44. Belajar Bersama

228 32 1
                                    

"Kejaksaan? Kakekmu punya informan dari kejaksaan?" tanya Habib tidak percaya.

Aina mengibaskan tangan. "Jangankan cuma kejaksaan. Bahkan Menteri, anggota DPR, bahkan sampai mahkamah agung dia juga punya koneksi. Dan kakekku itu sangat lihai dalam memanfaatkan koneksinya itu. Itulah yang membuat dia bisa sekaya sekarang."

"Hebat sekali," puji Habib takjub.

"Ayahmu masih jauh lebih hebat, menurutku. Kakekku itu sudah umur segitu kadang masih memikirkan dunia saja," elak Aina

"Kalau bisa dapat dua-duanya dunia dan akhirat kan lebih bagus,"

"Eh, Kamu tahu nggak sepupuku yang namanya Alex?"

Habib merenung sejenak karena Aina tiba-tiba mengganti topik. Berusaha menggali informasi dari ruang ingatannya.

"Yang rambutnya dicat biru itu ya?"

"Yups. Padahal dia ASN. Dia pernah ditegur sama sepupuku Kak Rendi, yang direktur rumah sakit. Eh, malah dia nantangin suruh nyari aturan mana yang melarang ASN mengecat rambut. Ya ternyata emang nggak ada sih setelah dicari-cari sama Kak Rendi. Tapi sebagai ASN kan nggak etis ya kalau kita ngechat rambut gitu."

"Dia agak nyentrik ya."

"Banget! Dia pernah lho tanya sama kakek. 'Kenapa Kakek terus menumpuk harta padahal nggak dibawa mati? Apa Kakek bisa mempertanggungjawabkan harta itu diakhirat kelak?' Kakekku sampai dadanya sakit ditanya begitu. Alex sampai diusir dan dilarang ikut acara keluarga sampai setahun. Kamu tahu bagaimana akhirnya dia diperbolehkan ikut arisan keluarga lagi?" tanya Aina.

Habib menggeleng.

"Kakekku ternyata sibuk mencari jawaban buat pertanyaan Alex itu. Dia bilang persis kayak kamu bilang barusan. 'Kalau bisa dapat dua-duanya dunia dan akhirat kan lebih bagus.'"

Habib dan Aina tertawa bersama. "Terus Alex bilang apa?"

"'Ya udah, aku doakan kakek dapat dua-duanya.' Alex ngomong begitu karena dipelototi sama orang tuanya."

Habib dan Aina tergelak lagi. Habib bisa membayangkan betapa aneh dan lucunya kejadian yang diceritakan oleh Aina itu.

"Aku pikir lagi sebenarnya Alex itu ada benarnya juga, cuman dia aja yang terlalu frontal. Kakekku sampai kena mental. Yah aku nggak kaget juga sih. Aku juga sering kena. Kamu tahu kan aku sering baca buku-buku parenting dari luar negeri. Waktu itu aku pernah bawa satu buku tentang Metode Montessori pas arisan keluarga. Eh ditegur sama dia. 'Ngapain kamu baca buku orang yahudi. Baca Qur'an dong!' Aku awalnya kesel banget sama dia. Tapi aku pikir-pikir bener juga dia. Ilmu mana di dunia ini yang paling baik selain ilmunya Allah? Aku baca Al Baqarah ayat 233 tentang menyusui anak selama 2 tahun. Aku takjub sih. Qur'an kan sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu, kok bisa relate dengan hasil penelitian medis terbaru. Makanya aku juga sekarang mulai belajar Qur'an dikit-dikit. Tapi aku belum lancar bacanya. Kamu mau ngajarin aku, kan?"

"Kalau kamu mau pasti aku ajari," angguk Habib.

"Itu yang aku perlukan, aku butuh seseorang untuk jadi imamku. Seseorang seperti kamu," senyum Aina.

Habib menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah bagaimana Aina selalu saja menemukan cara untuk memuji dirinya yang tak punya kelebihan ini. "Sebenarnya ilmu pengetahuanku masih cetek, Ai."

"Tentu saja. Ilmu pengetahuan Allah itu maha luas. Dan hanya yang dikehendaki-Nya saja yang bisa memahami itu. Tapi kita pasti bisa asalkan kita belajar bersama. Kamu mau kan belajar bersamaku untuk membina keluarga yang bahagia di dunia dan akhirat?"

Habib menghela napas. Rasanya dia harus terbiasa dengan Aina yang selalu membuat jantungnya melompat-lompat dengan sepatah dua patah kata saja.

"Iya, ayo kita belajar bersama."

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terpaksa Menikahi Dokter 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang