"widih, gelang nya keren tuh. dapet dari mana anak bunda??"
Felix terkekeh sambik duduk di meja makan dan memegangi gelang yanh diberikan Minho.
"dari Minho bun"
"ciee ciee, pacaran kamu?"
"ih! engga lah bunda"
Bunda Jina hanya menggelengkan kepala dan menuangkan sarapan ke piring Felix.
"bunda kerja nya nginep lix dirumah bu Olivia"
"berapa hari bun?"
"mungkin 3 sampai 5, bu Olivia mau ada acara dan pergi bareng keluarga besar nya. bunda disuruh jagain rumah nya, nanti kamu kalo ada apa apa ke rumah bu Olivia aja ya lix?"
Felix mengangguk dan mengacungkan jempol, tapi ia sedikit tak senang sendirian di rumah. mungkin Felix bisa mengajak Minho ke rumah nya untuk menemani Felix sebentar.
"nih lix, bunda bikin brownies buat Minho"
Bunda Jina menyerahkan sekotak isi beberapa banyak potongan brownies ke Felix. Felix meraih nya sambil berbinat menatap isi kotak itu.
"makasih banyak bunda! Minho pasti seneng banget!"
bunda Jina hanya terkekeh dan mengangguk. lalu setelah sarapan selesai, Felix bersiap pergi sekolah dan bunda nya siap pergi bekerja. seperti biasa Felix naik bus lagi untuk ke sekolah. dia naik dan duduk di dekat jendela terus melihat tempat yang beberapa hari lalu dimimpikan Felix.
saat Felix hendak menghadap kedepan lagi di ekor mata nya ia melihat seseorang muncul dari tempat itu, wajahnya seperti Minho namun pucat dan berdarah. dengan panik segera Felix menoleh dan tidak apa apa disana, perasaan Felix menjadi tidak enak.
saat sampai di kelas, ia tak melihat kehadiran Minho di kelas, mungkin Minho akan telat dan masuk diam-diam seperti saat awal mereka bertemu. namun ditunggu-tunggu sampai 10 menit dari bel masuk berbunyi Minho tak kunjung datang.
Felix menatap kotak brownies itu penuh sedih, kali ini dia harus memakan makanan tanpa berbagi dengan siapapun, padahal bunda nya memberikan itu untuk Minho juga.
mungkin benar perkataan Minho kemarin yang mengatakan hari ini ia tak akan masuk, tapi ia tetap kepikiran dengan Minho. Felix merasa bosan tidak ada teman bicara di sebelah nya sampai saat jam ekskul tiba dia masih terlihat tidak bersemangat, namun ia tak boleh mengacaukan latihan nya. tersisa beberapa hari lagi hingga hari-h lomba datang.
"lix kenapa sih? muka nya ditekuk aja" sapa Jisung
"gapapa sung, lagi gak semangat aja
Jisung mengangguk lalu menyadari gelang di tangan Felix nampak tak asing, tapi Jisung berpikir posisitif mungkin gelang Minho hanya kebetulan mirip dengan milik Felix.
"yaudah lix, pulang duluan ya"
Felix mengangguk lalu tersenyum kecil pada Jisung yang melangkah pergi keluar aula. kini hanya menyisakan Hyunjin, Yeji dan dirinya di aula. Yeji dan Hyunjin menghampiri Felix.
"lix, bagi nomor lu dong, buat masukin ke grup"
Felix mengangguk lalu mengeluarkan ponsel nya dan memperlihatkan nomor nya di ponsel nya ke Yeji.
"yaudah yuk balik" ucap Hyunjin setelah Yeji selesai mencatat nomor Felix.
Felix dan Yeji mengangguk lalu berjalan keluar aula bersama Hyunjin dan menunggu Hyunjin mengunci aula.
"yaudah kak hyunjin, yeji. aku duluan ya, makasih buat hari ini"
Yeji dan Hyunjin tersenyum lalu saling bertukar pandang ketika melihat tangan Felix melambai dan mereka melihat gelang yang tak asing bagi mereka. saat Felix sudah pergi menjauh dari Yeji dan Hyunjin mereka berdua bertatap heran.

KAMU SEDANG MEMBACA
My 'Friend' [MinLix]
Teen Fiction"hai kamu anak baru, aku Lee Minho atau Ino" sedikit kisah tentang anak SMA, Lee Felix yang bertemu dengan arwah Lee Minho karna Lee Felix adalah pendatang baru dari SMA GoHara. dimana SMA GoHara yang telah membuat Lee Minho jatuh koma akibat kericu...