Chapter 3 - Project

109 20 1
                                    

Renjun tidak pernah peduli dengan kerja kelompok. Biasanya, jika terpaksa berada dalam kelompok, ia akan memilih untuk menyelesaikannya sendiri. Teman-teman sekelasnya pun tahu betul kebiasaannya itu. Mereka justru merasa senang karena tugas itu selesai tanpa mereka kerjakan susah payah.

Namun, keadaan kali ini berbeda. Ketika Kim Ssaem mengumumkan bahwa ia dan Jeno akan berada dalam satu kelompok untuk tugas proyek, ia tahu ini tidak berjalan sesuai keinginannya. Bekerja sama dengan Jeno adalah ide yang sangat buruk. Tanpa ragu, ia langsung menolak. "Aku tidak mau melakukan ini denganmu," tegasnya.

Jeno tidak terpengaruh oleh penolakan itu. "Oh, ayolah, Renjun-ah. Jika kau terus menolak, aku akan melaporkanmu ke Kim Ssaem," ancamnya.

Renjun menatap Jeno dengan tatapan datar. Ia tahu anak itu tidak akan mundur begitu saja. "Laporkan saja kalau begitu," balasnya sinis.

Dengan santai, Jeno menyilangkan lengannya di depan dada dan menatap Renjun dengan tatapan menantang. "Kau pikir aku tidak akan melakukannya? Aku akan segera menemui Kim Ssaem sekarang," ujarnya.

Renjun merasa terpojok. Jeno sepertinya serius dengan ucapannya, dan ia tidak ingin membuat keadaan menjadi lebih rumit. Setelah beberapa detik, ia akhirnya menghela napas panjang dan mengalah. "Baiklah, aku setuju, tapi kita kerjakan di rumahmu," ujarnya.

Mata Jeno langsung berbinar, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Setuju!" jawabnya dengan antusias.

🌧️🌧️🌧️

"Ibu, aku pulaaaang!" teriak Jeno begitu mereka sampai di rumahnya.

Aroma kue yang baru dipanggang langsung tercium. Sepertinya ibu Jeno sedang sibuk di dapur. Dengan itu, Jeno bergegas menuju dapur dengan Renjun yang mengekor di belakangnya.

Di dapur, mereka melihat seorang pria sedang sibuk menyusun kue kering yang baru matang di atas sebuah piring. Kue-kue itu terlihat sangat menggoda. Jeno, yang tak bisa menahan diri, langsung mengulurkan tangannya, hendak mengambil sepotong kue itu.

Namun, sebelum tangannya mencapai kue, Doyoung dengan cepat menjewer telinganya. "Dasar anak nakal! Kau ini tidak bisa sabar, ya?" tegurnya.

"Aww, Ibu sakiiit~" rengek Jeno, memegangi telinganya yang dijewer dengan ekspresi pura-pura kesakitan.

"Aww, Ibu sakiiit~" rengek Jeno, memegangi telinganya yang dijewer dengan ekspresi pura-pura kesakitan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Doyoung mendengus sebagai balasan. Namun, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Pandangannya beralih ke sosok di balik punggung tegap anaknya. Dengan senyum lembut, ia menyapa, "Hai, nak."

Renjun terkejut sejenak, lalu cepat-cepat membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "Selamat siang, nyonya Jung," ucapnya.

Doyoung tampak senang dengan kedatangan Renjun. "Aku tidak menyangka akan kedatangan tamu yang menggemaskan," ujarnya dengan nada ceria. "Oh, iya! Kuharap kau lapar!" tambahnya, mengambil sepiring penuh kue kering dan menyodorkannya kepada Renjun.

Rains in Heaven || NorenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang