11. JEJAK LANGKAH YANG TERSISA

10 2 0
                                    

Langit senja kini bukan lagi sekadar latar belakang yang indah bagi cerita mereka. Langit itu, yang sering kali dipenuhi dengan warna merah dan jingga yang memukau, kini menjadi simbol dari perjalanan yang penuh dengan pilihan, perasaan yang tak terungkapkan, dan kenangan yang mulai memudar. Kawaki merasakan perubahan itu dalam dirinya, seperti ada sesuatu yang berputar di dalam hatinya—sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, tetapi begitu nyata.

Hari-hari berlalu, dan meskipun Kawaki sudah memilih Sumire, bayangan Eida tetap mengganggu pikiran dan perasaannya. Eida, yang telah memberikan ruang untuknya meskipun hatinya terluka, telah memilih untuk mengasingkan diri dari kehidupan Kawaki. Perasaan itu, yang semula begitu dekat dan kuat, kini terasa seperti memori yang tersisa di langit senja yang perlahan menghilang.

Pada suatu sore, setelah latihan bersama tim, Kawaki berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi. Ia merasakan perasaan yang penuh dengan ketidakpastian. Keputusan yang ia ambil, meskipun terlihat jelas pada awalnya, ternyata meninggalkan ruang kosong yang semakin terasa. Kawaki tahu, meskipun Sumire selalu mendukungnya, ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang masih ada untuk Eida.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Di ujung koridor, ia melihat sosok yang sudah lama tidak ia temui—Eida. Gadis itu berdiri dengan wajah yang tidak bisa dibaca, tangan terlipat di depan dada, seolah-olah sedang menunggu sesuatu yang tak bisa diungkapkan.

Kawaki menelan ludah, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Eida," katanya pelan, suaranya terasa berat. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Eida tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kawaki dengan mata yang tenang, seperti memeriksa setiap inci dari wajahnya, seolah ada yang hilang dari dirinya. "Aku datang untuk berbicara," jawab Eida akhirnya, suaranya tidak terdengar marah, tetapi seperti ada keheningan yang mendalam di baliknya. "Aku tahu kamu merasa bingung, Kawaki. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal."

Kawaki merasa hatinya berdebar. "Apa itu?" tanyanya, berharap Eida tidak akan mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya semakin terjerat dalam kebingungannya.

Eida menghela napas, seolah berpikir sejenak. "Aku sudah menerima kenyataan. Aku tahu kita tidak bisa bersama. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaanmu." Ia menatap Kawaki dengan tatapan yang lembut, meskipun ada kesedihan yang tersembunyi. "Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah menyesal, Kawaki. Karena meskipun aku tidak dipilih, aku merasa telah menjalani bagian dari hidupku yang berharga."

Kawaki merasa ada sesuatu yang menusuk di dalam hatinya mendengar kata-kata itu. Ia tahu Eida berusaha keras untuk melepaskannya, tetapi ada kekuatan dalam kata-kata itu yang seolah mengungkapkan sebuah perasaan yang mendalam. "Eida, aku—" Kawaki tidak tahu harus berkata apa. "Aku tidak tahu bagaimana bisa membalas semua yang telah kamu lakukan untukku."

Eida tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang ada di matanya. "Kawaki, jangan berpikir terlalu keras. Hidup ini terlalu singkat untuk dibebani dengan rasa bersalah. Aku hanya ingin kamu bahagia. Itu sudah cukup untukku."

Kawaki terdiam, merasa ada perasaan yang begitu berat yang terus menghantui dirinya. Ia tahu bahwa meskipun ia memilih Sumire, ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang pernah ia rasakan untuk Eida. Tetapi, pada saat yang sama, ia tidak bisa memungkiri bahwa Sumire telah memberinya sesuatu yang berbeda—sesuatu yang membuat hatinya lebih tenang.

"Eida, aku... aku akan mencoba untuk tidak terlalu memikirkan masa lalu," Kawaki akhirnya berkata, mencoba untuk memutuskan rantai kebingungannya. "Aku tahu aku sudah memilih Sumire. Aku hanya berharap kamu bisa menemukan kebahagiaan yang kamu cari."

Eida hanya mengangguk, meskipun ada rasa pilu yang tersisa. "Aku akan menemukan jalanku, Kawaki. Aku tidak akan kembali ke masa lalu. Tapi kamu juga harus melangkah maju, jangan biarkan dirimu terjebak dalam kebingungan."

Dengan itu, Eida berbalik dan meninggalkan Kawaki yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Dalam langkah Eida yang semakin menjauh, Kawaki merasa seperti ada yang hilang. Namun, ia tahu bahwa ia harus mengakhiri bab itu dan membuka lembaran baru.

---

Beberapa hari kemudian, Kawaki duduk bersama Sumire di taman sekolah, menikmati senja yang mulai menyelimuti langit dengan warna-warna keemasan yang menenangkan. Mereka duduk bersebelahan, tidak banyak berbicara, tetapi kehadiran mereka sudah cukup untuk memberikan kenyamanan yang dibutuhkan.

Sumire memandang Kawaki dengan senyum yang tulus, meskipun ada keheningan di antara mereka. "Kawaki-kun, aku tahu ini tidak mudah. Tetapi aku senang kita bisa berbicara tentang semuanya."

Kawaki mengangguk, matanya menatap ke langit senja yang indah. "Sumire, aku ingin kita bisa terus bersama, meskipun semuanya terasa rumit."

Sumire tersenyum lembut, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Kawaki. "Aku tahu kamu masih merasa bingung, Kawaki-kun. Tetapi aku akan selalu ada di sisimu. Kita bisa berjalan bersama melewati semuanya."

Kawaki menggenggam tangan Sumire dengan lembut, merasa sedikit lebih lega. "Terima kasih, Sumire. Aku... aku merasa sangat beruntung memiliki kamu."

Sumire hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi, karena tidak ada yang perlu diucapkan. Mereka berdua duduk dalam keheningan, menikmati momen yang ada, meskipun langit senja yang indah itu perlahan-lahan mulai gelap.

Namun, dalam kedamaian itu, Kawaki tahu satu hal: meskipun ia tidak bisa melupakan masa lalu, ia harus melanjutkan hidupnya bersama Sumire. Itu adalah pilihan yang sudah ia buat, dan ia berharap keputusan itu akan membawanya ke kebahagiaan yang selama ini ia cari.

Di langit senja yang perlahan memudar, ada tiga titik yang bersinar, masing-masing mewakili perasaan yang tak terucapkan, keputusan yang telah diambil, dan harapan yang tak pernah padam. Kawaki tahu, meskipun perjalanan mereka penuh dengan ketidakpastian, langit senja selalu memberi kesempatan bagi mereka untuk melangkah maju, meskipun ada jejak langkah yang tersisa di belakang.





------------------------------------------------------------





Jangan lupa di votee dan komen yaa teman teman. Sampai ketemu di bab selanjutnya 👋👋

Tiga Titik di Langit SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang