Chapter Fifteen: Loyal - 4

150 31 5
                                    

Yerim berdecih kesal ketika dia akhirnya menyesali keputusannya sendiri. Dia salah karena kembali melibatkan diri pada Choi Bomin. Hanya beberapa menit bersamanya, dia merasa kepanasan. Tidak ada air yang bisa diminum, hanya minuman keras yang disediakan. Dia mengambil banyak resiko untuk mengisi gelasnya sendiri, namun dia tak punya banyak pilihan. Bottoms up, seluruh gelas dikosongkannya.

Untuk bertahan hidup melawan hewan buas, dia harus terlihat kuat.

"Tentu saja aku serius." Yerim tertawa sangat keras, "apa menurutmu aku memutuskanmu hanya untuk sandiwara? Sejak awal hubungan kita hanya untuk pertunjukkan. Sekarang itu sudah berakhir."

"Kau tidur dengan Hyunjin?"

"Itu bukan urusanmu,"

"So you did." Mata pemuda itu memincing di balik kacamatanya. "That's where you got the money from."

"Aku sudah memberitahumu kalau aku berjudi."

"Kau pikir aku percaya?"

"Bukan urusanku kau percaya atau tidak."

"Kau pasti sangat bangga setelah bisa memeras banyak uang dari Hyunjin, kan? Jangan besar kepala dulu."

Yerim merasa tidak nyaman berada di dalam ruangan yang sama dengan orang segila Bomin. Dia menyesal karena sudah mengabulkan permintaannya untuk bertemu. "Kalau kau hanya akan membicarakan itu saja, aku akan pergi."

"Aku akan beritahu Hyunjin tentang tujuanmu."

"Tujuanku? Tujuan apa?"

"Kau sebenarnya mengincar kakaknya, kan? Karena itu kau dekati adiknya yang bodoh."

"Oppa, apa kau cemburu karena aku sekarang bersama temanmu? Harga dirimu hancur karena sekali lagi kau kalah karena kekayaannya?"

Pelatuk telah ditarik, dengan persiapan yang seadanya, seekor mangsa hanya bisa memberikan sedikit perlawanan saat si binatang menyerang. Yerim merasa dirinya sesak ketika lehernya dicekik. Seketika seluruh ruang geraknya terinvasi. Dia sempat menahan sedikit jemari pemuda itu agar tak mematahkan lehernya, tetapi dia tak tahu bisa bertahan berapa lama.

"Kau bersikap sangat menyebalkan. Kau pikir Hyunjin akan menolongmu?"

Napas terasa cekat, gadis itu merasa kepalanya berputar hebat. Matanya gemetar, namun tidak bisa menatap ke arah lain kecuali netra menyala Bomin. Sebuah deja vu, dia seperti pernah mengalami ini.

Namun tak seperti yang sebelumnya, dia tidak takut. "Tidak cukup jadi pecundang ... sekarang kau mau jadi kriminal?"

Pemilihan kata yang tajam membuat cekikan semakin menyakitkan. Dengan kekuatan yang tersisa, gadis itu mendapatkan jalan keluar. Dia menunjuk ke arah kamera yang selalu ada di ruangan itu, ruang siaran Baron.

"Aku menyalakan—"

Tepat sasaran! Bomin langsung panik dan melepaskan genggamannya dari Yerim. Dia berlari menuju kamera yang disebut menyala, seketika gemetar karena takut perilakunya tadi dilihat pengikutnya.

Nyatanya itu hanya gertakan. Begitu Yerim berhasil melepaskan diri, dia segera kabur. Hal pertama yang dia lakukan begitu berhasil menjauh adalah mengambil ponsel dan menyalakan mode merekam pada kameranya.

Bomin yang panik menemukan bahwa dia telah dibohongi. Dia tentu tidak senang. Dia justru makin naik pitam. Tetapi kakinya lengket di tempat ia berdiri saat dia sadar kalau dirinya tengah direkam dengan ponsel.

"Kenapa? Kau mau menyakitiku lagi?" Dengan suara yang parau, Yerim mengarahkan ponselnya untuk merekam dengan jelas wajah Choi Bomin. "Choi Bomin ... atau yang lebih terkenal sebagai Baron, kau mau menyakitiku lagi?"

THE GAMBLER 2: Big League🔞 | TXT & EN-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang