5. TIGA TITIK YANG MENYATU

14 4 0
                                    

Matahari terbenam dengan lembut di balik pegunungan, meninggalkan warna jingga yang melukis langit. Kawaki berdiri di tengah lapangan olahraga, menatap ke kejauhan, merasa kosong meskipun langit begitu indah. Rasanya seperti dunia di sekitarnya berputar terlalu cepat, dan ia hanya terjebak di antara dua titik, berusaha mencari tempat di mana ia bisa berdiri tanpa jatuh.

Hari itu adalah hari yang berbeda. Sumire mengundangnya untuk datang ke festival sekolah, sebuah acara tahunan yang selalu menjadi sorotan semua orang. Meskipun Kawaki tidak tertarik, ada sesuatu dalam tatapan Sumire yang membuatnya merasa ia harus datang. Mungkin hanya untuknya, atau mungkin untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih bisa berhubungan dengan orang lain.

Namun, seperti yang selalu terjadi, ada Eida.

Dari kejauhan, Kawaki melihat Eida sedang berbicara dengan teman-temannya, tawanya mengalun lembut di udara, membuat semua orang yang ada di sekitarnya terpesona. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Eida adalah pusat perhatian. Namun, ada sesuatu dalam sikapnya yang membuat Kawaki merasa tidak nyaman—entah itu karena ketajaman matanya, atau mungkin karena ia tidak tahu apa yang Eida inginkan darinya.

Sumire muncul dari balik kerumunan, mengenakan kimono biru muda yang membuatnya tampak seperti bintang yang jatuh dari langit. Senyumnya, seperti biasa, memancar kehangatan yang menyentuh hati Kawaki.

"Kawaki-kun!" panggil Sumire dengan ceria, matanya bersinar. "Kau datang juga?"

Kawaki mengangguk pelan, meskipun hatinya bergejolak. Ia merasa terperangkap di antara dua dunia yang sangat berbeda—Sumire dengan kelembutannya, dan Eida dengan tantangannya.

"Saya tidak ingin melewatkan kesempatan," jawab Kawaki, suaranya agak datar.

Sumire tertawa kecil, tampak sedikit lebih rileks. "Aku senang. Ada banyak hal yang bisa kita nikmati di sini!"

Tetapi, sebelum mereka bisa berbicara lebih lanjut, Eida muncul di samping mereka, tiba-tiba dan tanpa peringatan.

"Kawaki," kata Eida dengan senyum lebar, matanya menatap Kawaki tajam, seolah-olah menantangnya untuk mengatakan sesuatu. "Kau akhirnya datang juga."

Sumire melirik Eida, ada sedikit kekhawatiran di matanya, tetapi ia mencoba untuk tetap tersenyum. "Eida-san, kau juga datang?"

Eida mengangguk, tetap tersenyum, tetapi senyumnya terasa seperti sebuah permainan yang sedang dimulai. "Tentu. Aku tidak bisa melewatkan festival ini. Lagipula, aku ingin melihat apakah Kawaki benar-benar bisa bersenang-senang."

Kawaki merasakan ketegangan yang muncul di antara mereka berdua, meskipun mereka berusaha tersenyum. Suasana di sekitarnya tampaknya berputar lebih cepat, dan ia merasa seperti berada di tengah badai tanpa bisa memilih arah angin.

"Bagaimana kalau kita semua menikmati festival ini bersama?" ajak Sumire, mencoba mencairkan suasana. "Ada banyak permainan, makanan, dan tentu saja—kembang api nanti malam!"

Kawaki menatap Sumire, merasa sedikit terharu. Gadis itu selalu berusaha membuat semuanya terlihat lebih sederhana, lebih bahagia. Tetapi hatinya tetap terombang-ambing, terjebak di antara dua pilihan yang terasa semakin berat.

"Ya, itu terdengar bagus," jawab Kawaki, meskipun kata-katanya terdengar lebih seperti kewajiban daripada keinginan.

Eida hanya tersenyum, namun tatapannya tak pernah lepas dari Kawaki. "Jika itu yang kau inginkan," katanya, suaranya penuh teka-teki, "Aku tidak akan menolaknya."

---

Malam tiba, dan langit yang gelap dihiasi oleh bintang-bintang yang mulai bermunculan. Di tengah keramaian festival, Kawaki berjalan di samping Sumire, sementara Eida sedikit di belakang mereka, seolah mengawasi setiap gerakannya.

Sumire tampak menikmati setiap detik, tertawa kecil saat mencoba permainan ketapel dan menikmati makanan yang dijajakan di sekitar festival. Kawaki merasa sedikit lebih tenang saat melihatnya tersenyum. Namun, perasaan itu hanya sesaat, karena Eida muncul di sampingnya lagi, mengalihkan perhatian.

"Sumire benar-benar bahagia, ya?" kata Eida sambil menatap Sumire yang sedang berbicara dengan beberapa teman. "Tapi kau tahu, Kawaki, kebahagiaan semudah itu bisa hilang."

Kawaki menoleh dengan cepat, menatap Eida yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada dingin.

Eida mengangkat bahu, senyum di wajahnya seolah tidak pernah lepas. "Hanya saja, kadang-kadang orang yang kita sayangi bisa pergi begitu saja. Tanpa peringatan."

Kawaki merasa jantungnya berdegup lebih kencang, tapi ia mencoba menyembunyikan perasaannya. "Aku tidak membutuhkan peringatan dari siapa pun."

Eida tertawa kecil, tetapi ada kepedihan yang tersembunyi dalam tawa itu. "Tentu saja. Kau selalu berusaha keras untuk tidak peduli."

Malam semakin larut, dan kembang api mulai meledak di langit, menerangi wajah mereka dengan cahaya berwarna-warni. Kawaki menatap ke atas, merasa terperangkap dalam kerumunan, di antara dua titik yang semakin menjauh.

Sumire tersenyum lebar saat kembang api meledak, tetapi saat ia menoleh, ia melihat tatapan Kawaki yang kosong. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati pria itu, tetapi ia bisa merasakannya. Perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Dan di tengah kembang api yang menerangi langit malam, Kawaki sadar bahwa ia tidak bisa terus mengabaikan perasaannya. Ia harus memilih. Tapi memilih itu tidak pernah mudah.

Dan di langit senja yang penuh warna itu, tiga titik berjarak, masing-masing dengan harapan, impian, dan luka yang belum terungkap.





------------------------------------------------------------





Jangan lupa di votee dan komen yaa teman teman. Sampai ketemu di bab selanjutnya 👋👋

Tiga Titik di Langit SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang