Caramela • Part 9

141 43 1
                                    

halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!

⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIR

happy reading!
•••

Caramela melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati berat. Napasnya masih sedikit tersengal, tubuhnya terasa lelah setelah menangis begitu banyak.

Laura baru saja pergi setelah mengantarnya pulang, dan sekarang ia harus menghadapi hal yang lebih menakutkan.

Begitu melewati halaman rumah, matanya langsung menangkap sesuatu - mobil Elvio.

Pria itu sudah pulang.

Caramela mencoba menenangkan diri. Ia berharap Elvio sudah tidur atau mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi harapannya hancur begitu saja saat ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Di ruang santai, Elvio duduk dengan kaki dilipat satu, sikunya bertumpu di pinggiran sofa, wajahnya datar, tetapi rahangnya mengeras menahan amarah.

Pria itu sedang menunggunya.

Caramela langsung menegang. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.

Elvio mengangkat pandangannya, menatap Caramela tajam. "Dari mana?" suaranya rendah, namun begitu menekan.

Caramela menggigit bibirnya, mencoba mencari alasan. Tapi otaknya kosong. Dia tahu.

"Aku… aku abis main sama Laura, Om."

Elvio menyipitkan mata. "Sampe malem?" Ia berdiri perlahan, tubuhnya menjulang lebih tinggi darinya. "Dan kenapa handphone kamu gak aktif?"

Caramela menelan ludah, mundur setengah langkah. Jantungnya berdetak begitu keras.

Elvio berjalan mendekat, suaranya lebih dingin. "Jangan coba-coba bohongin Om, Caramela."

Caramela mengepalkan tangannya, mencoba menenangkan ketakutannya.

"Aku beneran main sama Laura,"  katanya, berusaha terdengar meyakinkan. "Aku sama Laura pergi ke tempat suatu tempat,"

Elvio menatapnya tajam, seakan mencoba menembus kebohongannya. Rahangnya mengeras, ekspresinya semakin dingin.

"Tempat apa?"

Caramela berusaha berpikir cepat. "Tempat… café baru yang lagi viral. Abis itu jalan-jalan keliling kota, terus udah deh, pulang."

Tatapan Elvio semakin menusuk.
"Kamu yakin?"

"Ya," jawab Caramela cepat. Terlalu cepat.

Keheningan menggantung di antara mereka.

Elvio kembali mendekat, dan Caramela semakin mundur. Ia tidak bisa berada terlalu dekat dengan pria itu sekarang.

Elvio mendesah, lalu mengusap wajahnya, tampak mencoba menahan amarah. "Oke, kalau gitu."

Caramela hampir menghela napas lega. Tapi sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, suara Elvio kembali terdengar.

"Kalau kamu emang cuma pergi jalan-jalan… kenapa muka kamu keliatan kayak orang yang abis nangis?"

Jantung Caramela mencelos.

Sial.

Ia lupa wajahnya pasti masih terlihat berantakan. Matanya mungkin masih sembab karena menangis sepanjang perjalanan pulang.

"Aku abis nonton drama pas jalan pulang," katanya cepat, menghindari tatapan Elvio. "Udah kan, Om? Aku ke kamar ya, mau istirahat,"

Tanpa menunggu jawaban, Caramela berbalik dan langsung berlari ke kamarnya.

Begitu pintu tertutup, Caramela langsung mengunci dirinya di dalam kamar. Tubuhnya bersandar di pintu, tangannya gemetar.

Om Elvio gak boleh tau soal ini. Cukup Laura aja yang tau rahasiaku.

Di luar, Elvio masih berdiri di tempatnya. Dia tidak mengetuk pintu, tidak memaksa masuk. Tapi Caramela tahu - pria itu pasti belum percaya sepenuhnya.

Dan itu berarti… ia harus lebih berhati-hati mulai sekarang.

•••
don't forget to vote n comment ‼️

Caramela (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang