12

644 108 17
                                    

Suntikan terakhir buat Rora karena siang dia bakal pulang. Sekarang, infus udah lepas dan Rora ngeliatin sekitar, banyak barang yang harus di prepare.

Temen-temennya pada sekolah hari ini. Dia juga gak mungkin kan telpon Mama!

Toktok!

Pintu di ketok lalu di buka. Terlihat Pharita yang memakai seragam sekolah, masuk ke dalam.

" Chiquita gak bisa datang. Dia mau pelantikan anggota OSIS baru."

" Ah. Gak papa." Jawab Rora sambil Pharita meletakkan makanan yang dia beli.

" Sama Ruka?"

" Gak. Sendiri. Tadi, naik taxi."

" Izin?"

" Iya. Lagian, guru sejarah gak masuk." Jawab Pharita sambil mengeluarkan kota nasi yang dia bawa.

" Aku tadi beli makanan cepat saji. Di makan ya. Aku... beres-beres dulu biar cepat."

" Hem." Angguk Rora sambil Rita menyajikannya di atas meja biar Rora makan selagi dia beres-beres.

Waktu berjalan. Rora menguyah lahap makanannya sambil duduk di sofa, ngeliatin Rita kolar-kilir di depan meja.

Dia membersihkan sampah-sampah sisa makanan disana. Terus keluar kamar buat buang ke tong sampah.

" Ruka, gak marah?"

" Gak~ aku dah izin tadi."

" Apa perlu izin gitu?"

Pharita terdiam sambil berfikir tenang.

" Kan...."

" Ya i know... nothing." Poto g Rora yang nunduk untuk lanjut makan.

Pharita tuh sangat menghargai Ruka sebagai pacarnya. Meski Rora sahabat, namun rasa kecemburuan bisa datang dari berbagai aspek. Jadi dia gak mungkin apa-apa gak izin sama Ruka.

Rora memandang Pharita lagi. Itu cewek berhenti nunduk setelah mengancing tas. Kemudian berdiri untuk mengikat rambutnya.

Pandangan Rora nampak berbeda. Dia sampai berhenti nguyah Mandang cantiknya sahabat dia.

Mata Rita melirik. Rora kelihatan buang muka untuk lanjut makan sampai dia nunduk mengangkat tasnya biar di sajikan satu sama barang-barang lain.

" Nanti Ruka kesini jemput."

" Hem. Kamu udah makan siang?"

" Belum."

" Duduk sini, makan sama aku."

Pharita datang. Dia duduk di sebelah Rora yang bukain nasi kemasan lalu menggeser lauknya sekali ke atah Pharita.

" Aku berharap nasi goreng yang di bawa."

" Nasi goreng siang hari?"

" Emangnya harus malam?"

" Yaa.... kelihatan aneh~" Ucap Rita saat Rora meneguk habis air putihnya.

Toktok!

Suara pintu terdengar. Suster masuk membawa obat yang harus rutin Rora minum saat di rumah nanti.

" Pacarnya?" Tanya suster itu.

" Bu-"

" Iya." Jawab Rora.

" Ahh... cantik sekali!"

Rita tersenyum canggung. Dia melirik Rora yang melihat-lihat obat di tangannya.

" Kalau gitu, saya permisi."

" Makasih suster." Ucap Rita.

" Sama-sama."

Triple R (COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang