Part 29

19 4 1
                                    

PS, 27 Januari 2025

💭💭💭

Author POV.

"Dia sudah pergi, pemakamannya akan diselenggarakan sore ini."

Drrrt...

Pria tampan dengan wajah menegang dan ditemani secangkir kopi ditangan kirinya sedang membaca deretan pesan dari seseorang. Ternyata apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.

"Aku berhutang nyawa padamu." Ucapnya lirih dengan nada suara yang hampir saja tak terdengar. "Harusnya aku tidak meninggalkan wanita itu sendirian. Pria gila itu tentu tidak akan membiarkannya lolos begitu saja."

Pria yang sedang membaca pesan ini adalah Harry. Ia terlihat memejamkan matanya dan sesekali membenturkan kepala kearah sofa.

"Polisi menyimpulkan khasus ini sebagai bunuh diri, karena CCTV dari arah lain menunjukkan wanita itu yang menjatuhkan dirinya."

-video rekaman CCTV.

Astaga. Mata Harry berhasil membulat sempurna. Entah beban apa yang wanita ini pikul sendirian, dengan perutnya yang besar wanita itu dengan santai menjatuhkan badannya dari ketinggian, bahkan ia sempat tersenyum sebelum melanjutkan aksinya.

"Terima kasih untuk kerja kerasnya, aku akan mengingatnya dengan baik. Dan akan ku balaskan dendam ini agar kalian tenang di sana."

Yah, kalian. Tentu saja yang dimaksud Harry wanita itu bersama janin yang cukup membesar dalam perutnya.

"Kau beritahulah dia, bagaimanapun mereka tetap masih terikat saudara tak sedarah."

Ya. Harry tau maksud seseorang diseberang sana. Hubungan persaudaraan tak sedarah yang sempat merenggang karena kesalah pahaman.

"Aku akan mempertemukan kalian untuk terakhir kalinya." Ujar Harry berharap.

Hiks... Hikss... Hikss...

Harry segera mengalihkan perhatiannya dari benda pintar yang sedari tadi ia genggam. Pikirannya kini sedikit terusik dengan suara tangis seseorang yang ia ketahui.

"Apa dia menangis?" Tanya pria itu membatin. Harry segera berlari pada sumber suara, dan benar saja. Ia menemukan seorang wanita berbanjir air mata dengan tubuh yang ditekuk di dalam selimut.

"Kau menangis?" Tanya Harry mendekati.

Hiks... Hiks...

Gelengan. Hanya menggeleng. Sekali lagi, jawaban yang Harry terima hanya sebuah kepala yang menggeleng dengan isakan suara yang semakin meninggi.

Sebuah pemikiran buruk mengkhawatirkan kini berputar indah dibenaknya.

"Kau menyesal?" Langsung saja, Harry bertanya pada intinya. Pasalnya, ia melakukan kesalahan fatal semalam. Bukan, bukan. Bukan hanya dirinya, tetapi mereka.

"Tak ada gunanya menyesal." Jawab gadis itu dengan nada suara bergetar.

Arrghh.. Harry cukup frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya. Kejadian semalam kembali berputar di ingatan Harry, ia lepas kendali sehingga merebut keperawanan gadis dihadapannya ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Perfect Tonight [ SLOW UPDATE ✓ ✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang