"Kenapa nggak ada baju yang bagus sih di sini?!"
Suara tinggi Rion Alexander van Dijk menggema di dalam apartemen mewahnya. Berbagai potongan pakaian, mulai dari jas desainer hingga kemeja sutra, tergeletak acak di seluruh kamar. Rion berdiri di depan cermin dengan wajah cemberut, menggigit bibir bawahnya, merasa tak puas dengan apapun yang ia coba. Malam itu, ia harus menghadiri pertemuan dengan dua pria yang akan dijodohkan dengannya-sebuah perjodohan yang ia benci bahkan sebelum bertemu dengan mereka.
"Kenapa mami papi selalu begini? Aku kan udah bilang nggak mau!" gumam Rion sambil melempar dasi ke lantai.
Rion, meski sudah lama hidup mandiri di apartemennya, selalu punya kebiasaan bergantung pada kedua orang tuanya. Keputusan mereka soal perjodohan ini membuatnya geram, tapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tak pernah bisa menolak keinginan mereka. Lagipula, siapa lagi yang bisa memberikan kenyamanan dan kemewahan hidup yang ia jalani selain mereka?
Ponsel di meja berdering, layar menunjukkan nama Mami.
"Mami, aku nggak mau datang! Nggak ada baju yang cocok, dan aku nggak suka perjodohan ini!" protes Rion begitu ia mengangkat telepon.
"Sayang, kamu kan tahu kita melakukan ini semua untuk masa depanmu. Pilih baju apapun yang kamu mau, kamu tetap akan terlihat menawan. Jangan buat Mami sedih, ya?"
Suara mami-nya selalu punya cara untuk meredakan amarahnya, tapi malam ini, Rion tetap keras kepala. "Aku nggak mau nikah sama orang yang nggak aku kenal. Kenapa Mami Papi harus maksa?"
Di sisi lain telepon, terdengar tawa kecil. "Kamu tahu Mami dan Papi hanya ingin yang terbaik. Lagipula, mereka berdua adalah pria luar biasa. Kamu tinggal datang saja, ya. Jangan marah-marah terus, nanti jadi jelek."
Rion menggerutu sambil memandang lagi ke cermin. Ia tahu, tak peduli apa yang ia katakan, pada akhirnya ia akan pergi. Dan benar saja, tak lama kemudian, ia akhirnya memilih setelan terbaik-kemeja hitam tipis yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan celana formal yang elegan. Ia memandang dirinya di cermin, memutar sedikit tubuhnya.
"Setidaknya, mereka harus tahu siapa yang punya kendali di sini," bisik Rion pada dirinya sendiri sebelum ia bergegas menuju restoran tempat pertemuan akan berlangsung.
Malam semakin larut ketika Rion tiba di restoran mewah yang telah dipesan khusus untuk pertemuan itu. Suasana megah dengan kilauan lampu kristal menyambutnya, namun suasana hatinya tak secerah lampu-lampu itu. Langkahnya terasa berat, dan ia menggandeng erat lengan mami-nya yang sudah lebih dulu tiba bersama papi-nya.
"Kenapa harus seribet ini, sih? Aku nggak ngerti kenapa aku harus dijodohin," keluh Rion sambil memandang mami-nya dengan tatapan penuh harap untuk mendapat simpati.
Mami Rion hanya tersenyum tipis, "Sayang, kadang cinta itu butuh waktu untuk berkembang. Lagipula, pria-pria ini bukan sembarang orang. Mereka pilihan terbaik, kamu pasti akan menyukainya."
"Aku nggak yakin," gumam Rion dengan nada tajam. Ia merapatkan cengkeramannya pada lengan mami-nya, merasa tak nyaman dengan seluruh situasi ini.
Di tengah keluh kesah Rion, pintu VIP terbuka dan dua sosok pria yang berbeda masuk. Suara pintu yang perlahan tertutup membuat suasana seketika sunyi.
Mata Rion segera menangkap sosok Jared Leonhart, pria tinggi dengan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih tanpa cela. Jared tampak tegas, dengan aura yang memancarkan kekuatan dan kepercayaan diri. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang mengamati Rion dengan teliti. Di sebelahnya, Julian Crestfall-lebih santai, mengenakan setelan yang sedikit longgar namun tetap rapi. Wajahnya menampilkan senyuman hangat, seakan ia tidak terlalu memikirkan formalitas, namun tetap tak bisa dipandang remeh.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Strange Engagement || NoRenMin ✅
RomanceNoRenMin Fanfiction; Noren + Jaemren by: Ayu-Softiee21_ - CUKUP NIKMATI - BACA DAN AMATI - VOTE DAN KOMEN NYA WAJIB - YANG NGERASA SALAH LAPAK, JAUH JAUH.