Lee Nari, seorang gadis muda yang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe, hidup dalam bayang-bayang hutang orangtuanya yang telah meninggal dua tahun lalu. Setiap hari, ia terjepit dalam beban utang yang tak kunjung selesai, membuatnya berjuang hany...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•
•
•
•
•
Hari itu, Lee Nari sedang menikmati waktu santainya di kamar apartemen kecilnya di distrik Eunpyeong. Dinding apartemennya tipis, sehingga suara klakson mobil di luar masih terdengar samar, bersahut-sahutan dengan percakapan para tetangga yang sibuk menonton drama Korea malam.
“Lee Nari!” Pintu kamarnya diketuk keras oleh Park Mina, sahabat sekaligus rekan kerjanya di Café Maple.
“Apa lagi sekarang?” Nari membuka pintu dengan wajah lelah.
Mina, dengan senyum lebar di wajahnya, melambaikan selembar undangan elegan berwarna hitam dan emas. “Kita diundang ke pesta perayaan Gyeong Group malam ini!”
“‘Kita’? Maksudmu aku juga?” Nari menaikkan alisnya.
“Ya! Undangan ini untukku, tapi tertulis aku bisa membawa beberapa teman. Aku sudah ajak Jihun juga. Ayo, Nari. Ini kesempatan langka!”
Nari ragu. “Aku? Ke pesta mewah seperti itu? Kau tahu aku tidak punya baju yang pantas.”
“Tenang saja,” Mina menggenggam tangannya dengan semangat. “Aku sudah siapkan semuanya. Aku tidak akan menerima alasan apa pun!”
---
Beberapa jam kemudian, Nari berdiri di depan cermin di apartemen Mina. Gaun selutut berwarna biru muda dengan potongan sederhana membalut tubuhnya. Mina, yang telah membantu menata rambutnya menjadi gelombang sederhana, tersenyum puas.
“Lihat, kau cantik sekali!” kata Mina sambil merapikan riasan tipis di wajah Nari.
Jihun, yang mengenakan jas hitam sederhana, memutar bola matanya. “Kalian berdua terlalu lama. Kita akan terlambat!”
“Sebentar lagi, Jihun! Santai saja.” Mina menatap jam tangannya dan buru-buru merapikan gaunnya sendiri.
Akhirnya, mereka bertiga keluar dan naik taksi menuju lokasi pesta di Hotel Lotte, Myeongdong. Jalanan Seoul di malam hari selalu penuh dengan kehidupan—lampu neon menyala terang, toko-toko kosmetik dipenuhi pembeli, dan aroma makanan jalanan seperti tteokbokki dan odeng menyelimuti udara dingin.
---
Begitu tiba di Hotel Lotte, Nari langsung merasa canggung. Lobi hotel itu megah, dengan lampu gantung kristal besar yang memancarkan cahaya keemasan. Karpet merah membentang menuju ballroom utama, di mana pesta sedang berlangsung.
“Wow,” gumam Nari, kagum sekaligus merasa tidak pada tempatnya.
Mina menggandeng lengannya. “Tenang saja. Kau bersama kami.”
Di dalam ballroom, suasana penuh dengan tawa dan percakapan formal. Para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka, menciptakan pemandangan seperti dalam drama Korea. Meja-meja dihiasi bunga mawar putih dan lilin wangi, sementara pelayan hilir-mudik membawa nampan dengan gelas sampanye dan makanan kecil seperti jeon dan galbi skewers.
Nari merasa gugup, tetapi Mina dan Jihun tampak santai. Mereka segera bergabung dengan beberapa tamu lain, meninggalkan Nari yang berdiri di dekat meja hidangan. Ia mengambil segelas jus jeruk, mencoba menikmati suasana tanpa terlalu menarik perhatian.
Namun, saat ia mengangkat matanya, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Kim Taehyung.
Ia berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan hitam sempurna dengan dasi yang rapi. Rambutnya tertata dengan elegan, dan kehadirannya memancarkan aura karismatik yang sulit diabaikan.
Tapi yang membuat Nari tercekat adalah wanita di sebelahnya.
Wanita itu mengenakan gaun putih panjang yang berkilauan, rambutnya disanggul rapi. Ia tertawa kecil, meletakkan tangan di lengan Taehyung dengan santai. Dari pembicaraan sekitar, Nari menangkap bahwa wanita itu adalah Jiyeon, putri CEO Gyeong Group.
“Jadi, mereka pasangan?” pikir Nari, hatinya terasa aneh.
---
Nari mencoba mengalihkan perhatiannya dengan berjalan-jalan di sekitar ballroom, tetapi pikirannya terus kembali pada Taehyung dan Jiyeon. Ia tidak menyadari bahwa dirinya mendekati tangga yang menghubungkan ballroom ke lantai atas, di mana para tamu juga bercengkerama.
Saat Nari berbalik untuk kembali, langkahnya terpeleset di anak tangga yang licin. Ia kehilangan keseimbangan, tangannya menggapai udara.
Namun, sebelum ia terjatuh, sebuah tangan kuat menangkapnya.
“Lee Nari?”
Nari mendongak, dan matanya bertemu dengan tatapan tajam Taehyung. Jantungnya berdebar keras saat pria itu membantunya berdiri tegak.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Taehyung, nada suaranya penuh kekhawatiran.
Nari mengangguk, merasa wajahnya memerah. “Ya, terima kasih. Saya tidak melihat ada air di tangga.”
“Seharusnya kau lebih berhati-hati,” ujarnya. Tatapannya sejenak melunak, tetapi kemudian kembali serius.
“Saya akan lebih berhati-hati,” gumam Nari sambil menunduk.
“Kenapa kau ada di sini?” Taehyung bertanya, suaranya terdengar ingin tahu.
“Saya datang bersama teman,” jawab Nari singkat.
Taehyung mengangguk pelan. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara Jiyeon memanggilnya dari kejauhan.
“Taehyung, apa kau baik-baik saja?” Jiyeon berjalan mendekat, tatapannya jatuh pada Nari dengan rasa ingin tahu.
“Ya, aku hanya membantu seseorang,” jawab Taehyung, lalu memperkenalkan mereka. “Jiyeon, ini Lee Nari. Nari, ini Jiyeon, teman lama keluargaku.”
Nari tersenyum sopan, meskipun hatinya terasa aneh. “Senang bertemu dengan Anda.”
Jiyeon membalas dengan senyum kecil, tetapi ada sesuatu di tatapannya yang membuat Nari merasa kecil.
“Ayo, Taehyung. Banyak orang ingin berbicara denganmu,” ujar Jiyeon sambil menggandeng lengannya.
Taehyung menatap Nari sejenak sebelum mengikuti Jiyeon kembali ke keramaian.
Nari berdiri di sana, mencoba menenangkan dirinya. Tangannya masih terasa hangat di tempat Taehyung menyentuhnya, dan perasaan campur aduk memenuhi pikirannya.
---
Setelah insiden itu, Nari kembali bergabung dengan Mina dan Jihun. Mereka berbicara dan menikmati makanan ringan seperti hoddeok mini dan tteok-galbi.
Mina tampak senang dengan pesta itu, tetapi Jihun, yang lebih pendiam, hanya tersenyum tipis.
“Kenapa kau terlihat murung, Nari?” tanya Mina sambil menyesap anggurnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Nari. “Aku hanya lelah.”
Setelah pesta usai, mereka kembali ke apartemen dengan taksi. Jalanan Seoul yang tadinya ramai mulai lengang, tetapi lampu neon dan papan reklame tetap menyala terang, menciptakan suasana malam yang khas.
Nari duduk diam di dalam taksi, memandangi pemandangan luar. Hatinya masih dipenuhi dengan bayangan Taehyung dan Jiyeon.
“Aku hanya seorang pelayan kafe,” pikirnya. “Kenapa aku berharap lebih?”