𖤓07⸙

37 9 1
                                    

ִ ࣪𖤐𖤓𐦍 "Kau memperlakukan Lorcan dengan baik, sedangkan aku? Aku selalu jadi yang terburuk, bukankah ini tak adil, Mai?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ִ ࣪𖤐𖤓𐦍 "Kau memperlakukan Lorcan dengan baik, sedangkan aku? Aku selalu jadi yang terburuk, bukankah ini tak adil, Mai?"

Maisie menggeleng pelan, menatap sang anak yang kini menangis karena perbuatannya sendiri.

Ini bermula saat Maisie mengomeli anak bungsunya tadi, Noah menghabiskan persediaan buah yang Maisie kumpulkan untuk Lorcan nanti, karena pohon apel yang tumbuh di pinggir rumahnya adalah apel termanis yang di hutan ini, namun pohon itu sulit berbuah dan Lorcan sangat menyukainya. Maisie tidak melarang Noah untuk memakan apel itu, Maisie marah karena Noah tidak menyisakannya untuk sang kakak, keserakahannya lah yang membuat emosi Maisie meledak.

"Aku pergi saja!"

Dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya, Noah masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan perlengkapannya, ia akan pergi ke kota untuk menyusul Lorcan.

"Tidak ada yang akan meninggalkan tempat ini sebelum Lorcan kembali, tidak akan kubiarkan."

Maisie berlari kecil masuk ke dalam rumahnya, dengan tergesa-gesa ia menarik pintu kamar Noah lalu menguncinya. Noah yang sadar bahwa sang ibu menutup dan mengunci pintu kamarnya berlari dan memaksa pintu itu untuk terbuka kembali.

"Mai! Buka pintunya!"

Maisie menulikan pendengarannya, mengabaikan teriakan si bungsu dengan cara melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

"Lebih baik memiliki dua Lorcan, daripada memiliki satu yang seperti Noah."



• ִ ࣪𖤓•_____________________________




"Yang Mulia..."

Beberapa prajurit yang di tugaskan oleh kerajaan untuk menangkap Nicholas membungkuk hormat pada kereta kuda yang berhenti di hadapan mereka, hanya anggota kerajaan lah yang menggunakan kuda putih untuk menarik kereta kudanya.

Nicholas ikut membungkuk saat salah satu prajurit menendang kaki kirinya, sialan! Sakit sekali!

Pintu kecil kereta kuda itu di buka perlahan oleh si kusir, memperlihat kesempurnaan sang putri yang selalu menyembunyikan keberadaannya.

Gaun megahnya jatuh ke tanah, seakan lupa betapa banyaknya orang yang bekerja keras untuk membuat gaun itu.

"Apa yang kalian bawa itu? Aku tidak mendengar bahwa akan ada penangkapan hari ini. Jadi ini sebuah pengkhianatan?"

"Tidak, Yang mulia. Dia adalah buronan yang harus kami bereskan, kami hanya menjalankan tugas."

"Aku ingin mendengar jawaban dari kepala prajurit kalian, siapa yang bertanggungjawab di sini?"

Hening. Tidak ada yang mengaku.

Sang putri berbisik pada kusir serta orang yang ia percayai untuk menyeret si kepala prajurit dari kelompok penangkapan ilegal ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 21, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

EMEOSEON [HaruKyu]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang