32. Destroyed

1K 54 1
                                    

Sudah dua bulan lamanya Alin masih belum di temukan. Sementara itu suami Alin itu tampak seperti mayat hidup sekarang. Wajahnya yang pucat, rambut-rambut di rahangnya tak pernah di cukur, kantung mata menghitam, dan juga pipi mulai tirus menandakan bahwa makannya belakangan ini tidak teratur.

"Jangan nyiksa diri lo sendiri. Kalo Alin liat keadaan lo sekarang dia pasti sedih," timpal Rey. Bagaimana tidak? Saat ini penampilan Rafa lebih mirip seperti gembel.

"Istri gue, Rey. Gue gak mau kehilangan Alin," kata Rafa lirih, air matanya tampaknya sudah kering, Rafa hanya bisa menatap kosong kedepan nyaris gila.

Para kepolisian masih berkeliaran untuk mencari informasi tentang Alin, tempat dimana Alin kecelakaan pun sudah di cari, tapi sayang tidak ada tanda-tanda keberadaan Alin.

"Ikhlaskan aja, Raf."

"Gak!" potong Rafa dengan cepat. "Istri gue masih hidup," katanya tegas. "Gue udah suruh orang-orangan gue buat cari keluar negeri, mana tau Alin pergi kesana."

"Buat apa? Sebelumnya kalian baik-baik aja kan? Alin gak mungkin kesana, Raf."

"Jadi maksud lo istri gue bener-bener mati?!" bentak Rafa tak santai, akhir-akhir ini emosinya memburuk, dia akan memarahi siapa saja yang ada di depan matanya, termasuk adik-adiknya pun terkena imbasnya.

Soal Shakira, wanita itu masih menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi wanita itu kian memburuk, ketika mendengar kabar kecelakaan Alin, Shakira sempat kritis.

"Bukan gitu maksud gue," ucap Rey kehilangan kata-kata, dia bingung harus bagaimana lagi cara menenangkan Rafa.

"Gue bakal tuntut siapapun di balik kecelakaan ini," kata Rafa.

"Tapi Raf, itu kecelakaan tunggal."

"Pasti ada seseorang di balik ini, Rey."

"Lo bener," kata Rey, membuat Rafa menatapnya tajam. "Yang bertanggung jawab atas kecelakaan Alin adalah Agnes, cewek sialan itu harus masuk ke penjara."

"Agnes?" Rafa bingung. "Apa hubungannya Agnes sama masalah ini?"

"Bentar. Kita tunggu Vano, dia bakal jelasin sama kita semua."

Di lain tempat, tampak Vano dan Ara sedang berada di dalam mobil, mereka akan pergi menuju rumah Rafa.
"Van, gimana? Udah ada kabar dari Alin gak?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.

Vano mendesah kasar. "Belum, Ra. Alin masih dalam tahap pencarian, kayaknya Alin bener-bener udah gak ada."

"Jangan ngomong gitu ih," kata Ara, air matanya jatuh. Mendengar berita ini membuatnya sakit hati, bagaimana tidak? Sebelumnya Ara selalu menjauhi Alin, dan kini Ara malah kehilangan Alin.

"Van, aku merasa bersalah banget sama Alin. Gak ada kesan baik aku buat dia, aku cuma teman yang jahat. Aku udah nyakitin Alin.."

"Stt, don't cry, baby. Kamu gak perlu mikir kayak gitu, kamu teman yang baik, hm? Yang kamu lakuin sebelumnya itu demi Alin, kan?"

Ara mengangguk sambil menghapus air matanya.
"Iya aku tau, tapi Alin bakal salah paham sama aku, Van. Aku pengen minta maaf sama Alin, aku nyesel udah jauhin dia."

"Kita hanya bisa berdoa, Ra. Semoga Alin ketemu dan pulang dalam keadaan baik-baik aja."

"Amin." Ara tersenyum pedih, masih ingat bagaimana ketika di acara prom night sekolah, Alin memegang tangannya dan Ara membalas dengan cara yang kasar. Ara tak kuasa membayangkan itu semua, hanya penyesalan yang ia rasakan saat ini.

"Udah? Kita jalan sekarang?" tanya Vano, tangannya terulur mengusap kepala Ara, lalu mengecup kening gadis itu.

Ara mengangguk. "Oke."

RAFAELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang