yang wana ijo dekil itu. Matanya item banget kayak udah ga tidur beberapa hari.

Aku masih berusaha memahami situasi. Siapa dua orang ini? Bukannya tadi nggak ada pasien diantrian kata si Abdi.

"Kami mau cerai!" seru si cewek sementara lakinya diem aja.

Kalian siapa? Aku mau ngomong gitu tapi langsung digampar Mama pake kertas tulisannya naskah. Katanya aku disuruh baca skrip dulu sebelum masuk ke cerita. Emang aku tadi mager banget sih. Ya Udin aku buka itu naskah dan mulai baca. Oh! Ternyata si cewek ini sepupuku namanya Aina, Anaknya Om Jarwo. Anak ke-6 dari Prof Sumarto Prawirohadjo, kakekku. Si cowok mokondo di sebelahnya itu Habib suaminya. Kata Mamiku, Habib-Aina plesetan dari Habibie-Ainun gitu. Kalau aku anaknya dari Mama Aliyah. Anak ke-3. Mamaku itu kembarannya Tante Afifah, ibunya si kembar di cerita sebelah, Prajabatan Cinta. Kalian udah baca belum? Yang minta update sabar ya. Kata mami aku masih mau direvisi dulu.

Kulihat tangan mereka yang masih terkait erat. "Cerai? Yakin? Itu tangan kok masih gandengan mesra gitu?"

Mereka langsung melepaskan tangan dengan. Kayak nggak sengaja gitu gandengannya. Terus kelihatannya juga agak malu-malu. SIALAN! Aku paling nggak suka jadi konsultan pernikahan beginian. Sementara aku sendiri masih jomblo. Huhuhuhuhu....

"Iya! Kami mau cerai!" tegas Aina lagi. Sementara Habib masih diem aja. Aku tahu kalau Habib masih berhati-hati. Karena kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan gamblang. Berarti talak sudah jatuh dan tidak bisa ditarik lagi. Jadi kelihatannya Habib masih ragu-ragu. Sementara si Aina, ah jangan dipedulikan. Semua ibu-ibu yang pernah konsultasi seperti dia. Kata cerai begitu mudah keluar dari mulut mereka kalau lagi emosi.

"Oke, duduk dulu," kataku.

Dua orang itu akhirnya duduk dan menarik napas panjang.

"Cerita dulu, kenapa kalian mau cerai?"

Nah, begitu kawan-kawan kisah ini akhirnya di mulai. Kata Mamaku aku nggak akan muncul di chapter depan karena dia mau pakai gaya menulis yang biasanya aja. Jadi cukup sampai di sini pertemuan kita. Kata Mamaku nanti aku mau dibikinin cerita sendiri judulnya, "Dokter Stres." Baca ceritanya Mamiku. Jangan lupa votes dan komen. Awas kalau komen next doang! Beli juga chapter Mamiku di Karyakarsa. Mulai dari 2k saja harganya.

Bye bye!

***

Terpaksa Menikahi Dokter 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang