0029 - Di Tengah Ketegangan Proklamasi dan Penggrebekan Kempetai

36 3 0
                                    

Datuk Penghulu Basa entah berada dimana. Ke­giatannya sangat memuncak. Sebab waktu itu ada­lah penghujung bulan Juli, dua pekan lagi sebelum Proklamasi dibacakan di Pengangsaan Timur Jakarta. Pejuang – pejuang Indonesia meng­adakan kontak dengan tokoh – tokoh pergerakan.

Datuk Penghulu pimpinan dari delapan kurir utama kaum pejuang yang berpusat di Bukittinggi. Dialah yang meng­hubungkan kontak antara Mayor Dakhlan Jambek, yang saat itu bertugas dalam Gyugun dan bermarkas di Pasaman, dengan Mayor Makkimuddin di Payakumbuh.

Kepada mereka disampaikan pesan – pesan dari Engku Syafei. Yaitu tokoh pejuang di bawah tanah yang bermarkas di Kayutanam. Kontak itu juga meng­hu­­bungkan mereka dengan Encik Rahmah El Yunusiyah. Seo­rang pejuang wanita yang mendirikan sekolah Diniyah Puteri di Padang Panjang.

Menjelang hari – hari Proklamasi itu, kesibukan para pejuang ini sangat meningkat. Sebaliknya, Kempetai yang merupakan Polisi Militer Jepang, memperketat pula pengawasan mereka.

Sudah tentu anggota – anggota Gyugun yang berasal dari pemuda Indonesia berada dalam pengawasan utama dan sangat ketat. Ge­rak gerik mereka diawasi secara rahasia dan diam – diam.

Dari pengawasan dan penyelidikan itulah bocor rahasia tentang diri Datuk Penghulu ayah si Upik di Padanggamuak itu. Dari penyelidikan diketahui bahwa kusir bendi hanya dibuat sebagai kedok saja dari tugas mata –matanya. Kempetai menyiapkan suatu penyerangan ke rumahnya.

Malam itu lima orang Kempetai pilihan datang ke rumah mereka. Namun seperti telah diutarakan, saat itu Datuk tersebut tak ada di rumah. Yang ada hanyalah isteri Datuk itu, Mei – mei dan si Upik. Perempuan ketiganya.

Si Bungsu sendiri pun tak ada di rumah tersebut. Dia tengah menggantikan tugas Datuk Penghulu membawa bendinya. Ada beri­ta penting yang sedang dia nanti di kota. Yaitu tentang diri Saburo.

Untuk itu dia menyamar sebagai kusir untuk menemui kurir di kota. Tek Ani, si Upik dan Mei – mei kaget dan terhenti mengaji tatkala pintu didobrak oleh Kempetai.

"Mana Datuk Penghulu...?" tanya Kempetai itu dengan senjata terhunus.

Sementara yang seorang lagi mengawasi setiap sudut rumah. Mata mereka merah dan nyalang. Waspada terhadap segala kemungkinan. Ketika pernyataan itu diulangi, barulah Tek Ani menjawab, bahwa suaminya Datuk Penghulu memang tak ada.

Orang yang menggeledah itu kemudian berbisik – bisik dengan Komandannya yang berpangkat djun-i(pembantu letnan) yang memimpin penggerebekan itu.

Djun-i itu menatap Mei – mei dengan mata berkilat. Kemudian mengangguk. Yang berbisik tadi lalu keluar, kemudian terdengar suaranya menyuruh jaga sekitar rumah itu. Dari jawaban di luar, Mei – mei segera mengetahui bahwa di luar ada tiga orang lagi tentara Jepang.

"Hei, kamu sini ikut. Saya mau periksa..." djun-i itu berkata pada Mei – mei.

Si Upik mulai menangis. Tapi dia terdiam begitu dibentak oleh Kempetai yang seorang lagi. Lambat – lambat Mei – mei bangkit. Djun-i itu menelan ludahnya melihat tubuh gadis yang montok itu.

Se­gera saja dia menyeret tangan Mei – mei ke bilik yang biasanya tempat tidur si Bungsu. Kemudian pintu dia tutup. Si Upik memeluk ibunya dengan wajah pucat. Sementara serdadu yang satu lagi menatap mereka dengan seringai buruk.

Dari dalam kamar terdengar suara gelosoh posoh tak menentu. Kempetai yang di ruang te­ngah itu menelan ludahnya beberapa kali. Memba­yangkan kenikmatan yang sedang dikenyam oleh komandannya di dalam bilik itu bersama gadis montok tadi. Dia jadi tak sabaran menunggu giliran.

Cukup lama dia menanti, dan tiba – tiba pintu kamar terbuka. Mei – mei muncul dengan senyum di bibir. Dia memberi isyarat pada Kempetai yang ada di ruang tengah itu.

TIKAM SAMURAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang