Nela menatap papan tulis dengan banyaknya bahan untuk ulangan kenaikan kelas. Ia menatap Starla sekilas kemudian menunduk.
"Bu, saya izin ke kamar mandi" guru matematika itu hanya mengangguk, suara Nela bergetar menahan tangisnya. Starla bangkit dan juga mengikuti gadis itu, khawatir Nela melakukan sesuatu.
Nela berhenti di lorong, menatap ke belakang. Mendapati Starla berdiri di belakangnya, air mata terlihat mengalir dari pipi nya.
Starla melangkah mendekati Nela, air matanya juga luruh usai menatap Nela, air mata yang mengalir dengan deras tanpa suaranya itu.
"Jangan nangis, El," Nela menatapnya, menggigit bibirnya, bibirnya bergetar, Nela menggeleng dan tangisannya semakin menjadi. Starla memeluk tubuh sahabatnya itu erat.
"Kiki pasti gak suka liat lo nangis kayak gini, jangan nangis, nanti kita dateng ke makamnya, janji!" Starla menghapus air matanya.
"Kiki udah bosen ya dengerin gue ngomel? Dia udah bosen ya liat gue? La, gue pengen Kiki, gue mau sama Kiki" Riku menaiki tangga, matanya menatap pemandangan yang menyayat hati. Bohong, jika ia tak mendengarkan ucapan Nela barusan.
"Kita jenguk Kiki nanti yaa"
"La, gue belum siap kehilangan Kiki"
"Kita juga belum El, kita juga belum" suara Starla memelan diakhir kalimatnya.
"Kiki di skors gue udah gak mau sekolah, gimana kalo kita beda alam gini, La?"
"Jangan egois, Nel, kita semua juga sedih" seorang gadis berambut panjang dengan hiasan jepit rambut berbentuk stroberi tiba-tiba muncul.
"Tau apa lo soal gue sama Kiki?! Keparat sialan!" Nela menatap gadis itu dengan air mata yang masih mengalir.
"Gue? Gue anaknya bu Anggi. Guru yang paling di puja sama cowo lo itu. Cakep banget emang nyokap gue sampe cowo Lo aja tertarik sama nyokap gue."
"Lo bangga kalo nyokap lo jadi incaran seorang Ryuzaki? Dongo." Kubo datang dengan setumpuk kertas try out untuk kelasnya dan kelas lainnya.
"Gue bahkan curiga kalo ternyata selama ini bu Anggi yang ngejar-ngejar Kiki" ucap Starla sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Bener, waktu itu aja Kiki tiba-tiba dipanggil ke ruang bk dan di tuduh ngerokok padahal waktu itu, gue, Kiki, sama Izumi lagi makan di kantin, bu Anggi juga liat bahkan gue sama anak-anak sempet nyapa. Nyokap lo ngejar? Ngeri banget"
"Apa? Mau lapor? Lapor, gue juga bisa ngelaporin nyokap lo itu!" Ucap Kubo sembari menatap gadis itu, menantang.
"Ihhh, awas aja kalian semua! Liatin besok!"
"NIH GUE LIATIN, MANAA!? SOK IYE LO JAMET, SOK IMUT!" Izumi tiba-tiba muncul entah darimana.
"Darimana Jum?"
"Olahraga"
"Kok sampe sini?" Nela menatap lantai bawah.
"Kabur hehe" Nela fokus menatap lantai bawah.
"Nel, jangan gitu, mending kita ke kantin yuk"
"Ikut!!!"
"Lo lagi olahraga kocak!"
"Kak Riku sama kak Kubo kok gak ikut?"
"Mau ngasih kertas hasil try out dulu" sahut Riku.
"Duluan aja, bentar lagi juga bel istirahat kok" ucap Kubo di angguki oleh 3 remaja itu.
🌊
🌊
🌊

YOU ARE READING
The 6 Friends of Fate
Action"Bukan gue!" "Gue gak tau apa-apa" "KALO SEMUA BILANG ENGGAK, TERUS SIAPA YANG JADI IMPOSTOR!?" Teriakan Nela menggema. 'Mereka udah saling tuduh? Kayaknya seru' "IZU LO, LO BUAT JANJI SAMA IBLIS!?" "RIKU AWAS!" "RYU!!" "NELA UDAHH MAU LO SAMPE NAN...