Tedy dan Mimi bertetangga dan berkuliah ditempat yang sama. Ayah mereka berteman baik, tapi tidak dengan ibunya yang selalu julid untuk kehidupan satu sama lain.
Seperti pribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Namun sayangnya, bukan sifat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Usai perkara di lapangan rasanya tensi Mimi kembali naik, hancur sudah tujuan memperbaiki image menjadi wanita lemah lembut di kampus ini. Selalu ada Teddy yang mengganggunya, padahal Teddy bisa saja mengabaikannya, sama seperti kondisi mereka saat dirumah yang tidak pernah bertegur sapa walau jarak rumah hanya lima langkah. Ya kecuali jika memang ada hal yang mengundang untuk dighibahkan.
"Gue ngga nyangka hidup gue lebih bahagia, kalau gue bisa secara langsung menyaksikan ekspresi Mimi seperti tadi, ini lebih bahagia dari membawakan berita untuk mama dari hasil mengendap-ngendap dirumah Mimi" .
Teddy tampak puas dengan kejadian hari ini, mulai sekarang List membuat Mimi kesal secara langsung akan masuk dalam daftar kegiatan wajibnya setiap hari.
***
"Kenapa harus ada yang namanya Teddy Bear di dunia ini? Arrrrghhh, bisa ngga sih dia pura-pura ngga kenal gue. Cukup dirumah aja, gue muak liat dia mondar mandir pager rumah tiap hari cuma mau ngintip biar dapet cerita baru buat keluarganya". Mimi membenarkan kacamatanya yang melorot di depan cermin.
"Teddy Bear aslinya sih ngga salah, malah gemesin. Tapi yang jadi-jadian model si Teddy boneka sawah ini yang buat gue jadi kepingin jambak rambutnya yang bau minyak rambut tanco itu". Mimi akhirnya memutuskan membasuh wajahnya dengan air yang bersumber dari westafel toilet kampus, agar pikirannya tentang ketua BEM itu segera hilang.
"Finally balik juga, kemarin waktu baru daftar kuliah aja pingin cepet-cepet masuk kampus, sekarang baru dua hari kuliah bawaanya mau pulang cepet terus, mual soalnya liat orang muka tinja yang sok kecakepan". Mimi berjalan ke arah parkiran motor dan bersiap pulang.
"Sejak kapan motor gue sebelahan sama motor belalangnya si Teddy, males banget ngga sih. Kenapa pada nongkrong disana sih, mana motor gue di dudukin lagi"
Saat dua meter lagi menuju motornya, Mimi melihat Teddy dan teman-temannya asik mengobrol dan duduk di jok motor Mimi dan beberapa motor lainnya. Jika dia pulang sekarang, pasti seratus persen laki-laki itu akan mengerjainya. Akhirnya dia memutuskan memutar balik, tapi sayangnya sebelum putaran itu berbalik sempurna suara laki-laki mengurungkan niatnya.
"Eh adek yang minta dicintai tadi? Ngapain dek kesini, mau deketin kita-kita ya?". Boy teman Teddy berusaha menggoda Mimi dengan mengingat kejadian di lapangan tadi.
Tau bahaya yang akan datang, melihat laki-laki dengan rambut yang hampir menutupi dahi itu mulai menoleh kearahnya dan bibir laki-laki itu mulai terbuka, Mimi memutuskan lari sekuat tenang meninggalkan tempat itu.
"Stop!!! Kak Teddy ngga perlu ngomong apa-apa ya, gue pergi dari sini. Kabuuuur...."
Teddy yang menyaksikan itu langsung mengambil handphonenya dan mengabadikan Mimi yang nampak berlarian tanpa arah.