12. Politik

282 36 5
                                    

Habib berdecak saat melihat ada pesanan gefood yang masuk. Mie Gacoan, tempat yang paling tidak dia suka. Ngantrinnya lama sekali sampai Habib jamuran. Habib terkadang heran mengapa Mie yang dulu nggak bisa dapat sertifikat halal gara-gara pake konsep setan-setanan ini disukai banyak orang. Habib bukan tipe manusia yang bisa makan pedas. Masak Indomi saja dia nggak kuat kalau pakai saosnya. Ibu-ibu kantornya suka sekali makan di sini, lalu besoknya pada izin nggak masuk dengan alasan diare. Dasar namanya kapok lombok hal itu diulang lagi bulan depan dan bulan depannya lagi. Kenapa sih orang-orang pada suka meracuni diri sendiri?

Yah, tapi dengan berat hati Habib harus menerima orderan itu karena kalau tidak akun drivernya akan terancam. Akhirnya kini Habib duduk bersama bapak-bapak gejek lainnya mengantri mengambil pesanan.

"Besok katanya mau ada demo di depan Grahadi. Kalian pada ikutan nggak?" tanya Pak Imam. Bapak yang kurus dan jaketnya paling dekil. Terlihat bahwa dia adalah seorang pekerja keras karena sampai tak sempat mencuci.

"Nggak Pak, saya kan mau daftar CPNS lagi tahun ini. Saya harus netral," kata Habib.

"Ah, kamu belum bosan juga daftar," decak Pak Imam tidak suka. "Kamu suka jadi boneka pemerintah macam ASN?"

Habib senyum aja. Dia malas berdebat, maka diambilnya ponsel untuk berpura-pura melihat pesan masuk. Habib sejatinya cukup mengagumi lelaki macam Pak Imam ini. Seperti namanya, dia memang seorang pemimpin. Dia visioner sangat amat melek politik. Sampai kalau di tongkrongan bikin orang males karena yang dibahas politik mulu.

Bukannya Habib ini apatis sama gejolak politik. Hanya saja ada banyak hal yang perlu dia hadapi di depannya seperti makan apa dia besok pagi dan apa yang akan dia gunakan untuk membayar uang kos bulan ini. Habib sudah berjuang di pemilu kemarin dan hasilnya pilihannya ternyata kalah. Habib merasa sudah ada banyak pakar politik yang memikirkan tentang politik. Dia yang hanya seorang tukang ojek ini bisa apa? Kalau berjuang demi negara, Habib jelas sudah melakukannya. Dia kan guru sukwan yang rela mencerdaskan anak bangsa dengan bayaran seadanya.

Dia sudah mengatasi mantan muridnya yang putus sekolah dan kabur dari rumah karena broken home. Anak itu sekarang sudah jadi perwira polisi. Ada lagi siswanya yang pernah kena narkoba pun bertaubat setelah diberi khotbah no jutsu oleh Habib dan sekarang jadi pengusaha restoran seafood dengan omset milyaran. Anak didiknya yang hamil diluar nikah karena open BO dia lindungi haknya agar tidak didrop out dari sekolah. Sekarang anak itu sudah kerja jadi pegawai bank. Kalau boleh sombong, Habib sudah melakukan banyak hal untuk negara ketimbang mereka yang hanya tahu bikin rusuh saat demo atau berkoar-koar di sosmed saja.

Menurut Habib politik bukan bidangnya itu saja. Makanya dia tidak suka berbicara soal politik. Toh, kalaupun hanya dibicarakan saja dia tidak bisa memberikan solusi apa-apa. Lebih baik dia memikirkan nasibnya sendiri dan juga nasib murid-muridnya di sekolah. Itu sudah cukup melelahkan bagi Habib. Habib bukan tipe orang yang mau membuang-buang energi untuk memulai hal-hal yang berpotensi tidak mampu dia selesaikan.

Habib melihat nomor kontak  Dokter Aina yang telah dia simpan di sana. Habib tidak menyangka wanita ini benar-benar memberinya nomor ponselnya. Tapi dari profil picture dan juga story-nya sepertinya ini memang dokter cantik itu.

Habib gundah gulana. Dia tahu bahwa kehidupan yang dijalani dengan dokter ini jelas berbeda 180 derajat. Bagaimana dengan berani dia meminta nomor ponsel cewek itu kemarin? Tapi sejujurnya yang lebih aneh adalah Aina. Mengapa dia memberikan nomor ponselnya begitu saja? Padahal biasanya cewek-cewek yang lain pasti menolak dengan halus jika melihat jaket kebesaran Habib yang berwarna hijau ini.

Dahi Habib mengerut melihat story wa terbaru Aina yang memotret halaman Mie Gacoan dengan caption, "Ayo kita hajar!"

Habib terperanjat. Siapa yang mau dihajar? Habib menoleh ke kanan-kiri mencari kehadiran Aina. Sebenarnya lucu sih, karena belum tentu Aina ada di cabang ini, tapi Habib sudah ketakutan sendiri. Dan benar saja seperti dugaan, Aina turun dari Lamborghini warna merah bersama seorang ibu-ibu beranak satu.

Habib langsung fokus memainkan HP-nya lagi. Ya, ini cara paling ampuh untuk menghindari pembicaraan dengan  seseorang. Tanpa diduga satu tas Hermes melayang ke kepala Habib. Habib tercengang karena nyeri dan juga karena takut tas mah itu tergores.

"A-anu tasnya jatuh, Mbak," dengan hati-hati mengembalikan benda itu ke pemiliknya yang sedang bersedekap dengan mata melotot.

"Itu sengaja aku lempar bukan jatuh!" ketus Aina.

"Pak Habib ya?"

Habib menoleh ada asal suara. Ternyata si ibu-ibu yang menggendong balita tadi. Setelah dia mengamati baik-baik wajah tanpa make up itu barulah Habib ingat siapa wanita ini. Dokter Agmi, temannya Bidan Citra, yang pernah ikut bersamanya mengunjungi rumah Tina, muridnya yang dulu open BO.

"Eh iya, Dokter Agmi, apa kabar."

"Kamu kenal sama si kampret ini, Mi?" tanya Aina.

"Iya. Dia gurunya ibu hamilku di Puskesmas. Lama nggak ketemu Pak Habib. Tina sehat?" Agmi bertanya dengan santainya tanpa menyadari ada sesuatu antara Habib dan Aina di sini.

"Eh, iya sehat."

Habib menoleh pada Aina yang masih memelototinya dengan tajam. Sebenarnya dia salah apa sih? Kenapa juga dia takut?

***

Terpaksa Menikahi Dokter 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang