Caramela • Part 20

144 42 2
                                    

halooo! selamat datang di cerita CARAMELA versi terbaru!

⚠️ WARNING ⚠️
PLAGIAT DILARANG MAMPIR

happy reading!
•••

Malam menyelimuti halaman samping rumah Caramela, menyisakan cahaya lampu taman yang temaram.

Angin dingin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di permukaan tanah.

Caramela berdiri di tepi jendela kamarnya, memandangi taman kecil yang biasanya memberinya ketenangan.

Tapi malam ini, pikirannya tak bisa tenang. Sosok laki-laki yang bersama Gisella tadi siang kembali mengusik pikirannya.

Ia menutup mata, membiarkan aroma malam membelai wajahnya. Namun, yang tercium olehnya bukan hanya udara dingin dan embusan angin.

Ingatannya menyeretnya kembali ke malam mengerikan itu. Ke wangi parfum yang begitu kuat.

Parfum itu...

Hidungnya masih bisa mengingatnya dengan jelas. Wangi tajam, maskulin, bercampur aroma tembakau samar yang membekas di ingatannya.

Dan siang tadi, ketika laki-laki itu lewat di dekatnya, aroma itu kembali menyerangnya tanpa peringatan.

Jantung Caramela berdegup kencang. Apakah mungkin dia?

Ia menggigit bibir, mencoba menenangkan diri. Tidak. Yang memakai parfum itu bukan hanya satu orang. Bisa saja ini hanya kebetulan. Bisa saja pikirannya terlalu dipenuhi ketakutan hingga ia mulai mencurigai orang lain.

Tapi tetap saja...

Matanya kembali menatap taman kecil yang hening. Angin kembali berembus, menggoyangkan ranting pohon, menciptakan bayangan-bayangan samar di tanah.

Caramela menelan ludah. Jika benar dia... maka laki-laki itu masih ada di sekitarnya. Masih hidup normal tanpa rasa bersalah, sementara dirinya terus dihantui mimpi buruk.

Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mengusir dingin yang tiba-tiba terasa menusuk.

Apakah ini hanya perasaannya saja, ataukah semesta sedang mencoba memberi peringatan?

Ketukan pelan terdengar dari pintu kamar, memecah keheningan yang menyelimuti Caramela. Ia tersentak dari lamunannya, masih dengan debaran jantung yang belum sepenuhnya tenang.

"Non Mel, ayo makan malam. Yang lain udah nunggu," suara lembut Tuti terdengar dari balik pintu.

Caramela mengembuskan napas kasar, mencoba mengusir kegelisahan yang masih menghantuinya. Ia melirik sekali lagi ke arah taman kecil di luar jendela, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu dan membukanya.

"Iya, Mbok. Aku turun sekarang," ucapnya, berusaha terdengar biasa.

Tuti tersenyum kecil sebelum berbalik, membiarkan Caramela menyusulnya ke ruang makan.

Saat tiba di meja makan, Liliana sudah duduk dengan anggun, sementara Williams tampak sibuk menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Dan Elvio, duduk dengan santai, memainkan sendok di tangannya sambil menunggu makanan dihidangkan.

"Kamu lama banget sayang," komentar Liliana dengan nada lembut, meski matanya mengamati Caramela dengan teliti.

"Maaf Mah," jawab Caramela singkat sambil duduk di tempat duduknya tanpa banyak bicara.

Caramela baru saja menyendok sup ke mulutnya ketika Liliana membuka suara.

"Besok pagi Mamah dan Papah mulai perjalanan bisnis lagi." kata Liliana sambil meletakkan sendoknya. "Maaf ya sayang, kalau kami jarang pulang dan jarang ada waktu buat kamu,"

"Tapi kamu gak bakal ngerasa kesepian, princess. Karena Elvio ada di sini untuk jaga dan ngawasin kamu." tambah Williams.

Mendengar kata "mengawasi," tangan Caramela yang memegang sendok langsung menegang. Jantungnya berdebar lebih cepat.

Mengawasi?

•••
don't forget to vote n comment ‼️

Caramela (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang