0013 - Rahasia Gelap Kedai Kopi

37 6 0
                                    

Malam itu gerimis turun. Empat orang serdadu Jepang kelihatan berkumpul di sebuah kedai kopi di Kampungtabing.

Kampung itu masih terletak di kaki Gunung Sago. Sebuah desa kecil yang tak begitu ramai. Namun karena letak kam­pung itu di dalam kacamata militer sangat strategis, maka Jepang menjadikan kampung itu sebagai salah satu markasnya.

Ada beberapa markas Jepang yang termasuk besar di sekitar kaki Gunung Sago di Luhak 50 Kota ini. Yaitu Padangmangatas, Tabing, Pekanselasa dan Kubugadang. Jepang menganggap dae­rah Luhak 50 Kota ini sebagai daerah strategis.

Karena dari sini dekat mengirimkan pasukan atau suplay ke Batusangkar atau ke Logas dan Pekanbaru.Dimana Jepang mempunyai tambang-tambang emas dan berbagai kepentingan militer lainnya.

Kedai kopi itu sebenarnya sudah akan tutup. Pemi­liknya seorang lelaki tua sudah akan tidur. Namun keempat serdadu Jepang itu menggedor pintu kedainya.

"Jangan bobok dulu Pak tua. Kami ingin makan paniaram dengan sake. Ayo keluarkan paniarammu..." salah seorang bicara. Dari mulut mereka tercium bau sake, semacam minuman keras khas Jepang.

"Paniaram sudah habis, Tuan..."

"Ah, jangan ngicuh laa. Tak baik ngicuh. Tadi siang masih banyak. Ayooo..."

Orang tua itu mereka dorong hingga tadede-dede masuk kedainya. Mereka langsung saja duduk di kursi panjang dan mengambil empat buah gelas. Dari kantong mereka mengeluarkan beberapa buah botol porselin. Menuangkan isi botol itu ke dalam gelas. Ha­nya sedikit, lalu meminumnya.

Mereka lalu berbisik. Salah seorang lalu berseru.

"Hei, Pak tua. Mana paniaramnya..."

Lelaki itu terpaksa mengambil kaleng empat segi yang berisi paniaram. Kemudian meletakkannya ke depan tentara Jepang tersebut.

"Mana Siti, Pak tua. Suruh dia membuatkan kami kopi..."

Hati gaek itu jadi tak sedap. Siti adalah anak gadisnya. Biasanya dia berada di Padangpanjang. Sekolah Diniyah Putri di sana. Tapi sejak Jepang masuk, dia merasa tak aman anak gadisnya di sana.

Lagipula, banyak orang tua yang menyuruh pulang anak-anaknya yang sekolah jauh. Pak tua ini juga menjemput Siti. Selama di kampung dia lebih ba­nyak di rumah.

"Tak ada lagi air panas untuk membuat kopi, Tuan..." ujarnya coba mengelak.

Tapi terus terang saja hatinya sangat kecut. Keganasan Jepang bukan rahasia lagi. Meskipun belum lewat dua tahun mereka di Minang­kabau ini. Beberapa hari yang lalu, dua orang penduduk yang dituduh mencuri senjata di Kubugadang, dipenggal di tepi Batang Agam.

"Jangan banyak cincong Pak tua. Suruh anakmu turun dan membuatkan kopi untuk kami..."

Lelaki tua itu tak punya pilihan lain selain menyuruh anaknya turun dan membuatkan kopi. Siti memakai pakaian yang buruk. Mengusutkan rambutnya kemudian turun membuatkan kopi.

Namun, meski dia berusaha memburukkan badannya, pakaian yang dia pakai longgar-longgar, tapi tak dapat menyembunyikan kecantikannya. Tak dapat menghilangkan bahwa pinggulnya padat berisi. Dada­nya sedang ranum. Semua itu masih jelas terba­yang.

Bahkan makin merangsang dalam cahaya pelita yang temaram dalam kedai kecil itu. Ketika dia lewat hendak ke dapur di dekat ke empat serdadu itu, dengan kurang ajar sekali yang seorang meremas pinggulnya. Yang seorang dengan cepat mencubit dadanya, gadis itu terpekik dan menangis.

Dia segera akan lari ke atas rumahnya kembali. Namun dia terpekik lagi ketika larinya dihadang oleh sebuah samurai. Samurai itu berkelebat. Ujung kain batik yang dia pakai sebagai selendang, putus! Dapat dibayangkan betapa tajam­nya senjata itu.

TIKAM SAMURAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang