"Aku langsung ke intinya saja, Nak Habib. Apa kamu serius dengan cucuku?"
Habib memandangi wajah pria tua di hadapannya yang tampak tenang. Tidak ada emosi juga dalam nada bicaranya sehingga Habib tidak bisa menilai apa yang dipikirkan laki-laki itu. Habib menarik napas panjang sejenak kemudian menjawab.
"Inggih, saya serius dengan Aina."
"Sungguh? Kamu ingin menikah dengan Aina?" tanya Prof Sumarto sekali lagi.
"Saya tidak akan menjalin hubungan dengan seseorang wanita jika saya tidak ada keinginan untuk menikah dengannya."
Sudut bibir Prof Sumarto terangkat sedikit. "Itu langkah yang berani. Apa yang membuatmu yakin cucuku akan bahagia denganmu?"
"Sebenarnya, saya bukan orang yang sempurna. Saya seorang guru dan juga bekerja sebagai tukang ojek. Tapi, saya berusaha keras untuk memberikan yang terbaik. Saya ingin membuatnya bahagia dengan cara saya. Saya percaya pada Allah yang maha mengatur segala urusan saya." Habib merasakan lututnya bergetar saat mengatakan kalimat yang sudah dia latih sepanjang malam itu.
"Aku menghargai kejujuranmu. Yang terpenting adalah kesetiaan dan niat baik. Bagaimana kamu merencanakan masa depan?"
Masa depan? Habib tidak mengira pertanyaan semacam ini akan muncul. Bagaimana dia bisa merencanakan masa depan? Bahkan untuk hidup sehari-hari saja Habib merasa kesulitan.
"Saya berencana untuk mengembangkan kompetensi saya sebagai guru. Saya yakin kualitas diri saya juga akan meningkat pendapatan saya kedepannya. Saya juga ingin mendukung karir dan impian Aina." Entah bagaimana kalimat itu bisa keluar dari bibir Habib. Apakah sang pencipta yang barusan menggerakkan bibirnya?
Prof Sumarto tampak tersenyum lega. "Itu sikap yang baik. Selama kamu bisa membuatnya bahagia dan saling mendukung, aku tidak melihat masalah."
"Terima kasih, Prof. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Aina."
"Ini bukan di kampus. Jangan panggil aku Prof."
Habib tersenyum sedikit. Sikap Aina yang apa adanya itu sepertinya diturunkan dari kakeknya. Habib melihat banyak kemiripan diantara mereka.
"Ingat, hubungan yang baik dibangun dengan komunikasi dan saling pengertian. Jika kamu benar-benar mencintainya, buktikan dengan tindakan."
"Tentu, saya akan mengupayakan yang terbaik untuk Aina."
"Aku berpesan satu hal padamu. Cinta itu adalah hal yang mudah datang dan mudah pergi. Apalagi dalam hubungan suami istri kejenuhan itu pasti ada. Jika seandainya suatu saat kamu tidak mencintai Aina lagi. Jangan katakan padanya, tapi katakan padaku. Aku akan membawanya pulang."
Habib tertegun. Dia menatap wajah Prof Sumarto yang tampak sendu. "Saya berjanji saya akan terus berada di sisi Aina apa pun yang terjadi nanti," ucap Habib.
"Baiklah, aku pegang janjimu itu. Allah juga maha mendengar."
Habib seketika merinding mendengar nama Allah disebut. Apa seharusnya dia nggak ngomong gitu ya? Habib jadi takut sendiri. Namun ada rasa lega juga melihat wajah Prof yang kembali tenang.
"Kamu bisa kembali bersama Aina. Berkenalan jugalah dengan Reno dan Agmi yang akan jadi tetangga kalian. Mereka akan membantu jika kalian dalam masalah."
Habib tidak mengira percakapan dengan Prof Sumarto akan sesingkat ini. Ini beneran? Dia sudah direstui untuk menikah dengan Aina? Rasanya Habib masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Namun tak mau berlama-lama, Habib memutuskan untuk pamit kepada Prof Sumarto. Dalam perjalanan kembali, Habib berpapasan dengan Bella. Raut wajah wanita cantik itu ditekuk. Sepertinya dia mau mengatakan sesuatu tapi panggilan dari sang Kakek menghentikannya.
"Bella sayang, sini temani Kakek."
Bella urung mengajak Habib berdebat. Dia menghampiri kakeknya. Habib mengelus dada dan meneruskan langkah menuju Aina yang sedang tertawa bersama di pinggir kolam bersama Reno dan Agmi.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.