【 O4 】

327 57 0
                                    

Perjalanan dari tempat tinggal suku Putra-Putri Gema menuju suku Tirai Daun terpaut jauh, namun itu tak menghentikan (Name) untuk tetap tapaki kakinya guna menyelesaikan hal yang memang diamanatkan padanya.

Lagi pula, dia juga mendapatkan tunggangan gratis dari seekor dinosaurus yang ia kenal. Jadi, (Name) tak perlu pakai banyak tenaganya untuk sampai ke destinasi tujuan.

Setelah menenggak air minum yang ia bawa, (Name) akhirnya telah pun menapaki tempat yang benar-benar berbeda nuansanya dari suku Putra-Putri Gema—yakni tempat suku Tirai Daun. Segeralah dia melaju ke satu titik yang sedari awal jadi tempat tujunya.

"Permisi, apa benar ini tempat tinggal orang yang namanya Aviz?" tanya (Name) pada seorang pria paruh baya yang terlihat sedang memberi makan saurian di halaman rumahnya.

Atensi pria paruh baya itu teralih kala mendengar sebuah pertanyaan yang terlontar dari sebuah suara asing di telinganya. Lantas dia buat kontak mata dengan orang yang ajukan tanya.

"Betul, ini rumah Aviz. Apa ada perlu dengan anakku?" Sebuah tanya kembali mengudara dari lisan lawan bicara. "Ah, aku ke sini untuk mengantarkan senjata milik Aviz yang telah ditempa, bisa aku menemuinya sekarang?"

Gagang dari pedang yang terbalut kain sederhana terlihat di tangan sang gadis yang ada di hadapan. Membuat pria paruh baya itu beri jawaban. "Sayang sekali Aviz sedang tidak di rumah sekarang—"

"Ayah!" Sebuah kalimat yang hampir selesai diinvasi oleh suara lain yang datangnya tak jauh dari sana. Membuat kepala (Name) juga sang pria paruh baya menoleh pada yang buat suara.

Itu Aviz. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dua orang lainnya. Dan salah satu orang yang bersama dengannya adalah..

"Kinich!" Kali ini giliran sang gadis yang kembali buka suara dengan pekikkan satu nama yang ia kenal.

Melihat eksistensi (Name) yang tanpa duga, buat Kinich lontarkan sebuah kalimat. "(Name)? apa yang sedang kau lakukan di sini?" heran Kinich masih dengan raut dan nada suara datarnya yang khas.

"Oh, kakak penempa ternyata di sini!" Suara Aviz membuat pandangan (Name) teralihkan dari Kinich yang juga datang bersamanya.

"Pedangmu sudah aku tempa sesuai dengan pesanan yang diminta." Kedua tangannya terulur upaya memberikan sebuah senjata yang sudah tak terbalut dengan kain.

Sebuah senyum lantas terbit dari bibir Aviz. Pemuda itu terima uluran tangan (Name) yang terdapat pedang miliknya. Dengan senang hati mengangkat tinggi pedangnya yang sekarang terlihat lebih berkilau dari sebelumnya.

"Terima kasih karena sudah repot-repot datang ke mari, ya, kakak penempa! padahal aku bisa saja meluangkan waktu untuk mengambilnya sendiri hari ini," ungkap Aviz masih dengan euforia yang hinggap di dada.

(Name) berkedip lembut. Menggerakkan tangannya ke kanan-kiri. "Tidak, tidak, jangan sungkan. Kamu bilang padaku kalau kamu sedang sibuk dengan persiapan Ziarah tahun ini, kan? Jadi, aku berpikir untuk mengantarnya secepat mungkin."

Sungguh, memang tak salah waktu itu Aviz percayakan pada (Name) untuk menempa pedangnya yang telah tumpul itu. Estimasi yang dibutuhkan tak memakan waktu yang lama dan hasil pelayanannya juga terlihat menjanjikan.

"Kinich, akhirnya kita bisa latihan lagi untuk acara Ziarah berkelompok nanti!" Aviz berujar pada temannya yang dibalas deheman singkat dari pemuda dengan dominan warna hijau.

Mendengar ini, membuat (Name) tersadar kalau Aviz merupakan salah satu anggota kelompok dari Kinich yang akan mengikuti Ziarah tahun ini.

"Oh iya, berapa mora yang harus aku bayar untuk ini?" Sang gadis yang ditanya menarik senyum simpul. "Bagaimana kalau 0 mora?"

"0 mora, ya? itu cukup—apa?!" Ritme suara yang dibuat Aviz seketika berubah saat mengetahui respon dari lawan bicaranya. Apa orang yang ada di hadapannya ini sedang bergurau?

"Kakak penempa, apa kau sedang bercanda..?" Dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, (Name) berkata, "tentu tidak. Aku tak akan bercanda soal harga yang harus dibayar untuk jasaku," ungkapnya sama sekali tak terbesit nada bercanda.

Aviz tentu bingung dengan situasi yang menjebaknya. Tentu dia akan senang apabila tak harus mengeluarkan sepeser mora pun untuk pedangnya yang telah ditempa, tapi Aviz rasa itu tak adil untuk kerja keras orang yang telah melakukan pekerjaan tersebut.

Tetapi usai berbincang cukup lama, Aviz menerima bahwa (Name) memang tak ingin menerima 1 peser mora pun dari Aviz. Sang gadis meyakini dan hal itu berhasil buat Aviz menyetujuinya.

𝐑𝐄𝐏𝐀𝐘 ー⌗KinichTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang