"Apa itu benar, Nduk?" tanya Abah yang tidak yakin dengan cerita Nisa tentang beasiswa yang menggebu-gebu.
"Saya sudah melihat rapot dan sertifikat Nisa tadi. Nisa punya potensi. Saya akan bantu untuk Aina mendaftar di program beasiswa yang disediakan oleh perusahaan kami," senyum Aina.
"Apa ndak sulit Nak Aina? Bukannya beasiswa seperti itu seleksinya ketat?" tanya Abah.
"Di Perusahaan kami tidak seketat itu. Tapi kalau melihat bakat Dik Nisa, saya yakin dia lolos."
Habib tidak berkomentar. Dia hanya memandangi Aina, Abah dan Nisa yang sedang berdiskusi masalah kuliah Nisa nantinya. Ternyata permasalahan hidup yang baginya susah dan tidak ada solusi itu, berubah jadi mudah bagi Aina. Bagaimana bisa dia mendapatkan wanita seperti Aina dan tidak mensyukurinya? Tapi mampukah dia membahagiakan Aina nantinya? Dia yang tidak punya apa-apa ini. Apa yang bisa dia berikan pada Aina? Uang 2 juta sebulan bagi Aina pasti hanyalah recehan. Padahal Habib bekerja siang dan malam untuk mendapatkannya.
"Bib, kamu ngelamunin apa? Tundukkan matamu, Aina belum halal buatmu."
Ucapan Abah membuat Habib langsung merunduk. Kok dia jadi nggak sadar kalau daripada ngelihatin Aina terus. Tawa Ayahnya dan Nisa yang mengudara membuat Habib jadi malu sendiri.
"Dasar anak muda ya. Kayaknya kalian memang lebih baik segera menikah saja. Ayo kapan?"
Habib melirik ayahnya dengan dahi mengkerut. Apa ayahnya serius bicara begitu? Apa memang mereka seharusnya segera menikah saja? Apa Habib yang seperti ini sudah pantas untuk Aina?
"Kalau bulan depan bagaimana menurut Abah?"
Habib jelas melotot mendengar sahutan Aina yang polos.
"Bulan depan? Ya... Abah akan mencari tanggal yang baik dulu untuk menemui orang tuamu."
Habib melongo. Bagaimana bisa abahnya menjawab seperti itu tanpa memedulikan pendapat Habib sama sekali! Dia yang mau nikah tapi kok dia tidak dilibatkan di sini!
"Minggu depan bagaimana?" tawar Aina.
"Minggu depan ya? Hm... Sepertinya oke. Bagaimana, Bib?"
Habib tersenyum walaupun hatinya dongkol sekaligus gemetaran. Bagaimana ini? Masak beneran bulan depan dia nikah?
"Kita pikir-pikir dulu bagaimana, Bah? Bulan depan apa tidak terlalu mepet? Habib dan Aina bertemu dan kenal masih baru kurang lebih satu bulan," tekan Habib.
"Tapi kalau sudah merasa cocok ya sudahlah. Abah sama Umi dulu aja cuman lihat sekali aja bulan depannya langsung ijab kok. Abah lihat kamu juga sudah tidak sabar begitu. Kalau ditunda nanti malah bahaya."
Habib ternganga. Tidak sabar? Tidak sabar dari mananya? Masak Abahnya tidak tahu kalau Habib ini sedang galau dan bimbang! Melihat Aina yang berdeham-deham sambil mesam-mesem bikin Habib makin panas dingin saja. Apa Aina juga melihatnya seperti itu? Apa dia terlihat tidak sabar buat kawin?
"Hihihi! Mas Habib ternyata nggak sabaran!" Nisa malah ikut-ikutan.
Habib merosot. Sepertinya tidak ada yang memahaminya di sini. Ataukah ini memang jalan takdirnya? Apakah ini adalah jawaban dari shalat istikharahnya dari malam? Apakah dia memang harus segera menikahi Aina? Habib tidak mengerti.
"Kalau begitu, Saya teleponkan Kakek saya dulu. Biar beliau juga bisa mengatur jadwalnya."
"Iya, tolong disampaikan ya, Nak."
***
Halo pembaca yang budiman! Alex di sini. Bagaimana kabar kalian. Aku kapan hari sudah pengen maki-maki aja pas Habib dan Aina ngata-ngatain aku. Tapi kok Mamiku lupa terus aku nggak ditulis sama dia. Jahat banget. Ya udah sekarang aku hadir di sini buat ngetawain dua orang nggak jelas ini aja. Aku doakan kalian lancar acara pernikahannya. Walaupun aku sudah tahu kalau nanti kalian bakal nyari aku di akhir cerita dan bilang mau cerai. Yah kita tunggu saja bakal jadi kayak apa kehidupan rumah tangga kalian. Wkwkwkwk. Aku spoilerin ya Guys. Udah gitu ajalah. Sampai jumpa lagi.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.