37

16.5K 1.2K 108
                                    

Sesak pikirannya tapi dipaksa menyapa dunia luar. Nyeri menampar hebat kepala. Rasanya tak siap melakukan aktivitas di luar rumah.

Tanggung jawab memaksa diri untuk melakukan. Sebelum benar tumbang, Gracia gadis itu. Tak akan manja untuk berdiam diri di rumah.

Pagi buta Ia sudah keluar rumah, melakukan aktivitas sebagaimana mestinya seorang idol ibukota dengan jadwal padatnya yang tak pernah habis. Jika tak terbiasa dengan ini, mungkin rumah sakit akan menjadi tempat singgah sementaranya.

Hari sudah menjelang sore kala itu. Langit senja yang sangat indah mulai berlahan menghilang siap digantikan dengan kehampaan malam dengan taburan bintang jika tangisannya tak menyapa.

Tapi sayang, tanda langit yang akan menangis mulai nampak. Bunyi yang dikeluarkan disertai dengan kilatan kilatannya mulai mengisi aktivitas di atas sana.

4 jam mungkin sudah berlalu setelah itu. Sudah pukul 9 malam waktu yang ditunjukkan waktu di ponsel. Rintikan hujan sudah turun membasahi segala permukaan bumi sedari tadi.

Dalam kehampaan ruangan yang tak memberikan suara apapun. Gracia menghela kecil saat dia duduk bersandar di cermin besar diruangan latihan. Ini sudah waktunya. Janji temu antara dia dan Melody. Janji yang sudah lama di buat untuk memperbincangkan hal serius.

Selalu gagal tapi akhirnya bisa dilakukan juga malam ini. Gugup, tapi ini sudah keputusannya. Dia tak akan menunda ini lebih lama lagi. Permasalahan antara dia dan Shani harus di luruskan. Semoga ada titik terang sehabis ini.

Tak mau egois lagi. Tak mau gengsi lagi. Gracia akan lebih dulu menjelaskan dan meminta maaf jika hari ini berjalan lancar.

Berdiri gadis itu. Pamit sejenak pada anak bungsunya yang dari tadi duduk bersama dirinya bersebelahan.

Tak banyak tanya, Christy mengangguk. Niat menemani di tolak oleh Gracia. Dan dia pun tak akan memaksa. Takut mama nya itu memarahi dirinya.

Pintu hitam didepan mata dia buka perlahan. Tersentak sejenak dirinya saat mendapati orang lain dari balik pintu. Mengeluarkan suara kaget yang tak bisa dihentikan.

"Ah. Gita. Kamu mah" mempout kecil dirinya memegang dada. Jantungnya sedikit berdegup karena kaget.

"Ah. Maaf, Ci" dia yang baru kembali dari toilet itu nampak merasa bersalah. "Um.. Cici mau kemana?" alhasil pembahasan di ubah saat Gracia kembali menutup pintu.

"Ketemu teh Melody"

"Ci?"

"Hah~ maaf. Aku nggak bisa nunda ini lagi" tersenyum gadis itu. Mengatakan tak langsung pada Gita jika semua akan baik baik saja. Keputusannya ini terbaik buat semua orang.

"Jangan kayak gini lah, Ci. Keputusan cici itu bukan jalan terbaik"

"Maaf ya. Aku harus lakuin ini. Jadi kamu masuk gih ke dalam. Temani Christy bentar"

"Aku ikut" reflek Gita menahan pergelangan Gracia saat gadis itu akan meninggalkan.

"Git, ini urusan aku. Jadi kam-"

"Aku ikut atau aku bakal lakuin ancaman aku ke Ci Shani"

"Hah~ fine" bisa apa Gracia selain mengiyakan? Dia lepaskan tangan Gita dan melanjutkan langkah. Membiarkan anak itu mengikutinya dari belakang.

Tiba di depan pintu ruang tujuannya. Rasa gugup itu semakin membelenggu. Bahkan rasanya dia sudah berkeringat dingin sekarang. Merutuki. Kenapa harus merasakan itu? Toh ini keputusannya melakukan semua ini. Kenapa harus ada keraguan juga?

"Kalau ragu jangan di lakuin"

Gracia menghela kecil mendengar suara Gita. Anak itu sama sekali tak membantu.

S1: After Graduation ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang