Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi
Bersiul-siul sepanjang hari, dengan tak jemu-jemuBegitulah Nita mengiringi Niki menyanyi sepanjang jalan menuju ke sekolah. Hari ini, Niki akan memulai hari sekolah pertamanya. Niki sangat senang sekali. Itu bisa terlihat dari semangatnya untuk terus menyanyi bersama Nita. Niki boleh berbangga karena kedua orang tuanya, Aku dan Nita, ikut turut menemani hari pertamanya bersekolah. Aku dan Nita sengaja mengosongkan jadwal dan mengambil cuti untuk seminggu ini. Kami ingin melihat Niki melewati hari-hari pertamanya di sekolah.
Kemarin, Niki menghabiskan waktu seharian untuk membeli peralatan sekolah. Niki kelihatan tidak berselera untuk membeli mainan apapun. Niki memaksa aku dan Nita untuk menuruti keinginannya. Betapapun Nita telah mengingatkan Niki bahwa semua itu belum akan digunakan pada minggu pertama sekolah. Niki tetap pada pendiriannya. Ada pancaran semangat dari matanya. Kami pun mengalah.
Tidak berhenti sampai disitu, malamnya Niki bersemangat sekali untuk mempersiapkan peralatan sekolahnya. Buku tulis, pensil, kotak pensil, kotak makan, semuanya berwarna merah muda dan bercorak kartun kesayangan Niki, Hello Kitty. Niki seakan tidak sabar menunggu besok. Aku masih memperhatikan Niki menata semua alat sekolahnya itu dari ruang tengah. Begitu juga dengan Nita yang duduk menemani Niki dikamarnya.
Aku tahu Niki sebenarnya lebih menginginkan keakraban seperti biasanya. Aku, Niki, dan Nita jalan-jalan bersama. Sudah jadi kebiasaan kami seminggu sekali untuk mengajak Niki rekreasi ke luar rumah. Niki lebih membutuhkan waktu untuk bersama selalu dengan kedua orang tuanya. Aku dan Nita terus berusaha memenuhinya. Walau kenyataannya, aku sudah tidak bersama Niki dan Nita lagi. Aku dan Nita tidak ingin Niki kehilangan figur Papa dan Mama yang mampu jadi sosok teladan baginya.
Di dalam kamar, Niki meminta Nita untuk menyanyi bersama. Rupanya, hadiah ulang tahun dariku tidak sia-sia. Niki menyenangi semua lagu yang ada di album kumpulan lagu anak itu. Aku juga senang melihatnya. Nita kelak tidak akan kerepotan mengajari Niki untuk menyanyikan lagu untuk anak-anak TK seusianya. Suatu hal yang sulit dilakukan karena saat ini anak-anak dengan mudahnya menyerap lagu-lagu yang tidak pantas dan sepatutnya mereka dengarkan. Aku dan Nita tidak akan pernah memaafkan diri kami sendiri bila hal ini sampai terjadi.
Niki masih menyanyi.
Kupandang langit penuh bintang bertaburan.
Berkelap-kelip seumpama bintang berlian.Aku pergi keluar sebentar. Di meja teras, aku menemukan kertas-kertas berserakan penuh coretan tangan Niki. Aku perhatikan satu-satu. Lembar demi lembar. Aku tersenyum sendiri melihat coretan tangan Niki. Aku melihat Niki berusaha sangat keras untuk menuliskan kalimat yang dicontohkan Nita.
Niki naik sepeda.
Papa dan Mama naik mobil.
Niki sayang Mama dan Papa.Ah, aku jadi merinding membayangkan bagaimana Nita mengajari Niki tulis menulis. Tidak hanya itu, aku pun hampir menangis mengingat Nita yang lebih dari sekedar sabar untuk mengajari Niki membaca alfabet dan angka.
Aku masuk lagi ke dalam rumah. Aku hendak menyalakan TV ketika aku mendengar Niki bertanya.
"Ma, Papa kapan nggak akan terbang lagi?"
"Lho kok Niki tanya gitu?"
"Habis Papa nggak pernah ada di rumah, Ma. Niki kan pengen sering jalan-jalan lagi sama Papa."
"Kan bisa sama Mama?"
"Iya, tapi Niki pengen sama Papa juga."
"Niki sayang, nanti kalo Papa lagi nggak terbang Papa pasti pulang."Aku tahu saat seperti ini pasti amatlah sulit untuk Nita hindari. Niki sudah sering bertanya seperti itu. Aku salut pada ketabahan Nita untuk menghadapi Niki dengan sejuta pertanyaan yang mungkin masih disimpannya. Aku tidak jadi menonton TV. Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Buat Ninda dan Hal-Hal yang Tak Selesai
RomantiekSatu dan beberapa catatan yang terselip untuk Ninda. Lengkap dengan beberapa hal yang tidak pernah selesai