50. Malam Pertama

461 45 4
                                    

Habib terbaring lemah di ranjang. Kakinya rasanya bergetar karena terus duduk dan berdiri di pelaminan hampir 8 jam lamanya, menyalami 2000 lebih tamu undangan yang tiada habisnya. Sungguh dia tidak menyangka kalau menikah itu akan selelah ini.

Aina baru saja keluar dari kamar mandi. Semua riasannya sudah dicopot. Rambutnya basah dan dia mengenakan daster sederhana dengan motif batik yang warnanya agak memudar. Habib kira Aina bakal pakai lingerie atau apa gitu kek yang agak romantis. Kok ya daster.

"Kamu nggak mandi?" tanya Aina sambil duduk di sebelah Habib dengan santai dan menyalakan hair dryer.

"Nanti ajalah, masih pegal-pegal," tolak Habib.

"Justru kalau capek itu paling enak dipakai berendam di air hangat."

Habib memandangi sekali lagi Aina yang sedang mengeringkan rambut. Habib duduk lalu memeluk istrinya itu dari belakang. Rasanya belum terasa nyata kalau dia kini sudah menikah.

"Bau keringet!" omel Aina sambil meronta berusaha melepaskan diri dari Habib.

"Kamu harus terbiasa dengan bauku," kekeh Habib.

"Hiii."

Habib dan Aina tertawa bersama. Menikmati momen kebersamaan mereka.

"Ayahmu mirip Hitler ya," komen Habib tiba-tiba.

Aina tergelak lagi. "Kumisnya ya? Yah, agak mirip sih."

"Bikin aku hampir salah aja ngucap ijab kabul tadi."

"Makanya kamu bawa contekan?" kekeh Aina.

"Hehe, iya."

Aina dan Habib terdiam sejenak. Posisi mereka masih sama. Habib memeluk Aina dari belakang. Rambut Aina sudah lumayan kering. Kini dia diam dan bersandar pada tubuh suaminya.

"Kak Bella tadi ribut karena ayahmu ngajakin istri dan anaknya," cerita Habib.

"Iya, aku juga dengar tadi diceritain Agmi. Kak Bella emang terlalu sensitif sama istri baru ayah dan saudara tiriku."

"Kamu nggak?" tanya Habib penasaran. Wajah Aina sih terlihat santai saja selama ijab tadi sekarang pun istrinya itu tetap tenang.

"Aku lebih nggak peduli sih. Ada 2000 lebih tamu undangan di pernikahan kita. Nggak semuanya aku kenal juga. Nambah 2 tamu tidak diundang nggak ada bedanya."

"Kamu sudah memaafkan ayahmu?"

Aina memegangi dagunya. "Aku pernah bilang kan? Aku masih terlalu kecil saat ayah pergi dari rumah. Sejak awal aku memang tidak pernah berharap padanya, jadi aku biasa saja. Aku menganggap ayahku itu seperti kerabat jauhku yang lainnya. Kami hanya perlu bertemu sesekali saja saat ada acara keluarga. Dulu memang pernah ada rasa sedih waktu aku masih kecil teman-temanku dijemput ayahnya saat pulang sekolah sementara aku tidak. Tapi kemudian kakekku yang menggantikan peran ayah. Kakekku selalu mengantar jemput sampai kami lulus SD. Aku pikir kakekku saja sudah lebih dari cukup. Aku tidak memerlukan ayah. Tapi Kak Bella berbeda. Kak Bella adalah anak pertama dan katanya dulu dia kesayangan ayah. Kak Bella selalu berharap ayah pulang."

Habib terdiam mendengar penjelasan dari Aina. Wajah jengkel Bella tadi jadi terbayang. "Kasihan juga ya Kak Bela."

"Makanya Kak Bella itu susah menjalin hubungan. Padahal Kak Bella itu cantik dan banyak yang suka. Tapi dia tidak mau membuka hatinya. Aku dan ibu selalu berharap, semoga suatu saat akan ada lelaki yang bisa menyembuhkan luka hatinya. Namun Kak Bella sendiri juga harus bisa memaafkan dan mengikhlaskan ayah dan pilihan hidupnya."

"Kalau ibumu bagaimana? Apa ibumu juga sudah memaafkan ayahmu?" tanya Habib penasaran. Dia melihat tadi ibu mertuanya itu duduk bersama dengan ayah mertuanya dengan santai. Bahkan mereka sesekali mengobrol dan tertawa.

"Ibuku selalu bilang, memaafkan adalah kemenangan terbaik. Menyimpan dendam dan amarah hanya akan menyakiti diri sendiri. Ibuku lebih suka berfokus pada hal-hal yang membahagiakan daripada yang membuat stres. Setidaknya ibuku tetap jadi anak mantu kesayangan dan masalah uang kami tidak kekurangan. Kata ibu itu cukup. Ayah juga tidak bisa menceraikan ibu meskipun ingin karena Kakek menentangnya. Kakek pernah bilang ayah tidak akan dapat warisan jika melakukannya."

"Kakekmu benar-benar berkuasa ya," komentar Habib.

Aina tertawa. "Yah, siapa orang di dunia ini yang berani menentang Kakek?"
***

 "Yah, siapa orang di dunia ini yang berani menentang Kakek?"***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 21, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Terpaksa Menikahi Dokter 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang