𝑰𝒏𝒕𝒆𝒓𝒍𝒖𝒅𝒆 -𝟖- 𝑩𝒊𝒓𝒅 𝒊𝒏 𝑪𝒂𝒈𝒆

92 13 3
                                    


***



***



***


Musim panas terasa sudah mendatangi sebagian atmosfer Syca, dengan terik matahari di pagi hari begitu menyilaukan mata. Tiba-tiba setengah tahun sudah berlalu, dan Lucas Archer masih di sini, di dunia ini.

Mungkin Dewi Viada memang mengasihaninya, membiarkannya hidup. Atau juga berkat panjatan doa Saintess Vivienne tiap pagi, memohon penyembuhan dan umur panjang untuknya. Lucas masih belum tahu harus bagaimana jika ia memang berumur panjang. Berbeda dengan keyakinan teguh ibundanya yang telah mempersiapkan segala hal untuk masa depan, Lucas merasa pesimis semenjak menyadari bagaimana keadaan aslinya lima tahun silam, karena tak sengaja tahu. Lebih tepatnya ia menyiapkan diri kalau umurnya memang ditakdirkan tak akan melangkahi dua puluh. Dan akhir tahun ini ia mencapai batas maksimal. Membuatnya terpikirkan, bagaimana ia akan mati nanti?

Apakah di dalam tidurnya seperti beberapa minggu yang lalu dengan sunyi tanpa sakit karena mati rasa? Ia sangat harap begitu. Dan bagaimana kematian menjemputnya nanti? Lalu kapan? Apakah tepat di pergantian hari lahirnya? Atau malahan tak sampai hari, jam, menit, maupun detik itu juga? Seperti yang diperkirakan para tabib. Atau seharusnya beberapa minggu yang lalu itu adalah takdirnya? Namun, karena berkat lantunan doa Saintess, ia masih diberi kesempatan meskipun entah sampai kapan.

Lucas serasa berjalan melewati jembatan hidup berpegangan pada tali detik ke detik dengan jurang dalam di bawahnya.

Suara pintu terbuka kembali, membuyarkan lamunan Sang Putra Mahkota Syca. Bibirnya melengkung lebar begitu melihat sosok yang hadir.

"Bukankah hari ini hari bersantai-mu?" tanyanya dengan seringaian meledek terlempar ke arah kakak sepupunya.

Louis tak langsung menjawab, berjalan masuk setelah menutup pintu.

"Aku ke sini hanya-"

"Untuk menjengukkku lagi?"

Sipitan mata tajam dari lelaki yang lebih tua darinya itu tak melunturkan senyum miring Lucas. Malahan dengan tanpa sungkan matanya mengikuti figur itu sampai kini duduk menyilangkan kaki nyaman di sofa seberang.

"Sudah berapa kali kau ke sini tanpa perlu disuruh?"

Tapi masih tak ada tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaannya tersebut, diabaikan.

"Aku hanya ingin menyampaikan kalau Count Maynard sudah bisa mengajarimu kenegaraan kembali kalau kau juga sudah siap. Kebetulan kemarin kami sempat bertemu."

"Benarkah? Hanya untuk itu kedatanganmu pagi-pagi ini?" goda Lucas polos masih tak ingin beralih topik. Jarang-jarang ia punya kesempatan langka seperti ini kepada seorang Louis Archer yang begitu apatis dengan sekitar.

"Untuk apa lagi memang?" Balik tanya sepupunya datar.

Lucas mengangkat kedua pundaknya,

"Entah, melihat orang lain mungkin?"

"Siapa?"

"Wanita dengan rambut hitam?" balas Lucas dengan nada melambat mengeja.

"Ada banyak wanita dengan rambut hitam di sini,"

"Tapi yang punya mata abu-abu seperti milik Saintess Vivienne jarang," sahut si Putra Mahkota, serta merta memberikan nama yang dimaksud sedari tadi. Dan sepupunya diam hanya memandang.

The Saintess' EscapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang