45. Kekurangan

196 38 5
                                    

"Karena kita nantinya mau menikah aku mau buka-bukaan soal kekuranganku. Biar nanti kamu nggak spot jantung," kata Aina sambil mengunyah bakso dengan lahap. Tenyata omongan Habib yang mengatakan warung bakso ini adalah yang terbaik di desa tidaklah bohong. Aina saja sudah tambah porsi ke dua.

"Kamu punya kekurangan?" ucap Habib tidak percaya.

"Semua manusia pasti punyalah. Aku itu nggak bisa masak. Nggak bisa bersih-bersih. Aku suka kentut sembarangan dan ketutku bau sekali."

"Sudah kuduga."

Ucapan Habib yang selingi tawa usilnya membuat Aina jengkel dan memukul pundak lelaki itu. Tapi kemudian mereka malah tertawa bersama.

"Apa kelihatan di wajahku kalau aku nggak bisa masak?"

"Kelihatan di kuku dan jari tanganmu yang halus."

Aina jadi memandangi kuku dan jari tangannya. Padahal kuku tangannya menurutnya biasa saja. Aina tidak terlalu hobi bersolek. Beda dengan sang kakak, Bela yang selalu menikur dan pedikur sebulan dua kali. Bermake-up adalah tuntutan pekerjaan Bela sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin. Tapi aslinya Bela memang sudah hobi berias bahkan sejak masih SD. Aina ingat Bela dulu sangat sering mencuri lipstik ibu mereka untuk berdandan. Aina hanya suka memakai lipcream, suncreen, BB cream dan loose powder. Sisanya dia tidak terlalu tahu-menahu. Dunia kecantikan tidak begitu menarik baginya.

Habib jadi merasa bersalah melihat Aina yang tampak insecure sampai mengamati lama tangannya.

"Kamu nggak usah khawatir karena aku jago masak. Nanti aku masakin," katanya.

"Beneran? Kamu nggak masalah dengan kekuranganku itu?" tanya Aina menyakinkan.

"Itu bukan masalah, Ai. Adikku juga nggak bisa masak. Masak air aja gosong. Memasak itu bukan tugas seorang istri. Dalam hukum Islam, itu adalah kewajiban seorang suami," jelas Habib.

"Masak? Bukannya masak dan bersih-bersih itu skill dasar seorang ibu rumah tangga?" tanya Aina tidak percaya.

"Nggak. Dalam Islam, masaka, mencuci, beres-beres adalah kewajiban suami."

"Hah? Terus tugas istri apa?"

"Mendidik anak dan mematuhi suaminya."

"Kalau kamu nyuruh aku bersih-bersih rumah berarti aku harus mematuhinya kan?"

Habib tertawa. "Nggak akan. Aku tahu kamu pasti sudah capek kerja."

"Beneran?" Aina masih tidak percaya.

"Apa sekarang kamu punya pembantu di rumah?" tanya Habib.

"Jelas. Aku nggak mungkin beresin rumah sendiri. Ada 1 ART dan 1 Satpam."

"Boleh jika saat kita menikah nanti aku minta mereka untuk berhenti?"

Pertanyaan Habib membuat Aina ternganga.

"Dengan penghasilanku yang sekarang ini aku sepertinya belum mampu untuk membayari gaji ART."

"Tapi aku kan punya uang."

"Ai, jika kita menikah kamu adalah tanggung jawabku. Uangmu bisa kamu simpan untuk kebutuhanmu. Urusan rumah tangga biar aku yang urus. Apa kamu mau kalau seperti itu?"

"Tapi... Rumahku terlalu besar. Bagaimana kita bisa membersihkannya?"

"Ya, kita harus belajar. Katamu tadi mau belajar bersama?"

Aina jadi ngerundel dalam hati. Dia tidak mengira omongannya akan diputarbalikkan.

"Ya sudah. Mereka sebenarnya ART di rumah Kakek. Kakek mengutus mereka untuk menemaniku saat tahu aku mau mencoba hidup mandiri. Akan aku minta mereka kembali ke rumah kakek saja lagi," ucap Aina dengan sedikit rasa tidak ikhlas.

"Penghasilanku rata-rata sebulan hanya 4 juta. Tapi aku masih harus membiayai orang tua dan adikku tiap bulan 2jt. Apakah tidak apa-apa jika aku hanya bisa memberimu 2jt sebulan?"

"Nggak masalah sih. Berbakti pada orang tua itu baik," senyum Aina. Bahkan seandainya Habib tidak bisa memberikan apa pun, Aina tidak terlalu peduli.

***

Terpaksa Menikahi Dokter 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang