Lee Nari, seorang gadis muda yang bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe, hidup dalam bayang-bayang hutang orangtuanya yang telah meninggal dua tahun lalu. Setiap hari, ia terjepit dalam beban utang yang tak kunjung selesai, membuatnya berjuang hany...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•
•
•
•
•
Hari itu terasa berbeda bagi Nari. Suasana di kantor Kim Corporation biasanya dipenuhi dengan ketegangan dan kecepatan pekerjaan yang tinggi. Namun, hari ini, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya merasa sedikit lebih bersemangat.
Sejak pagi, Taehyung, CEO muda yang tampan dan berwibawa, sudah memberi tahu Nari bahwa dia akan diajak untuk survei tempat, sebuah tugas yang sering dilakukan oleh manajer atau anggota tim senior. Nari merasa agak gugup, meski sudah cukup familiar dengan pekerjaan yang dihadapinya. Namun, kesempatan untuk bekerja lebih dekat dengan Taehyung—dan kesempatan untuk melihat sisi lain dari perusahaan ini—membuatnya merasa antusias sekaligus cemas.
---
Pagi itu, Nari mengenakan pakaian yang sedikit lebih rapi dari biasanya. Sebuah blazer hitam dengan kemeja putih di dalamnya, dipadu dengan celana panjang formal yang terlihat nyaman namun tetap profesional. Rambutnya yang biasanya terikat rapi, hari ini ia biarkan tergerai dengan sedikit gelombang, memberi kesan santai namun tetap sopan.
Saat memasuki ruangannya, Nari merasakan udara pagi yang segar dan penuh dengan semangat kerja. Seperti biasa, suasana kantor terasa sibuk dengan setiap orang yang sibuk mengejar deadline. Namun, bagi Nari, hari ini terasa berbeda. Ia harus melakukan survei tempat dengan Taehyung, yang langsung menjadi perhatian semua orang di perusahaan ini.
Saat melihat Taehyung yang baru saja keluar dari ruangannya, Nari berusaha untuk tetap tenang. Pria itu mengenakan jas abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, rambut hitamnya yang sedikit berantakan tampak sempurna seperti biasa. Senyumnya yang selalu mempesona membuat hati Nari sedikit berdebar.
“Ah, Nari-ssi, kamu siap?” Taehyung bertanya sambil menyentuh ponselnya yang berdering. Ia selalu tampak santai namun tetap profesional dalam setiap gerakannya.
“Siap, Taehyung-ssi,” jawab Nari, berusaha terdengar percaya diri meskipun dalam hatinya ia merasakan kegugupan.
Taehyung meliriknya sejenak dengan senyum tipis. “Ayo, kita pergi. Aku sudah mengatur segalanya.”
---
Mereka berdua melangkah keluar dari gedung Kim Corporation menuju mobil yang telah disiapkan. Nari, yang tidak terbiasa dengan perjalanan bisnis seperti ini, sedikit canggung saat memasuki mobil bersama Taehyung. Namun, suasana dalam mobil itu cukup tenang, hanya suara kendaraan yang melaju di jalanan Seoul yang terdengar.
“Tempat yang akan kita survei ini adalah salah satu proyek besar perusahaan. Kami berencana untuk mengembangkan pusat bisnis di daerah ini. Kamu akan membantu memastikan desain dan konsep brosur yang kita buat nantinya,” jelas Taehyung sambil memeriksa beberapa dokumen di ponselnya.
Nari mengangguk pelan, meskipun ia tahu bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang brosur. Ia menyadari bahwa proyek sebesar ini pasti membutuhkan lebih banyak perhatian, dan setiap detail akan sangat penting. “Saya akan melakukan yang terbaik, Taehyung-ssi,” katanya, berusaha terdengar lebih percaya diri.
Mobil melaju cepat melewati jalanan kota Seoul yang sibuk. Gedung-gedung tinggi dan keramaian kota berlalu dengan cepat, tetapi pemandangan luar kota mulai terlihat saat mereka meninggalkan pusat kota. Pohon-pohon yang hijau, ladang-ladang yang luas, dan bangunan baru yang sedang dibangun terlihat jelas di sepanjang jalan.
“Ada banyak perubahan di sekitar sini,” kata Taehyung sambil melihat keluar jendela.
“Benar,” jawab Nari, ikut memandang ke luar. “Tempat ini tampaknya akan menjadi pusat bisnis yang besar.”
Taehyung mengangguk, dan untuk sesaat, mereka berdua terdiam, menikmati pemandangan yang berlalu. Tak lama, mobil akhirnya berhenti di depan lokasi yang dimaksud.
---
[Lokasi Survei]
Ketika mereka turun dari mobil, Nari terkesima dengan pemandangan sekitar. Lokasi yang akan dibangun ini terletak di luar pusat kota, di kawasan yang cukup strategis namun masih dalam tahap pembangunan. Beberapa crane besar terlihat bergerak di atas tanah, dan beberapa pekerja sibuk dengan pekerjaan mereka. Gedung-gedung tinggi sudah mulai muncul di sekelilingnya, dan suasana tempat itu terasa penuh dengan potensi.
Tempat ini memang tidak terlalu ramai, tetapi energinya sangat terasa. Tak heran jika perusahaan sebesar Kim Corporation tertarik untuk mengembangkan pusat bisnis di sini. Nari bisa merasakan betapa besar harapan yang ditanamkan pada proyek ini.
“Ini adalah lokasi yang sangat potensial,” kata Taehyung, memecah keheningan. “Kami sudah membeli tanah ini beberapa bulan yang lalu dan sekarang saatnya untuk memulai pembangunan. Ini akan menjadi pusat bisnis terbesar yang pernah ada di Seoul.”
Nari mengangguk dan memandang sekeliling dengan seksama. “Saya bisa membayangkan bagaimana tempat ini akan berkembang. Ada banyak potensi di sini.”
Taehyung tersenyum, tampak puas dengan komentar Nari. “Kamu memiliki pandangan yang bagus, Nari-ssi. Itulah sebabnya aku mengajakmu ke sini—untuk memberikan pandanganmu tentang konsep brosur dan cara kita mempresentasikan proyek ini.”
Mereka berjalan menuju area yang lebih terbuka di mana beberapa model desain dan sketsa sudah dipajang. Ada beberapa maket gedung besar yang menunjukkan rencana pembangunan yang akan datang. Nari memeriksa desain yang sudah ada dengan cermat, mencoba menganalisis setiap detailnya.
“Menurutmu, apakah desain ini terlalu rumit?” tanya Taehyung sambil menunjukkan sebuah sketsa gedung yang tinggi dan futuristik. “Aku merasa ada sesuatu yang bisa kita perbaiki.”
Nari memeriksa desain tersebut, dan setelah beberapa saat berpikir, ia berkata, “Desain ini sangat modern, tapi mungkin bisa sedikit disederhanakan. Mungkin kita bisa menambahkan elemen alami yang lebih banyak—seperti taman atau area hijau. Ini akan memberikan kesan yang lebih ramah dan menarik bagi pengunjung.”
Taehyung mengangguk, terlihat puas dengan tanggapannya. “Aku setuju. Ini memang ide yang bagus. Nari-ssi, aku senang kamu bisa melihat hal-hal seperti ini.”
Nari merasa sedikit lega mendengar pujian itu. Ia tahu bahwa pekerjaan ini sangat penting, dan membuat kesan yang baik di hadapan Taehyung adalah hal yang sangat berharga baginya.
---
Setelah beberapa jam berkeliling dan memeriksa desain, akhirnya mereka selesai dengan survei tempat tersebut. Mereka kembali ke mobil untuk menuju kantor Kim Corporation. Nari merasa agak lelah, namun puas karena bisa ikut terlibat langsung dalam proyek besar ini.
Di perjalanan pulang, suasana dalam mobil kembali tenang. Nari tidak terlalu banyak bicara, dan Taehyung juga tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali memeriksa email atau dokumen yang perlu diperiksa.
Sesampainya di kantor, Taehyung menatap Nari sejenak sebelum keluar dari mobil. “Terima kasih sudah ikut survei hari ini, Nari-ssi. Aku merasa kamu memiliki pandangan yang sangat berharga. Aku yakin kamu akan sangat berkontribusi pada proyek ini.”
Nari merasa hatinya berdebar mendengar pujian itu. “Terima kasih, Taehyung-ssi. Saya akan berusaha yang terbaik.”