Keluarga Perkasa 1 - Ketahuan

2.9K 42 1
                                    

Di tengah sepinya malam, sebuah suara terdengar samar-samar dari kamar seorang lelaki berumur 19 tahun. Ia menggerutu kesal, terbangun karena kipas kamarnya tidak menyala. Seluruh ruangan juga ikut gelap.

"Ah, mati lampu lagi" ia lalu bangkit dan berjalan keluar kamar dengan maksud ingin mengambil air minum.

Diteranginya jalan menuju kulkas dengan ponsel yang ia genggam. Dengan mata yang masih ngantuk ia berusaha tetap terjaga. Tegukkan demi tegukkan ia rasakan penuh khidmat membuat seluruh indranya kembali bekerja dengan sempurna. Begitu seluruh indranya bekerja ia baru menyadari di dekat kulkas terdapat celana yang tanggal. Entah punya siapa. Perlahan dia ambil dan ia perhatikan. Berwarna merah, asing.

Di rumah ini, hanya ada dia dan ayahnya, tapi celana dalam ini... tidak pernah ia lihat sebelumnya. Perlahan ia mengambilnya, jari-jarinya menyentuh kain halus itu. Entah kenapa, rasa ingin tahu menguasai dirinya. Tanpa sadar, ia mendekatkan celana itu ke hidungnya. Aroma keringat yang pekat segera menyergap indra penciumannya, disertai dengan jejak asin yang menggoda. Dengan napas sedikit tertahan, ia menghirupnya sekali lagi, lebih dalam, membiarkan aroma itu menguasai pikirannya.

Di tempat lain, di sebuah kamar yang tak jauh dari sana, sepasang kekasih sedang terjebak dalam hasrat yang mendalam. Sudah seminggu Broto kembali dari dinasnya di Malang, dan ia tak sabar untuk tenggelam dalam pelukan kekasihnya, Juna.

"Aghh, masih segar dan menggoda baunya, Mas," bisik Juna dengan mata penuh gairah, sambil membenamkan wajahnya di ketiak Broto, menghirup aroma yang selama ini ia rindukan.

Broto duduk bersandar di kepala kasur, dengan santai menghisap rokoknya, asap mengepul perlahan dari bibirnya. Lampu yang mulai meredup memberikan cahaya hangat yang masuk melalui jendela, menambah suasana tenang di ruangan itu. Tangan kirinya terangkat, tanpa disadari memperlihatkan ketiaknya yang lebat. Sang kekasih, Juna, duduk di sampingnya, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan—campuran antara kekaguman dan keintiman yang khas.

Juna tersenyum kecil, menikmati momen sederhana namun penuh arti itu. Ada sesuatu dari kehadiran Broto yang selalu membuatnya merasa nyaman, bahkan dalam momen-momen paling biasa sekalipun. Setiap tarikan napas yang Broto ambil, setiap gerakan tangannya, terasa begitu familiar dan menenangkan bagi Juna.

"Kenapa liatin kayak gitu?" Broto menoleh sambil menyeringai, menyadari tatapan intens dari kekasihnya.

Juna hanya mengangkat bahu sambil tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, cuma menikmati pemandangan."

Broto terkekeh, mematikan rokoknya di asbak di samping. "Pemandangan, ya?" katanya sambil menurunkan tangannya, lalu meraih Juna, mendekapnya lebih dekat. Di balik semua kesederhanaan dan candaan mereka, ada rasa hangat dan keakraban yang tak tergantikan.

"Kangen kamu Jun? Nanti kan aku entod kamu" Ucap Broto yang wajahnya hanya sesenti dari wajah Juna.

--

Duh, kira-kira bakalan berbuat sesuatu gak ya mereka? dan apakah jaya bakalan tau kelakukan bejad bapaknya?

Full cerita sudah tayang di KK :) klik link di bio ya

keluarga perkasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang