Bab 12: Perlindungan

5 3 0
                                    

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari itu terasa sangat panjang bagi Nari. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Kim Corporation, ia melangkah keluar dari kantor dengan perasaan lega. Matahari sudah terbenam, namun langit Seoul yang gelap tetap dipenuhi dengan kerlip lampu kota yang menyinari jalan-jalan yang sibuk. Ia menyelipkan tangannya ke dalam saku jaket, mencoba untuk melupakan semua yang terjadi selama hari itu. Ia merasa sedikit lebih dekat dengan Taehyung setelah pertemuan mereka sebelumnya, tetapi kehidupan nyata—dengan hutang yang terus menghantuinya—selalu siap untuk membawanya kembali ke kenyataan yang keras.

Nari sedang berjalan menuju halte bus ketika ia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang berat di belakangnya. Sebelum ia bisa menoleh, beberapa pria besar muncul di hadapannya. Salah satunya adalah Tuan Oh, pria yang selalu membuatnya takut. Dikenal sebagai pengusaha yang juga memiliki koneksi dengan orang-orang yang tidak bisa dianggap enteng, Tuan Oh adalah sosok yang memaksa Nari untuk meminjam uang beberapa bulan lalu. Hutang yang ia buat semakin menumpuk, dan kini waktu untuk membayar itu sudah tiba.

“Ah, Nari-ssi,” suara Tuan Oh terdengar begitu dingin, membuat Nari tercekat. "Sudah lama kita tidak bertemu, ya? Waktunya untuk membayar hutangmu."

Dia melangkah maju, dikelilingi oleh dua pria yang tampak seperti pengawal pribadinya, dengan tubuh besar dan tatapan tajam yang membuat Nari terdiam. Jantung Nari berdegup kencang, dan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia sudah berusaha untuk menghindar, namun kini tidak ada jalan keluar.

“A-aku... aku belum bisa membayar seluruhnya, Tuan Oh,” suara Nari bergetar. “Tolong beri aku waktu sedikit lagi...”

Tuan Oh mengerutkan keningnya, tampak semakin kesal. “Waktu? Kamu pikir aku bisa memberi kamu waktu selamanya, huh? Kamu sudah membuat janji untuk membayar dalam waktu dua bulan, tapi sekarang bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa kamu berniat melunasinya. Kau ingin aku menunggumu lagi?”

Suasana di sekitar mereka semakin tegang. Nari merasa terpojok. Para pengawal Tuan Oh berdiri dengan tatapan mengancam, dan ia tahu kalau ini adalah saat yang sangat berbahaya baginya. Tidak ada cara untuk melarikan diri.

Salah satu pengawal Tuan Oh mendekat dan menatap Nari dengan dingin. “Kamu pikir kami main-main, ya? Kau tahu apa yang terjadi kalau orang seperti kami merasa dipermainkan.”

Nari merasakan tubuhnya bergetar ketakutan. Ia ingin meminta maaf lagi, tapi mulutnya terasa kering. Semua usaha yang ia lakukan untuk melunasi hutangnya seperti sia-sia. Ia tidak tahu bagaimana lagi bisa membayar.

Namun, sebelum kata-kata kasar itu terlontar, sebuah suara familiar memecah ketegangan di udara. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”

Semua mata langsung tertuju pada sosok yang baru datang. Taehyung, dengan tubuh tinggi tegapnya, mengenakan jas hitam yang rapi, berdiri dengan tatapan tajam yang menakutkan. Mata Nari terbelalak, dan rasa lega seketika mengalir ke dalam tubuhnya.

Tuan Oh menatap Taehyung dengan ragu, kemudian tersenyum sinis. “Oh, jadi ini CEO Kim Corporation yang terkenal? Apa yang bisa kamu lakukan untuk kami, ya?”

“Cukup dengan pergi dari sini,” jawab Taehyung dengan suara yang dalam dan penuh kekuatan. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suaranya. “Nari tidak berutang pada kalian. Jangan ganggu dia lagi.”

Tuan Oh tertawa kecil, meskipun wajahnya mulai memerah. “Kamu pikir kamu bisa melindungi gadis ini, Taehyung-ssi? Kau tahu siapa aku, kan? Aku bisa membuat masalah besar bagi perusahaanmu.”

Namun, Taehyung tidak gentar. Dengan langkah tegas, dia mendekat, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti tebing yang kokoh, tidak bisa digoyahkan. “Jika kamu tidak mau pergi dengan cara baik-baik, aku akan membuat masalah bagi kamu. Aku tidak takut dengan ancamanmu, Tuan Oh.”

Nari merasa kaget, tetapi juga sangat bersyukur. Ia tidak tahu apa yang membuat Taehyung begitu yakin dan tenang dalam menghadapi Tuan Oh. Namun, keberanian Taehyung membuat semuanya terasa sedikit lebih aman.

Beberapa detik berlalu dengan hening, dan akhirnya, Tuan Oh menarik napas panjang, seolah mempertimbangkan segala sesuatu yang mungkin bisa menguntungkan dirinya. “Baiklah, kali ini aku akan memberi kamu kesempatan,” kata Tuan Oh, masih dengan senyum sinis di wajahnya. “Tapi ingat, Nari-ssi, hutang itu tidak akan hilang begitu saja. Kamu belum selesai. Kau akan mendengarkan aku lagi.”

Dengan itu, Tuan Oh dan kedua pengawalnya berjalan pergi, meninggalkan Nari dan Taehyung yang kini berdiri di tengah jalan.

---

Setelah kejadian tersebut, kehidupan Nari terasa lebih berat dari sebelumnya. Meski ia berterima kasih kepada Taehyung, kekhawatiran tentang hutangnya tetap menghantuinya. Namun, yang lebih buruk adalah apa yang terjadi selanjutnya. Seperti yang sudah diperkirakan, gosip tentang hutang Nari dan interaksinya dengan Tuan Oh segera menyebar di kantor Kim Corporation.

Beberapa rekan kerja di kantor, yang tampaknya selalu tahu apa yang terjadi di sekitar mereka, mulai membicarakan Nari dengan nada yang sinis. “Dengar-dengar Nari punya hutang banyak. Pantas saja dia sering terlihat stres.”

“Apa? Hutang? Itu kenapa dia begitu takut dengan Tuan Oh tadi?” seseorang berbisik dengan penasaran.

Nari berusaha untuk tidak mendengarkan gosip tersebut, meskipun hatinya merasa sakit. Ia sudah berjuang keras untuk menutupi masalah keuangannya, namun kini semuanya terbuka lebar di depan orang-orang yang mungkin tidak akan pernah mengerti. Setiap bisikan yang ia dengar terasa semakin menambah beban di pundaknya.

---

Pada malam itu, Nari pulang lebih larut dari biasanya. Tubuhnya terasa lelah, dan pikirannya kacau. Setelah kejadian dengan Tuan Oh, ia merasa rapuh. Semuanya terasa seperti begitu banyak beban yang menindihnya.

Saat ia duduk di kamar, air mata mulai mengalir. Semua rasa takut, frustasi, dan kesedihan yang ia simpan dalam hati keluar begitu saja. Ia merasa seolah tak ada lagi jalan keluar. Ekonomi yang sulit, hutang yang terus menumpuk, dan kenyataan bahwa ia tidak mampu mengubah apapun membuatnya merasa putus asa.

Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ketika pintu terbuka, Taehyung muncul di ambang pintu dengan ekspresi serius di wajahnya. Ia bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Nari-ssi, kamu baik-baik saja?” tanya Taehyung dengan lembut, matanya penuh perhatian.

Nari hanya bisa menggelengkan kepala pelan, air matanya semakin deras. Tanpa berkata-kata, Taehyung mendekat dan duduk di sebelah Nari, menariknya ke dalam pelukan hangatnya.

“Jangan menangis, Nari. Kamu tidak sendiri,” bisiknya dengan lembut. “Aku ada di sini. Kamu bisa bercerita padaku.”

Nari yang merasa terlalu rapuh untuk menahan semuanya, akhirnya menangis dalam pelukan Taehyung. Semua ketakutan dan kesedihan yang selama ini ia sembunyikan keluar begitu saja. Ia merasa sangat kecil dan lemah, tetapi saat itu, di dalam pelukan Taehyung, ada sedikit kenyamanan yang membuatnya merasa tidak sendirian.

“Semua ini terlalu berat,” Nari berkata dengan suara serak. “Aku tidak tahu bagaimana lagi harus bertahan.”

Taehyung memeluknya lebih erat. “Kamu akan melalui ini. Aku akan membantumu. Tidak ada yang perlu kamu hadapi sendirian.”

Itulah saat Nari merasa ada sedikit harapan. Meskipun dunia terasa berat dan gelap, setidaknya ada seseorang yang peduli. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa sedikit lebih ringan, meskipun masalahnya belum selesai.

To Be Continued!

Please Marry Me Mr.Kim!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang