halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!
⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIRhappy reading!
•••Dengan wajah pucat, Caramela akhirnya meraih satu testpack pertama. Mata cokelatnya membelalak saat melihat hasilnya. Garis dua. Tangannya gemetar lebih hebat saat ia mengangkat testpack kedua, lalu ketiga. Sama. Semuanya menunjukkan hal yang sama.
Tubuhnya seketika melemas. Testpack itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan bunyi yang nyaris tak terdengar. Matanya menatap kosong ke arah lantai, tubuhnya berguncang kecil.
"Gak mungkin... ini gak mungkin..."
bisiknya pelan, suara serak keluar dari tenggorokannya.Air mata perlahan menggenang di matanya. Ini adalah kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. Pikiran-pikirannya berputar lebih cepat, namun ia hanya bisa terduduk di sana, dilumpuhkan oleh sesuatu yang terlalu besar untuk dihadapi sendirian.
Ketukan pelan di pintu mengagetkan Caramela yang masih terduduk lemas di lantai. Matanya yang sembab menoleh ke arah pintu. Suara lembut namun tegas menyusul dari balik kayu berwarna cokelat itu.
"Non Mel, bangun. Sudah pagi. Mbok sudah siapkan sarapan. Waktunya siap-siap sekolah," panggil Mbok Tuti, ART di rumahnya.
Caramela menatap kosong ke arah pintu. Ia ingin menjawab, tetapi suaranya tercekat.
Dengan susah payah, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tangannya menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya. Namun tubuhnya terasa terlalu berat untuk sekadar berdiri.
"Non? Apa Mbok boleh masuk?" tanya Mbok Tuti lagi, kini terdengar sedikit khawatir.
Caramela berusaha menguasai dirinya, "G-gak, Mbok... aku udah bangun kok. Aku gak enak badan, Mbok." jawabnya dengan suara serak.
"Oh, ya ampun, Non. Mbok ambilin obat ya? Atau mau Mbok bilangin ke Ibu sama Bapak?"
"Gak usah... Aku cuma mau istirahat. Gak perlu ke sekolah hari ini," katanya cepat, hampir memotong.
Hening sesaat. Caramela tahu Mbok Tuti pasti merasa aneh, karena seingatnya, tidak pernah sekalipun ia absen dari sekolah tanpa alasan yang benar-benar darurat.
"Ya sudah, kalau begitu Mbok bawain bubur nanti. Istirahat yang cukup ya, Non," kata Mbok Tuti akhirnya, suaranya tetap lembut meski terdengar ragu.
Setelah mendengar langkah Mbok Tuti menjauh, Caramela memejamkan matanya. Tubuhnya bersandar ke dinding, sementara tangannya menggenggam erat lututnya. Hatinya terasa sesak, dan pikirannya terus dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaimana mungkin ia menghadapi semua ini?
Tiba-tiba, wajah kedua orang tuanya terlintas jelas di benaknya.
Sosok Ayah-nya yang selalu penuh wibawa, dan Bunda-nya yang lembut tapi tegas. Mereka telah membesarkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Mereka memberinya kepercayaan dan kebebasan. Tapi kini, ia merasa telah menghancurkan semua itu.
"Mereka pasti kecewa... Ya, sudah pasti kecewa." ucapnya lirih, suaranya pecah di akhir kalimat.
Caramela kembali mengingat segala perjuangan mereka untuk memastikan masa depannya cerah. Dan sekarang? Semua hancur begitu saja.
"Bodoh! Caramela bodoh!"
•••
don't forget to vote n comment ‼️

KAMU SEDANG MEMBACA
Caramela (SELESAI)
RandomCaramela Start : 1/1/25 Finish : 18/2/25 ••• Deskripsi : Caramela selalu percaya bahwa hidupnya akan semanis namanya. Namun, dalam satu malam, segalanya hancur. Ia dipaksa menanggung luka yang tak terlihat, meninggalkan bekas yang tak akan pernah h...