Jung Jeno, pemuda ceria dengan senyuman menawan, terpesona oleh Nakamoto Renjun, pemuda pendiam yang misterius. Jeno, dengan sifat polosnya yang ceria seperti anjing Samoyed, tak kenal lelah berusaha mendekati Renjun, si kucing Munchkin yang menyimp...
Hujan turun dengan deras, menutupi seluruh halaman sekolah dengan genangan air. Di dalam kelas, para siswa bersiap pulang. Sementara itu, Renjun duduk di kursinya, menundukkan kepalanya, terperangkap dalam pikirannya sendiri.
Di meja sebelah, Jeno memperhatikan dengan seksama. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Meski tidak ada kata-kata yang terucap, ada ketegangan di udara yang hanya bisa ia pahami dari cara Renjun menahan diri. Setelah beberapa detik terdiam, Jeno akhirnya memberanikan diri untuk mengajukan tawaran kecil. "Ingin pulang bersama, Renjun-ah?" katanya.
Namun, Renjun hanya menggeser tubuhnya sedikit, berusaha menyembunyikan wajahnya, seolah ingin menutup diri sepenuhnya.
Jeno mencoba sekali lagi. "Jika kau tidak membawa payung, kau bisa pinjam milikku," katanya, sambil meraih payungnya di bawah meja.
Renjun tetap diam, seakan tidak mendengar. Jeno pun memutuskan untuk bertindak. Ia mendekatkannya payungnya ke tangan Renjun, "Ini, kau bisa memakainya," ujarnya.
Namun, reaksi yang didapatkan Jeno sangat mengejutkan. Renjun dengan cepat menyentak payung itu dari tangannya. "Apa yang kau lakukan?! Aku tidak membutuhkannya!" bentaknya.
Jeno terdiam, matanya terfokus pada payung yang jatuh ke lantai, sedikit terluka oleh reaksi tersebut.
Haechan yang melihat kejadian itu, mendekat dan berbisik dengan suara rendah, "Renjun selalu murung saat hujan turun. Dia tidak pernah membawa payung. Kurasa dia membenci benda itu"
Sepertinya hujan bukan hanya sekadar hujan bagi Renjun. Hujan mungkin adalah kenangan yang tidak ingin dihadapi. Sebuah pengingat akan kehilangan yang mendalam, yang terus menghantui setiap langkahnya.
Tanpa banyak berpikir, Jeno memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menawarkan payung. Ia berlari keluar dari kelas, menembus hujan yang semakin deras, dan kembali dalam beberapa menit dengan jas hujan berwarna kuning cerah.
"Renjun-ah, lihat! Aku bawa ini!" seru Jeno sambil mengangkat jas hujan itu. "Ayo kita pulang bersama."
Renjun mendongak, menatap Jeno dengan tatapan ragu yang terpancar di matanya. "A-aku tidak bisa," jawabnya pelan.
"Kau pasti bisa!" kata Jeno dengan penuh keyakinan.
Namun, Renjun menggelengkan kepala. "Kau tidak mengerti," ucapnya dengan nada lemah. "Hujan... mengingatkanku pada rasa kehilangan. Setiap tetesnya membawa kembali kenangan yang menyakitkan."
Jeno, yang sebelumnya penuh semangat, kini menatap Renjun dengan lembut. "Aku tahu rasanya sulit, Renjun-ah," katanya pelan.
"Ketika hujan datang, rasanya seolah-olah dunia ini penuh dengan segala hal yang gelap. Tapi percaya padaku, hujan ini tidak akan bertahan selamanya. Sebagaimana setiap hujan akan berhenti, setiap rasa sakit pun akan menemukan titik akhirnya."
"Jangan biarkan dirimu terperangkap dalam rasa sakit itu. Kau berhak untuk merasakannya-untuk merasa lebih baik" lanjutnya. Ia mengulurkan jas hujan itu sekali lagi dengan senyuman hangat di wajahnya. "Aku akan menemanimu. Kita akan melewati ini bersama."
Tatapan Jeno penuh dengan keyakinan, mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian lagi-bahwa ada seseorang yang bersedia untuk berjalan bersamanya.
Perlahan, Renjun meraih jas hujan itu dan mengenakannya. Jas hujan itu sedikit kebesaran di tubuhnya, membuatnya terlihat menggemaskan. Jeno tidak bisa menahan senyum melihat pemandangan itu.
Mereka melangkah keluar kelas bersama. Namun, ketika mereka sampai di tangga kecil, Renjun terhenti. Tubuhnya tertegun, seolah ragu untuk melangkah lebih jauh.
Jeno yang melihat itu, tanpa ragu, mengulurkan tangannya. "Ayo kita hadapi ini bersama, Renjun-ah," ucapnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Renjun menggenggam tangan Jeno dengan erat, seakan mengandalkan kekuatan itu untuk melangkah lebih jauh. Kemudian, ia menginjakkan kakinya ke dalam genangan air. Dingin air langsung menyentuh kulit kakinya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Rasanya... tidak terlalu buruk," Renjun berkata pelan, matanya menatap permukaan air yang bergerak perlahan.
"Benarkan!" Jeno membalas dengan senyum cerah, melihat perubahan kecil dalam diri Renjun.
"Terima kasih, Jeno-ya," ucap Renjun dengan senyum tulus di wajahnya. Itu adalah senyuman pertama yang Jeno lihat dari Renjun. Meskipun kecil, itu sudah cukup untuk membuat Jeno merasa puas dengan langkah yang telah diambilnya.
Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka melangkah lebih jauh, menembus hujan, dan meninggalkan sekolah yang kini tampak jauh di belakang mereka.
🌧️🌧️🌧️
Mereka sudah sampai di rumah Renjun. Anak itu berdiri di depan pintu, memegang jas hujan yang Jeno berikan.
"Jas hujannya?" tanya Renjun.
"Bawa saja. Itu untukmu," jawab Jeno ringan.
"Terima kasih," ucap Renjun, berusaha memberikan senyuman kecil sebagai balasan.
"Kalau begitu, aku akan pulang," kata Jeno sambil berbalik untuk pergi, tetapi langkahnya terhenti.
Ia kembali menatap Renjun, lalu dengan lembut menepuk-nepuk kepala Renjun. "Kerja bagus, Renjun-ah," bisiknya.
Renjun terkejut dengan perlakuan Jeno yang tiba-tiba. Ia mengedipkan matanya beberapa detik, mencerna apa yang baru saja terjadi. Sebelum ia sempat mengucapkan kata-kata lain, Jeno sudah berlari meninggalkannya.
Di balik kaca jendela, Yuta berdiri, mengamati dengan tatapan yang tajam dan penuh kebencian. Ia mengepalkan tangan dengan erat, menciptakan suara gemeretak dari jari-jarinya yang tertekuk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
️ 🌧️Rains in Heaven 🌧️
Mohon bantuannya untuk like dan comment. Thank you ✨