CGK, Indonesia
Sore yang cerah, jauh dari keramaian biasanya, Adam dan Sara duduk di mobil pengantar untuk masuk ke gedung Saphire Precious menuju lounge yang berada di ex-VIP Lounge Terminal 1.
Sara memandangi pria di sampingnya dengan mata penasaran, "Jadi, ceritain dulu dong tentang teman-temanmu. Aku mau tau nanti ketemu siapa aja, orangnya kayak gimana."
"Mulai dari, Ilya Yuwono. Dia perfeksionis kelas kakap. Kadang terlalu serius. Kalau dia buat laporan, nggak cuma rapi bahkan bisa jadi contoh standar ISO. Tapi kalau butuh orang yang bisa diandalkan, dia nomor satu." Ilya, dengan sifat kaku dan dedikasinya yang tanpa cela adalah sosok yang Adam kagumi.
Jelas Sara membayangkan sosok Ilya seperti robot, tak ada ruang untuk kesalahan. "Berarti adiknya, Sabina."
"Ya. Kalau kamu masih ingat, sebelum kita ke Highland Memorial sempat mampir ke florist nya."
Sara ingat, sebelum ke tempat persemayaman Mamanya Adam, mereka ke florist besar di pinggir kota. Hari dimana harusnya ia tak merepotkan, harusnya lebih kuat untuk Adam namun berakhir tak sadarkan diri. Sara masih merasa bersalah sampai sekarang, berandai jika saja dapat memberikan alasannya.
"Kadang, Sabina bisa terlalu jujur tapi orang yang bisa dipercaya."
"Oh," Sara dengan bibir mengatup.
"Terus ada Theodore Hilman, yang awal ketemu di London waktu aku studi di sana. Kami satu yacht club di Knightsbridge. Theo memang udah lama di London, dia bisa dibilang lebih tegas daripada yang lain," Theo adalah sosok yang tak mudah dipengaruhi karena ketegasan dan integritasnya. "Dan Chris Gao. Menurutmu gimana?"
"He's a loverboy."
Julukan itu memang pas, mengingat Chris yang sering kali terlibat dalam hubungan singkat dan passionate, namun tak pernah benar-benar serius. Adam tahu bahwa meski sering bermain-main, Chris adalah teman yang setia, dan ia berharap Sara bisa melihat sisi baiknya. "Tenang aja, kamu pasti bakal suka mereka," kata Adam memberikan jaminan, melirik kekasihnya yang saat ini manik matanya mengitari lounge saat mereka sudah sampai.
"And, you sure they won't hate me?" Sara mencoba menutupi rasa gugup, tapi Adam bisa melihat ketegangan di baliknya. Masih melangkah ke arah tujuan mereka, sebuah ruangan privat.
Pria jangkung yang memakai sweater merino wool, tersenyum menenangkan. "No chance."
Ketika sampai di ruangan privat tempat lima orang duduk, mata semua orang lantas tertuju pada perempuan yang baru saja bergabung dengan grup tersebut. "Guys, meet Sara," ucap Adam dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, menatap perempuan bergaun midi kasmir mongolian warna hitam yang berdiri di sampingnya. Memperlihatkan senyum yang ia tahu biasa ditampilkan saat bekerja.
Seorang perempuan dengan rambut brunette ber highlight keemasan, terlihat misterius namun chic seperti keluar dari campaign Gucci 90's, berdiri dari duduknya dan perlahan menghampiri Sara. "So you're the one who tamed this guy? Nice to meet you, I'm Sabina," katanya setengah bercanda, nadanya mencerminkan betapa berpengalaman dia dalam berkenalan dengan orang baru. Bergestur mengajak berkenalan, lantas disambut oleh Sara.
Sara merasa lega dengan sambutan hangat Sabina, dan ia menjawab dengan senyum lembut, "Likewise, Sabina. I'm Sara."

KAMU SEDANG MEMBACA
A Sweeter Place
RomanceThe second time around, things just made more sense. Honestly, timing has a lot to do with everything. Adam Wisnuthama Wardana, General Manager salah satu hotel dan resor di Indonesia, The Eden. Dikenal sebagai pria charming, hobi menjelajah dunia d...