6. sensitive

16.5K 1.1K 9
                                    

Asher tiba di kantor tepat waktu. Setelah menaruh barang-barangnya di meja, menyalakan komputer seperti rutinitas setiap pagi sebelum memulai pekerjaan. Beberapa dokumen terkait presentasi yang akan ia sampaikan sudah menumpuk di mejanya dan ia mulai membacanya dengan fokus penuh.

Tanpa disangka, Tyler tiba-tiba datang dan mengejutkan Asher yang sedang tenggelam dalam bacaan. "Bam!" Suara kecil itu cukup membuat Asher tersentak hingga hampir melonjak dari kursinya.

Asher memelototi Tyler dengan kesal. "Apa-apaan sih lu?! Kalau jantung gue copot, mau gantiin pake jantung lu?"

Tyler hanya tertawa lebar, tidak merasa bersalah sama sekali. "Fokus banget bacanya, nggak kayak biasanya."

Tyler mendekat, membuat Asher merasa risih. Refleks, ia mendorong tubuh Tyler menjauh. "Jangan deket-deket gue, apaan sih!" ujar Asher dengan suara yang berusaha tetap tenang, meski jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.

Asher mengernyitkan hidung, aroma pheromones Tyler menyeruak dan membuatnya sedikit pusing. "Serius deh, lu bisa nggak sih, nggak usah ngeluarin pheromones pagi-pagi begini?" kata Asher dengan nada marah yang tertahan.

Tyler hanya tersenyum santai. "Ah, santai dong. Biasanya juga lu nggak marah gini kalau gue ngeluarin pheromones."

Asher mendengus frustrasi. "Gue diem aja biasanya karena males ribut sama lu! Tapi makin lama makin nyebelin, tau nggak?" Tanpa menunggu balasan, Asher berdiri dan membawa dokumen-dokumen itu, meninggalkan Tyler yang masih dengan senyum jahilnya.

Asher berjalan terburu-buru menuju ruang istirahat. Di tengah jalan, ia menabrak seseorang hingga orang itu jatuh tersungkur. Alih-alih meminta maaf, Asher justru melontarkan kemarahan.

"Kalau jalan tuh, pake mata!" omelnya sebelum melanjutkan langkahnya dengan kesal menuju ruang istirahat.

Setibanya di sana, ia langsung menjatuhkan diri di kursi merasakan kekesalan yang entah datang dari mana. Dia menghela napas panjang berusaha menenangkan diri dan mulai fokus kembali pada dokumen yang perlu dipersiapkan untuk presentasinya nanti.

Namun, beberapa menit kemudian sekelompok orang dari divisi lain memasuki ruang istirahat. Awalnya, Asher tak terlalu terganggu tapi suara mereka semakin ribut ditambah dengan sembarangan mengeluarkan pheromones mereka membuat Asher semakin kesal.

Tak tahan lagi, Asher berdiri dan menghampiri keempat alpha itu dengan wajah kesal.

"Bisa gak kalian nggak berisik?! Dan tolong, berhenti ngeluarin pheromones sembarangan! Kalian pikir cuma kalian yang ada di sini? Dan ngapain juga kalian di sini? Ini kan belum waktunya istirahat?
Gue nggak ragu bilang ke Pak Callum kalau kalian cuma males-malesan di sini!"

Suasana yang tadinya ramai mendadak hening setelah kemarahan Asher meledak.

Salah satu dari keempat alpha, pria berambut cokelat dengan tubuh tinggi, tersenyum mengejek sambil bersandar di meja. "Wah, galak amat, bro. Baru jam segini udah ngamuk? Lagi PMS, ya?" ledeknya sambil melipat tangan di dada.

Alpha lain, yang duduk di dekat jendela menggeleng pelan sambil memandang Asher dengan tatapan malas. "Duh, santai aja kali. Kita cuma ngobrol sebentar. Nggak ngelanggar aturan juga, kan?" katanya dengan nada tenang, seakan tak terpengaruh oleh kemarahan Asher.

Yang ketiga, pria berambut hitam yang tampak lebih muda hanya tertawa kecil. "Lu emang selalu baper soal pheromones, Asher. Padahal nggak segitu parahnya, deh," ucapnya sambil menahan tawa membuat yang lainnya ikut terkekeh.

Alpha terakhir, yang tampak paling serius di antara mereka berdiri dan berjalan mendekati Asher tapi dengan gerakan yang lebih kalem. "Kita nggak berniat bikin masalah, bro. Cuma lagi nyari tempat buat ngobrol santai. Kalau ganggu, ya udah, kita bisa pindah," katanya, mencoba mengendalikan situasi sebelum suasana makin panas.

"PMS pala lu peang! Jangan kebiasaan ngeluarin pheromones sembarangan! Nggak semua orang nyaman sama baunya!" Asher membalas dengan kemarahan yang meledak-ledak sebelum bergegas keluar dari ruang istirahat, meninggalkan keempat alpha itu.

Sesampainya di meja kerjanya, Asher melempar dokumen ke atas meja dengan gerakan frustrasi. Ia langsung duduk, menundukkan kepala hingga menyentuh permukaan meja, dan menutup matanya rapat-rapat. Napasnya terasa berat, ia mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya, mengendalikan emosi yang masih membara di dalam dada.

"Asher..."

"Ash..."

"Asher..."

Asher menggerutu kesal, siapa lagi yang berani mengganggunya sekarang? Dengan cepat ia berbalik menghadap ke arah suara yang memanggil namanya.

"APAAN SIH?!" bentaknya tanpa berpikir panjang, tanpa melihat siapa yang ada di depannya.

Suara familiar itu langsung terdengar kaget. "Santai dong... nggak usah marah-marah gitu."

Asher terpaku. Matanya membulat begitu melihat siapa yang ia bentak tadi. Callum, atasannya. Seketika rasa bersalah membanjirinya. "Maaf, Pak... Maaf banget... Saya nggak lihat..."

Callum mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Asher tenang. "Nggak apa-apa, angkat kepala kamu."

Asher mengangkat kepalanya pelan-pelan, wajahnya masih diliputi rasa penyesalan. "Ada apa, Pak?" tanyanya dengan suara yang lebih lembut.

"Saya cuma mau bahas soal presentasi nanti siang," kata Callum santai. "Ngomongnya di kantin aja yuk? Sekalian ngopi biar emosi kamu reda."

Asher hanya bisa mengangguk, menahan rasa malu yang masih membekas, dan segera mengikuti langkah Callum menuju kantin.

Keduanya tiba di kantin tetapi Callum langsung berjalan menuju balkon menyuruh Asher membawakannya kopi. Tanpa banyak bicara, Asher segera membuat kopi untuk Callum dan dirinya sendiri.

Dengan dua cangkir kopi di tangan, Asher berjalan santai menuju balkon. Namun, tiba-tiba seseorang menabraknya dari samping, membuat cangkir kopinya terjatuh. Kopi panas itu menyiram tangan Asher dan orang yang menabraknya.

Asher terdiam, memandangi cangkir yang jatuh di lantai. Aneh, dia tidak merasakan panas yang seharusnya membakar tangannya. Sebaliknya, emosi bercampur aduk—marah, sedih, dan gelisah—menguasai dirinya.

"Maaf... maafkan saya..." kata orang yang menabraknya, panik.

Asher mengepalkan tangannya dan memaksakan senyum. "Iya, nggak apa-apa," jawabnya dengan tenang, meskipun di dalam hatinya dia ingin menangis.

Kerumunan mulai berkumpul, menarik perhatian Callum yang segera menghampiri. Ia melihat tangan Asher yang mulai memerah dan melepuh akibat air panas. Tanpa ragu, Callum meraih tangan Asher dengan cemas.

"Hey! Kamu nggak kesakitan?" tanyanya, menatap Asher dengan khawatir.

Mata mereka bertemu, dan tiba-tiba rasa sakit di tangan Asher mulai terasa. Air matanya hampir tumpah, tetapi dia berusaha menahannya. "Enggak apa-apa kok, Pak... ini nggak sakit, beneran," ucap Asher pelan sambil mengusap sudut matanya.

Callum tersenyum simpul, lalu menarik Asher ke dalam pelukannya. Dengan lembut, dia mengelus kepala Asher. "Iya, nggak sakit, kan? Kamu hebat, Asher. Iya, kan?"

Semua orang di kantin terdiam, kaget dengan apa yang mereka lihat. Namun, Callum tak peduli, dia tetap memeluk Asher dengan penuh perhatian, menenangkannya.

Asher menyembunyikan wajahnya di bahu Callum, merasakan kehangatan yang menenangkan. Dia mengangguk pelan, menikmati pelukan itu, berharap waktu berhenti sejenak.

"Kita obatin dulu tanganmu, yuk?" bisik Callum lembut.

Caught in boss's gripTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang