Bab 29: Surat Terakhir

5 1 0
                                    

Happy Reading
.
.
.
.
.

Kabar kecelakaan tragis itu mengguncang seluruh sekolah. Nara dinyatakan meninggal dunia setelah berjuang melawan luka-luka parah yang dideritanya. Semua orang yang mengenalnya terpukul oleh kepergiannya yang tiba-tiba, seolah tidak percaya bahwa gadis yang pendiam itu telah tiada.

Beberapa hari setelah kepergiannya, di kamar Nara, keluarganya menemukan beberapa surat yang tersimpan rapi dalam sebuah amplop. Surat-surat itu ditujukan kepada keluarganya, Pak Daniel, teman-temannya, dan beberapa guru di sekolahnya. Surat-surat itu ditulis dengan tangan yang gemetar, penuh dengan kejujuran yang selama ini Nara simpan dalam hatinya.

Surat untuk Keluarganya:

"Ayah, Ibu, mungkin kalian tidak pernah mengerti rasa sakit yang selama ini aku pendam. Pertengkaran kalian selalu menghantuiku, membuatku merasa hampa di rumah yang seharusnya menjadi tempatku berlindung. Aku tahu kalian berusaha, tapi aku tak pernah merasa cukup dicintai. Setiap cacian, setiap kata-kata menyakitkan, terus membekas dalam hatiku. Aku hanya ingin kalian tahu bahwa aku mencintai kalian, meskipun aku sudah menyerah. Tolong, jangan bertengkar lagi setelah aku pergi. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi anak yang kuat."

Membaca surat itu, kedua orang tua Nara hanya bisa menangis. Penyesalan menghantui mereka, mengetahui bahwa di balik segala perdebatan mereka, anak mereka diam-diam terluka begitu dalam.

Surat untuk Pak Daniel:

"Pak Daniel, saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan ini, tapi saya mencintai Anda. Anda adalah satu-satunya orang yang membuat saya merasa diperhatikan, walau mungkin semua itu hanya permainan bagi Anda. Saya tidak tahu apakah Anda sungguh peduli pada saya atau hanya menganggap saya anak kecil yang bodoh. Tapi saya benar-benar berharap, meski hanya sebentar, Anda pernah merasakan hal yang sama. Maaf jika saya merepotkan Anda dengan perasaan saya. Terima kasih telah memberikan saya harapan, meskipun pada akhirnya, itu hanya membuat saya lebih terluka."

Pak Daniel terdiam saat membaca surat itu. Air matanya jatuh, dan dia menyadari betapa dalam luka yang ia torehkan pada gadis yang begitu mempercayainya. Semua sikap tak pedulinya, ketidakpedulian yang ia tunjukkan belakangan ini, kini menghantui pikirannya.

Surat untuk Teman-temannya:

"Untuk teman-temanku, maaf jika aku pernah membuat kalian merasa tidak nyaman. Aku tidak pernah menjadi bagian dari kalian, dan mungkin itu salahku. Aku selalu merasa terasing, tapi aku tidak pernah berani untuk mendekat. Mungkin aku terlalu takut, atau mungkin aku tidak pernah tahu caranya. Jika kalian pernah merasa bahwa aku aneh atau berbeda, itu karena aku sedang berjuang dengan hal-hal yang tidak pernah bisa kalian lihat. Maafkan aku, dan terima kasih untuk waktu yang kalian habiskan bersamaku, meskipun singkat."

Teman-temannya hanya bisa menunduk, terdiam dalam penyesalan. Mereka tahu bahwa gosip-gosip yang mereka sebarkan mungkin telah menyakiti Nara lebih dari yang mereka sadari.

Surat untuk Guru-gurunya:

"Untuk Guru-guruku, terima kasih telah mengajarkan saya banyak hal. Saya tahu, saya bukan murid yang menonjol. Saya selalu merasa tidak cukup pintar, tidak cukup berani. Namun, setiap pelajaran yang kalian berikan selalu saya dengarkan dengan sungguh-sungguh, meskipun saya tidak pernah punya cukup kekuatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya secara langsung. Maaf karena saya tidak pernah bisa menjadi murid yang membanggakan."

Guru-guru yang membaca surat itu hanya bisa termenung. Mereka lmengenang sosok Nara yang pendiam, yang selalu duduk di sudut kelas, hampir tak pernah menarik perhatian. Kini, mereka menyadari betapa sedikitnya perhatian yang mereka berikan padanya.

---

Surat-surat itu membawa gelombang penyesalan yang mendalam bagi setiap orang yang membacanya. Mereka menyadari betapa Nara telah berjuang sendirian dalam diam, tanpa ada yang benar-benar memperhatikan penderitaannya. Semua orang terutama Pak Daniel dan keluarganya hanya bisa menangis, menyadari bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

Huuhuhuu sedih yaa🥲

Jangan lupa vote dan komen☺☺☺

TBC.


Aku ingin bahagia (END)SUDAH TERBITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang